Ruang sidang akademik tidak sebesar yang kubayangkan.
Tiga anggota komite duduk di depan. Bu Ratih berada di sisi kanan sebagai penyaji hasil audit. B**m duduk bersama pengacara. Pak Arga berada di baris belakang, tanpa laptop, tanpa kartu identitas kampus. Ibu, Livia, Raka, dan Pak Joko duduk di sisi lain.
Ketika aku ma**k, Pak Arga tidak berdiri. Mungkin aturan. Mungkin ia tahu aku perlu berjalan ke meja saksi tanpa merasa diselamatkan.
Sidang dimulai dengan pembacaan dugaan pelanggaran: manipulasi nilai, penggunaan akun nonaktif, intimidasi digital, pemalsuan dokumen, dan penyalahgunaan akses server.
Bu Ratih menyajikan kronologi. Nilai berubah pukul 18.42. Log dihapus setelah Pak Arga mencetak salinan. Foto parkiran diunggah dari jaringan fakultas. Dokumen palsu dibuat dari perangkat administrasi. Kartu Pak Arga digunakan pukul 21.47, tetapi kamera lant** empat menunjukkan ia berada di kelas. CCTV pintu servis memperlihatkan Dimas dan B**m ma**k ruang server.
Pengacara B**m berdiri. “Rekaman buram tidak menunjukkan aktivitas di dalam ruangan. Kehadiran klien saya dapat dijelaskan sebagai pemeriksaan fasilitas.”
“Tanpa mencatat akses?” tanya komite.
“Kelalaian administratif, bukan manipulasi.”
Giliranku tiba.
Aku menceritakan perubahan nilai, tangkapan layar, surel otomatis, dan pertemuan dengan Dimas. Aku menjelaskan bahwa Pak Arga memindahkan penilaianku kepada Bu Ratih sebelum dokumen palsu muncul. Aku menyerahkan surat ayah dan rekaman percakapannya dengan B**m.
Pengacara mendekat.
“Saudari Nadira, Anda mengakui memiliki ketertarikan pribadi kepada Pak Arga?”
Ruangan hening.
“Pertanyaan itu tidak relevan dengan log sistem.”
“Relevan untuk melihat motif Anda membela beliau.”
“Aku—saya tidak membela Pak Arga. Saya menyampaikan bukti. Jika beliau terbukti melakukan pelanggaran, saya menerima konsekuensinya. Tetapi bukti menunjukkan beliau berada di kelas saat kartunya dipakai.”
“Apakah Anda pernah hampir melakukan hubungan fisik?”
Wajahku panas. Pak Arga tetap diam di belakang.
“Kami tidak pernah berciuman atau memiliki hubungan fisik. Beliau menolak melewati batas selama memiliki kewenangan akademik. Penilaian saya dilakukan dosen independen.”
“Jadi ada perasaan?”
Aku menatap komite. “Perasaan bukan akses server. Perasaan bukan transaksi. Perasaan bukan alasan untuk mengabaikan bukti.”
Bu Ratih menahan senyum tipis.
B**m akhirnya berbicara. “Hendra juga pandai membangun cerita moral. Putrinya mewarisi itu.”
Aku menghadapnya. “Ayah saya menulis laporan sebelum ia dituduh. Tanggalnya diverifikasi. Bapak menandatangani memo perubahan statusnya dari pelapor menjadi terperiksa.”
“Itu keputusan kolektif.”
“Rekaman menunjukkan Bapak mengancam reputasinya.”
“Rekaman dipotong.”
“Flashdisk Dimas memuat percakapan baru.”
Untuk pertama kalinya, B**m terlihat gelisah.
Laboratorium forensik memutar file. Suara B**m jelas memerintahkan penggunaan kartu Arga, penghapusan log, dan penyebaran daftar nilai palsu. Pengacara memprotes keaslian. Ahli forensik menjelaskan checksum dan waktu penciptaan file.
Masih ada satu celah: Dimas belum hadir untuk mengonfirmasi konteks.
Komite bersiap menunda sidang ketika pintu terbuka.
Dimas ma**k bersama petugas keamanan.
Wajahnya kusut, matanya merah. Ia berdiri di tengah ruangan.
“Saya mau memberi keterangan.”
B**m menoleh tajam. “Jangan bicara tanpa pengacara.”
Dimas tertawa getir. “Bapak tidak pernah memberi saya pengacara. Bapak cuma bilang semua akan jadi kesalahan saya.”
Ia mengaku menjalankan akun anonim, menggandakan kartu Pak Arga, dan mengubah nilai atas perintah B**m. Sebagian uang ma**k melalui konsultan palsu. Tujuh tahun lalu, ia juga menghapus log yang dikumpulkan ayah.
“Kenapa nilai saya diturunkan?” tanyaku.
“Karena nama Pramesti muncul di kelas yang diaudit. Pak B**m takut Pak Arga akan bekerja sama dengan kamu. Nilai itu umpan. Foto dan dokumen dibuat supaya kalian saling merusak.”
Ruangan terasa sunyi setelah pengakuan.
Ibu menangis tanpa suara. Pak Joko menunduk. Raka mengepalkan tangan. Livia menggenggam lenganku.
Komite menunda untuk mengambil keputusan. B**m dibawa ke ruang terpisah. Saat semua orang berdiri, aku melihat Pak Arga di belakang.
Ia tidak mendekat.
Aku juga tidak.
Namun ketika mata kami bertemu, sesuatu yang selama ini terjebak di antara takut, kuasa, dan rasa bersalah akhirnya berubah.
Bukan menjadi hubungan.
Menjadi kemungkinan.
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!