Tiga bulan kemudian, aku memanggilnya Arga untuk pertama kali.
Wisuda selesai menjelang sore. Ibu menangis sejak namaku dipanggil sampai kami berfoto di halaman kampus. Livia mengeluh toga membuat rambutnya rusak. Raka membawa bunga yang ukurannya seperti antena parabola. Di sela keramaian, aku melihat papan pengumuman fakultas memuat keputusan pemulihan nama Hendra Pramesti.
Aku berdiri di depannya bersama Ibu.
“Seharusnya ayah ada di sini,” kataku.
“Ia ada dalam banyak hal yang membuat kamu sampai,” jawab Ibu.
Malamnya, Kafe Lentera tutup lebih awal. Mbak Sari memasang tulisan ACARA PRIBADI pada pintu, lalu pergi bersama staf lain setelah memberikan kunci kepadaku.
Pukul sepuluh lewat lima, Arga datang.
Bukan Pak Arga. Bukan dosen pengganti. Ia mengenakan kemeja hitam tanpa map, tanpa laptop, tanpa spidol biru. Di tangannya hanya ada satu buku tua.
“Kamu terlambat lima menit,” kataku.
“Pengamatan yang akurat.”
Aku tertawa. “Masih suka mengulang kalimat malam pertama?”
“Beberapa hal layak disimpan.”
Ia menyerahkan buku itu. Sampulnya bertuliskan Etika Komunikasi dan Kebenaran Publik. Di halaman pertama ada tulisan tangan ayah:
Untuk Arga. Jangan tulis kesimpulan sebelum menemukan keberanian melihat seluruh data.
“Buku ini milikmu,” kata Arga. “Ayahmu memberikannya setelah saya lulus. Saya pikir sekarang seharusnya kembali kepada keluarga.”
Aku menutup buku. “Kalau saya menerimanya, Bapak—kamu—tidak punya barang ayah lagi.”
Perubahan sapaan membuat kami sama-sama diam.
Arga tersenyum pelan. “Saya punya pelajarannya.”
Kami duduk di meja dekat jendela. Lampu kampus terlihat jauh di seberang jalan. Tidak ada hujan malam itu, tetapi payung abu-abu bersandar di kursi Arga dengan gantungan cangkir kecil.
Aku membuat dua kopi. Miliknya tanpa gula. Milikku sedikit susu.
“Bagaimana kampus baru?” tanyaku.
“Lebih baru. Liftnya berfungsi.”
“Tidak ada suasana horor kelas malam?”
“Belum. Saya baru mengajar siang.”
“Pilihan aman.”
“Pilihan sadar.”
Kami berbicara tentang hidup setelah ka**s. Beasiswaku dikembalikan dan seluruh biaya tertunda dibatalkan. Aku menerima tawaran kerja sebagai asisten editor di sebuah penerbit komunikasi. Ibu mulai menghadiri kelompok pendamping keluarga korban pelanggaran akademik. Livia bersumpah akan membuat konten literasi digital, meski semua orang takut ia akan menyertakan terlalu banyak sindiran.
Arga bercerita proses hukum masih berjalan. Dimas bekerja sama dengan penyidik internal. B**m membantah semua tuduhan, tetapi jejak transaksi dan rekaman terlalu kuat untuk dihapus.
“Apakah kita hanya lahir dari krisis?” tanyaku akhirnya.
Arga meletakkan cangkir. “Saya juga memikirkan itu.”
“Dan?”
“Saya mengenal kamu dalam keadaan paling buruk. Itu bisa menciptakan kedekatan yang tidak bertahan setelah keadaan normal.”
“Romantis sekali.”
“Saya belum selesai.”
Aku mengangkat tangan. “Silakan, Pak—”
Ia menatapku.
“Arga,” koreksiku.
Satu kata itu terasa lebih intim daripada semua percakapan kami di ruang arsip.
“Saya tidak ingin menganggap perasaan kita sebagai utang dari ka**s ayahmu,” katanya. “Saya tidak ingin kamu merasa harus memilih saya karena saya membantu. Dan saya tidak ingin rasa bersalah saya berubah menjadi alasan mencint** kamu.”
“Lalu kenapa kamu datang?”
“Karena setelah tiga bulan tanpa kelas, audit, dan pesan ancaman, saya tetap ingin tahu bagaimana harimu. Saya tetap mencari kopi yang rasanya seperti buatanmu. Saya tetap ingin mendengar kamu membantah saya.”
Aku tersenyum. “Itu alasan yang aneh.”
“Alasan yang jujur.”
“Giliran saya.” Aku menarik napas. “Saya tidak memilih kamu karena ayah. Saya marah kepadamu karena ayah, percaya kepadamu karena pilihanmu, dan merindukanmu karena diri saya sendiri.”
Ia diam, menunggu seperti selalu.
“Jadi,” lanjutku, “kita mulai pelan. Tanpa rahasia. Tanpa keputusan sepihak atas nama melindungi.”
“Setuju.”
“Dan Livia punya hak interogasi pada kencan pertama.”
“Itu syarat berat.”
“Bisa mundur sekarang.”
“Tidak.”
Kata itu keluar tanpa ragu.
Kami berdiri ketika jam menunjukkan hampir sebelas. Aku mematikan lampu bagian depan. Hanya lampu kecil di dekat jendela yang tersisa. Arga mengambil satu langkah mendekat, lalu berhenti.
“Nadira.”
“Apa?”
“Boleh saya mencium kamu?”
Tidak ada nilai yang bisa ia ubah. Tidak ada kelas yang harus kutakuti. Tidak ada kamera kampus, komite, atau aturan yang membuat jawabanku kurang bebas.
“Boleh,” kataku.
Ia menyentuh pipiku dengan hati-hati, memberi waktu untuk mundur. Aku tidak mundur.
Ciuman pertama kami hangat dan pelan. Tidak seperti ledakan yang selama ini dijanjikan cerita-cerita, melainkan seperti pintu yang akhirnya dibuka setelah kami berdua memastikan tidak ada seorang pun berdiri di sisi lain dengan kunci.
Ketika berpisah, dahinya menyentuh dahiku.
“Masih yakin?” tanyanya.
“Aku akan memberi tahu kalau berubah.”
“Baik.”
Aku mengambil tangannya. Untuk pertama kali, kami berdiri berdekatan tanpa harus memikirkan siapa yang melihat.
Di kejauhan, gedung lama kampus sudah gelap. Ruang 4.12 tidak lagi terlihat dari jendela, tetapi aku bisa membayangkan papan tulis, kursi baris kedua, dan jam dinding yang pernah menunjukkan pukul delapan lewat tujuh.
Kelas malam itu akhirnya selesai.
Untuk pertama kalinya, kami tidak perlu menunggu siapa pun pulang lebih dulu untuk berdiri berdekatan.
Lanjutkan Membaca Bab 20 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!