Aku menulis kesaksian selama dua malam dan menghapusnya tujuh kali.
Versi pertama terlalu marah. Versi kedua terlalu defensif. Versi ketiga terdengar seperti aku sedang membela Pak Arga, padahal sidang harus berpusat pada manipulasi nilai dan nama ayah. Versi keempat penuh istilah hukum yang bahkan tidak kupahami.
Ibu menemukan aku tertidur di meja makan dengan laptop terbuka.
“Boleh Ibu baca?”
Aku menggeser kursi.
Ia membaca pelan. Pada bagian tentang ayah, tangannya berhenti.
“Kamu menulis Ibu menyimpan bukti karena takut.”
“Benar.”
“Bukan karena percaya ayahmu bersalah.”
“Aku tahu sekarang.”
Ibu duduk di sampingku. “Selama bertahun-tahun, aku pikir menjaga kamu berarti menjauhkanmu dari semua ini. Padahal aku juga menjaga diriku sendiri dari rasa bersalah.”
“Kita sama-sama takut.”
“Kamu tetap maju.”
“Karena aku punya orang yang membantu.”
Ia menatapku. “Arga?”
Aku tidak menjawab langsung.
“Ayahmu menyukainya,” kata Ibu. “Dulu ia sering cerita tentang mahasiswa yang terlalu ambisius tapi mau belajar.”
“Pak Arga merasa bersalah.”
“Rasa bersalah bisa membuat orang memperbaiki kesalahan atau menghukum diri. Kamu tidak bisa memilihkan jalannya.”
Aku tersenyum tipis. “Ayah benar. Semua orang di sekitar saya suka memberi pelajaran tentang tidak memilihkan hidup orang lain.”
Ibu meraih tanganku. “Besok, jangan bicara untuk ayah saja. Bicara untuk dirimu.”
Pagi berikutnya, Bu Ratih mengadakan simulasi sidang. Livia berperan sebagai anggota komite yang sinis. Raka menjadi B**m, meski terlalu sering meminta maaf setelah menyerang.
“Saudari Nadira,” kata Livia dengan nada tajam, “bukankah semua tuduhan ini muncul setelah Anda dekat dengan dosen pengganti?”
“Perubahan nilai tercatat sebelum foto parkiran. Kedekatan tidak menciptakan log.”
“Apakah Anda mencint** Pak Arga?”
Aku membeku.
Bu Ratih menghentikan simulasi. “Pertanyaan seperti itu mungkin muncul. Kamu tidak wajib menjawab hal yang tidak relevan, tetapi kamu harus siap.”
Aku menarik napas. “Perasaan pribadi tidak mengubah waktu akses, rekaman CCTV, atau transaksi pembayaran. Penilaian saya dipindahkan kepada dosen independen. Saya meminta komite menilai fakta.”
“Bagus,” kata Ratih.
Livia mengangkat jempol. Raka berbisik, “Ngeri juga.”
Pak Arga tidak hadir. Ia masih diskors dan dilarang berkomunikasi langsung. Kami hanya bertukar dokumen melalui Ratih. Anehnya, jarak itu membuatku memahami perasaanku lebih jelas. Aku tidak merindukan penyelamat. Aku merindukan seseorang yang mendengarkan pertanyaanku sampai selesai, bahkan ketika jawabannya menyakitkan.
Sore sebelum sidang, Ratih menyerahkan satu amplop dari Pak Arga. Isinya bukan surat cinta. Hanya salinan kronologi yang ia susun, dengan catatan:
Gunakan hanya jika membantu. Buang jika mengganggu. Suara utama tetap milik kamu.
Di pojok halaman, ia menulis tiga pertanyaan:
Apa fakta yang tidak bisa dibantah?
Siapa yang diuntungkan jika kamu diam?
Apa yang berubah setelah kamu bicara?
Aku mema**kkan halaman itu ke map, bukan sebagai jawaban, melainkan pengingat.
Malamnya, akun Suara Cakrawala mengunggah ancaman terakhir. Mereka menyebut sidang sebagai “panggung mahasiswi yang gagal menerima nilai” dan menjanjikan membuka “bukti hubungan pribadi”.
Kali ini aku tidak membaca komentar.
Aku merekam video satu menit dan mengunggahnya dari akun sendiri.
“Nama saya Nadira Pramesti. Besok saya akan memberi kesaksian dalam sidang akademik mengenai perubahan nilai dan pemalsuan bukti. Saya tidak meminta publik mempercayai saya tanpa pemeriksaan. Saya hanya meminta semua bukti diuji dengan standar yang sama.”
Video itu menyebar lebih cepat daripada perkiraanku. Ada dukungan, hinaan, dan pertanyaan. Namun untuk pertama kalinya, narasi tentangku tidak sepenuhnya ditulis orang lain.
Ibu berdiri di pintu kamar saat aku mematikan ponsel.
“Takut?” tanyanya.
“Sangat.”
Ia menyerahkan surat asli ayah yang sudah dima**kkan ke pelindung dokumen. “Bawa ini.”
“Audit sudah punya salinan.”
“Bawa yang asli. Besok, Ibu ikut dan mengatakan sendiri kenapa surat ini disimpan.”
Aku memeluknya.
Pukul dua dini hari, sebuah pesan resmi dari komite ma**k.
Sidang akan dilaksanakan terbuka terbatas pukul sepuluh. B**m hadir bersama kuasa hukum. Dimas belum ditemukan, tetapi telah mengirim pernyataan awal.
Pada baris terakhir tertulis:
Arga Mahendra hadir sebagai pihak terperiksa dan tidak diperkenankan memberikan pembelaan bagi Saudari Nadira.
Aku tersenyum kecil.
Bagus.
Besok aku tidak membutuhkan siapa pun berbicara atas namaku.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!