Ketika beasiswaku dibekukan, aku berhenti merasa takut.
Bukan karena aku menjadi berani secara ajaib. Aku hanya kehabisan hal yang bisa diancamkan. Nama ayah sudah dibuka lagi. Pak Arga diskors. Foto dan dokumen palsu tersebar. Jika aku tetap diam, aku kehilangan semuanya tanpa pernah mencoba.
Bu Ratih mengizinkan kami memeriksa catatan fisik gedung karena akses digital telah tercemar. Aku, Livia, dan Raka mulai dari buku jaga Pak Joko.
“Pukul 21.47 malam itu,” kataku, “siapa ma**k lant** tiga?”
Pak Joko membuka buku besar. “Dimas ma**k pukul 21.38. Katanya periksa alarm server.”
“Keluar?”
“Tidak lewat tangga ini. Mungkin pintu servis.”
“B**m?”
Pak Joko mengerutkan dahi. “Saya lihat mobil beliau di belakang sekitar jam sepuluh, tapi beliau tidak tanda tangan.”
“Kenapa tidak dicatat?”
“Dia bilang cuma ambil barang. Dosen senior. Saya tidak berani ribut.”
Ia terlihat malu. Aku tahu rasa itu—rasa malu karena membiarkan kuasa menentukan kapan kita boleh bertanya.
“Bapak mau memberi pernyataan tertulis?”
Pak Joko ragu, lalu mengangguk. “Kalau Bu Ratih menjamin pekerjaan saya.”
Raka memotret buku sesuai izin. Livia mencocokkan waktu unggahan. Foto parkiran ma**k server pada pukul 22.19. Dimas masih berada di gedung. Unggahan dijadwalkan melalui jaringan lant** tiga.
“Sekarang CCTV,” kata Livia.
Kamera koridor mati, tetapi kamera pintu servis memakai sistem terpisah. Tim keamanan hampir lupa karena rekamannya disimpan lokal. Pada pukul 21.46, gambar menunjukkan Dimas ma**k ruang server membawa tas laptop. Tiga puluh detik kemudian, B**m muncul dari tangga servis.
Timestamp berubah menjadi 21.47.
Mereka ma**k bersama.
Tidak terlihat kartu siapa yang digunakan, tetapi satu det**l jelas: B**m memegang benda putih berbentuk kartu, sedangkan Dimas membawa flashdisk hitam.
“Ini dia,” bisik Raka.
Bu Ratih segera menyegel rekaman. “Belum c**up membuktikan isi yang mereka lakukan, tetapi c**up untuk memanggil Dimas dan B**m secara resmi.”
Aku memperbesar gambar. Di tas Dimas ada gantungan kecil berbentuk angka empat. Sama seperti yang kulihat di ruang arsip.
“Flashdisk hitam mungkin masih ada,” kataku.
“Kalau belum dihancurkan,” jawab Ratih.
Livia mengangkat ponsel. “Akun Suara Cakrawala baru mengunggah bahwa CCTV palsu.”
“Mereka tahu kita menemukannya,” kata Raka.
Aku melihat sekitar. Hanya kami, Ratih, dua petugas keamanan, dan Pak Joko. Kebocoran masih berasal dari dalam.
Bu Ratih meminta semua perangkat dimatikan dan dima**kkan ke kotak. Saat itulah ponsel Pak Joko berdering. Nomor tidak dikenal mengirim pesan:
Tarik kesaksian kalau masih mau bekerja.
Pak Joko pucat, tetapi menyerahkan ponsel kepada Ratih.
“Aku bersaksi,” katanya. “Sudah terlalu lama saya pura-pura tidak lihat.”
Sore harinya, Dimas tidak datang memenuhi pangg***n. Alamatnya kosong. B**m mengirim surat melalui pengacara dan menolak hadir tanpa bukti resmi.
Aku pulang ke Kafe Lentera untuk bekerja, tetapi Mbak Sari menyuruhku duduk. “Pelanggan ada yang tanya-tanya. Kamu istirahat dulu beberapa hari.”
“Dipecat?”
“Tidak. Dilindungi.”
Aku hampir tertawa karena kata itu kini selalu membuatku curiga.
“Kalau saya tidak bekerja, saya tidak dibayar.”
Mbak Sari menyelipkan amplop tipis. “Ini uang muka. Bayar nanti kalau sudah aman.”
Aku menolak, lalu akhirnya menerima karena belajar meminta bantuan juga bagian dari keberanian.
Malamnya, sebuah paket tanpa pengirim tiba di rumah. Ibu ingin membuang, tetapi aku menelepon Ratih. Petugas datang dan membuka paket di depan kami.
Di dalamnya ada flashdisk hitam.
Tidak ada surat. Hanya secarik kertas dengan tulisan tangan:
Saya tidak mau menanggung semuanya sendiri.
Dimas.
Flashdisk dibawa ke laboratorium forensik. Dua jam kemudian, Ratih menelepon melalui sambungan aman.
“Isinya backup log revisi nilai, percakapan B**m dengan Dimas, dan daftar pembayaran.”
Aku duduk di lant**, tidak percaya.
“Pak Arga dibebaskan?”
“Belum. Kita perlu verifikasi integritas file. Tapi ada satu rekaman suara yang jelas.”
Ratih memutarnya.
Suara B**m terdengar: Gunakan kartu Arga. Kalau audit meledak, dia dan anak Hendra akan saling menghancurkan.
Ibu menutup mulut.
Aku tidak menangis. Aku mengambil buku catatan dan mulai menyusun kronologi.
Besok, aku akan meminta sidang akademik terbuka.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!