Dosen Pengganti di Kelas Malam

Bab 2: Bab 2: Dosen yang Tidak Ada di Jadwal

Pengaturan Membaca

Saya pernah berjanji tidak akan kembali mengajar di Universitas Cakrawala.

Janji itu saya buat tujuh tahun lalu, di parkiran yang sama, setelah melihat seorang lelaki yang saya hormati berjalan keluar dari gedung fakultas membawa satu kardus buku. Hendra Pramesti tidak menoleh ketika beberapa mahasiswa memanggil namanya. Ia hanya mengangkat tangan, seolah perpisahan itu biasa.

Saya tahu itu tidak biasa.

Saya juga tahu saya terma**k orang yang membuatnya pergi sendirian.

Malam pertama menggantikan kelas Dr. B**m, saya berdiri di Ruang 4.12 dengan dua belas pasang mata yang menilai apakah saya layak menghabiskan enam minggu hidup mereka. Di antara semua wajah, saya langsung mengenali Nadira.

Bukan karena pernah melihat fotonya. Saya hanya pernah melihat satu foto keluarga Hendra di meja kerjanya: seorang anak perempuan berusia sekitar empat belas tahun, rambut diikat asal, memegang piala lomba pidato sambil cemberut karena ayahnya meminta foto kedua.

Wajah itu berubah dewasa, tetapi cara matanya menyipit ketika curiga tetap sama.

Saya seharusnya berpura-pura tidak tahu namanya.

Kesalahan pertama saya malam itu adalah memanggilnya terlalu cepat.

Kesalahan kedua adalah membiarkan diri saya peduli pada reaksinya.

Setelah mahasiswa lain pulang, Nadira berdiri di depan meja bersama temannya, Livia. Dua tangkapan layar di ponselnya menunjukkan nilai yang berubah dari 87 menjadi 58. Waktu tangkapan layar pertama tiga hari lalu. Portal tidak menampilkan riwayat revisi kepada mahasiswa, tetapi akun dosen memiliki akses terbatas untuk melihat waktu perubahan.

“Saya perlu nomor induk kamu,” kata saya.

Nadira menyebutkannya tanpa mengalihkan pandangan. Ia tidak memercayai saya. Itu ma**k akal. Saya datang tanpa pengumuman, mengetahui namanya, lalu meminta agar ia merahasiakan masalah yang langsung memengaruhi beasiswanya.

Livia menyilangkan tangan. “Pak, ini bukan cara halus untuk bilang nilainya memang C, kan?”

“Bukan.”

“Terus kenapa tidak boleh dibahas?”

“Karena jika ada kesalahan sistem, saya akan minta diperbaiki. Jika ada perubahan sengaja, penyebaran terlalu cepat bisa membuat jejaknya dihapus.”

Nadira menatap layar laptop saya ketika portal dosen terbuka. “Bapak sudah menduga ini sebelum ma**k kelas?”

Saya mengetik nomor induknya. “Saya menduga ada masalah pada mata kuliah ini.”

“Masalah apa?”

“Belum bisa saya pastikan.”

“Lagi-lagi bukan jawaban.”

Saya hampir tersenyum. Hendra juga selalu berkata begitu ketika mahasiswa berusaha menghindari pertanyaannya.

Halaman nilai Nadira muncul. Angka 58 tercatat sebagai revisi dari akun pengampu utama. Di bawahnya ada timestamp pukul 18.42 malam ini—saat Dr. B**m secara resmi sedang tidak aktif mengajar.

Saya membuka riwayat aktivitas yang hanya bisa dibaca oleh penanggung jawab audit. Nama pengguna tidak muncul, hanya kode akun.

BRS-04.

Kode staf lama.

Saya pernah melihatnya tujuh tahun lalu di cetakan log yang akhirnya dinyatakan tidak sah.

“Pak?” Nadira memanggil.

Saya menutup jendela det**l sebelum ia bisa membaca lebih banyak.

“Kapan terakhir kamu melihat nilai 87?”

“Sore tadi, sebelum ma**k kerja.”

“Ada yang tahu kamu mengecek?”

“Tidak. Saya biasa cek sendiri.”

“Pernah mengajukan komplain nilai kepada Dr. B**m?”

“Tidak pernah.”

“Punya konflik dengan staf akademik?”

“Kalau punya, apakah itu membuat nilai saya boleh diubah?”

“Tidak.”

Jawaban itu keluar lebih tegas daripada yang saya rencanakan.

Nadira menahan tatapan beberapa detik, lalu mengambil ponselnya. “Besok saya akan mengirim email resmi ke fakultas.”

“Itu hak kamu.”

“Tapi Bapak ingin saya menunggu.”

“Sampai besok siang.”

“Kenapa?”

“Karena saya perlu mengamankan riwayat perubahannya malam ini.”

Livia mendekat ke Nadira. “Kita pulang saja. Ini terdengar seperti pembuka film yang tokohnya mati karena terlalu penasaran.”

Nadira tidak bergerak. “Satu pertanyaan lagi. Bapak mengenal ayah saya dari mana?”

Lorong di belakang mereka sudah sepi. Suara mesin AC terdengar terlalu keras.

Saya bisa mengaku sekarang, lalu kehilangan kesempatan untuk mencari bukti tanpa melibatkan Nadira lebih jauh. Atau saya bisa menunda, seperti yang pernah saya lakukan tujuh tahun lalu, dan mengulang kesalahan yang sama dalam bentuk berbeda.

“Saya pernah menjadi mahasiswa beliau.”

Wajah Nadira tidak melunak. “Hanya itu?”

“Untuk malam ini, iya.”

Ia tertawa pendek tanpa humor. “Bapak suka sekali membatasi informasi.”

“Saya sedang berusaha membatasi risiko.”

“Risiko untuk siapa?”

Pertanyaan itu mengikuti saya bahkan setelah ia dan Livia pergi.

Saya menunggu sampai suara langkah mereka hilang, lalu menghubungi Ratih Wulandari, wakil dekan yang menandatangani surat penugasan saya.

Ia mengangkat pada dering ketiga. “Bagaimana kelasnya?”

“Saya menemukan revisi nilai yang tidak wajar.”

Hening.

“Secepat itu?”

“Nilai Nadira Pramesti diubah pukul 18.42 menggunakan kode BRS-04.”

Ratih mengembuskan napas. “Kamu yakin?”

“Saya sedang melihat lognya.”

“BRS-04 seharusnya sudah dinonaktifkan setelah restrukturisasi.”

“Seharusnya.”

“Kamu sudah memberi tahu mahasiswa?”

“Sebagian. Tidak det**l.”

“Arga, saya setuju kamu membantu audit karena keahlianmu. Tapi ingat, kamu datang sebagai dosen pengganti, bukan penyidik dengan kewenangan tanpa batas.”

“Saya tahu.”

“Dan Nadira adalah anak Hendra.”

“Saya juga tahu.”

“Justru itu yang membuat saya khawatir.”

Saya menutup mata sejenak. “Saya tidak akan melibatkan dia lebih dari yang diperlukan.”

“Jangan membuat janji yang tidak bisa kamu jaga.”

Telepon berakhir. Saya menyimpan salinan log ke drive audit terenkripsi, lalu mencetak satu halaman. Printer ruang dosen berada di lant** tiga, melewati lorong yang lampunya hanya menyala separuh.

Ketika saya sampai, Dimas Prakoso berdiri di depan mesin fotokopi. Ia mengenakan seragam staf administrasi dan membawa map biru. Wajahnya berubah sepersekian detik saat melihat saya.

“Pak Arga belum pulang?”

“Belum.”

“Kelas malam biasanya selesai cepat.”

“Biasanya.”

Ia melirik kertas di tangan saya. “Ada masalah?”

“Printer ruang 4.12 tidak terhubung.”

“Oh. Sistem gedung lama memang suka aneh.”

Dimas mema**kkan map ke tas. Saya memperhatikan kartu identitas yang tergantung di lehernya. Di bawah namanya ada kode unit: ADM-04.

Bukan BRS-04, tetapi angka yang sama bisa jadi kebetulan atau pola lama yang diwariskan.

“Dr. B**m sedang di mana?” tanya saya.

Dimas mengangkat bahu. “Cuti, katanya.”

“Katanya?”

“Saya staf biasa, Pak. Informasi dosen bukan urusan saya.”

Ia tersenyum, tetapi tangannya menekan resleting tas terlalu kuat.

Setelah ia pergi, saya mencetak log. Waktu revisi, kode akun, nomor mahasiswa, nilai lama, nilai baru. Hanya lima baris yang terlihat pada akses awal. Empat di antaranya mahasiswa kelas malam. Satu nama lain dari kelas reguler.

Saya memotret hasil cetak, menyimpannya, lalu kembali ke ruang dosen tamu. Laptop saya masih terbuka. Ada notifikasi email institusi dari alamat tanpa nama tampilan.

Subjek: PENUGASAN PENGGANTI.

Isi pesannya hanya satu kalimat.

Jangan bawa masa lalu Hendra Pramesti ke kelas ini.

Saya memeriksa header email. Dikirim melalui jaringan internal kampus, tetapi alamat asal disamarkan lewat akun otomatis.

Di luar jendela, hujan mulai turun.

Saya membuka kembali portal untuk memastikan log Nadira masih ada.

Baris revisi pukul 18.42 menghilang.

Nilainya tetap 58, tetapi riwayat perubahan sudah kosong.

Seseorang bukan hanya tahu saya sedang melihat.

Seseorang memiliki akses untuk membersihkan jejak saat saya masih berada di gedung.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca