Dosen Pengganti di Kelas Malam

Bab 3: Bab 3: Nilai yang Berubah Sendiri

Pengaturan Membaca

Aku tidak tidur malam itu.

Setiap kali memejamkan mata, dua angka muncul bergantian: 87 dan 58. Angka pertama berarti aku masih bisa membayar semester terakhir tanpa meminta Ibu menjual gelang peninggalan nenek. Angka kedua berarti beasiswaku ma**k zona evaluasi.

Di meja kecil kamar, laptop menyala dengan tiga tab terbuka: portal akademik, surel kampus, dan dokumen aturan beasiswa. Livia mengirim pesan setiap lima menit.

LIVIA: Udah berubah lagi belum?

AKU: Belum.

LIVIA: Mau aku bikin status sindiran?

AKU: Jangan.

LIVIA: Aku sudah bikin. Belum kuunggah.

Aku menutup mata. Bersahabat dengan Livia berarti menerima bahwa niat baiknya sering datang sambil membawa bensin.

Pukul dua pagi, sebuah surel ma**k dari akun layanan akademik. Bukan jawaban atas komplain—aku bahkan belum mengirimkannya. Isinya pemberitahuan otomatis bahwa “penyesuaian nilai dilakukan berdasarkan verifikasi pengampu”. Tidak ada nama pengampu, tidak ada alasan, dan tombol keberatan mengarah ke halaman yang tidak bisa dibuka.

Aku mengambil tangkapan layar.

Pagi harinya, aku menemui bagian akademik sebelum ma**k kerja. Dimas berada di balik meja layanan. Wajahnya ramah dengan cara yang terlalu terlatih.

“Ada yang bisa dibantu, Mbak Nadira?”

Aku meletakkan ponsel di depannya. “Nilai saya berubah tanpa pemberitahuan.”

Ia membaca cepat. “Mungkin sinkronisasi.”

“Dari 87 menjadi 58 bukan sinkronisasi.”

“Kadang dosen mengoreksi rubrik.”

“Dr. B**m sedang tidak mengajar.”

“Bisa saja revisi sudah dima**kkan sebelumnya.”

“Timestamp-nya kemarin pukul 18.42.”

Dimas mengangkat pandangan. Senyumnya tidak hilang, tetapi matanya berhenti bergerak. “Mbak melihat timestamp dari mana?”

Pertanyaan itu terlalu cepat.

Aku menarik kembali ponsel. “Dari notifikasi.”

“Boleh saya lihat?”

“Sudah terhapus.”

Aku berbohong. Bukti itu tersimpan di tiga tempat.

Dimas mengetik nomor indukku. “Di sistem kami, nilai 58 tercatat sah. Kalau mau keberatan, isi formulir dan tunggu verifikasi dosen pengampu.”

“Dosen pengampu saya sekarang Pak Arga.”

“Untuk perkuliahan, iya. Rekap sebelumnya tetap milik Dr. B**m.”

“Dr. B**m bisa dihubungi?”

“Beliau sedang cuti.”

“Cuti atau diperiksa?”

Jari Dimas berhenti di keyboard.

Aku tidak tahu dari mana keberanian itu datang. Mungkin dari kurang tidur. Mungkin dari cara Pak Arga menyebut kata audit. Mungkin karena selama bertahun-tahun keluargaku terlalu sering menerima kalimat “tunggu proses” sampai proses itu berubah menjadi kuburan bagi kebenaran.

Dimas menyandarkan tubuh. “Saran saya, Mbak fokus kuliah. Nilai masih bisa diperbaiki lewat tugas berikutnya.”

“Jadi saya harus bekerja dua kali untuk kesalahan yang bukan milik saya?”

“Jangan menyimpulkan ada kesalahan sebelum verifikasi.”

Aku berdiri. “Saya akan kirim keberatan resmi hari ini.”

Di luar ruang akademik, aku langsung mengirim pesan kepada Pak Arga.

Saya sudah menemui staf. Mereka bilang nilai sah dan meminta saya menunggu Dr. B**m.

Balasannya datang satu menit kemudian.

Jangan serahkan tangkapan layar asli. Datang 30 menit sebelum kelas malam ini.

Tidak ada salam. Tidak ada penjelasan.

Aku seharusnya marah karena ia kembali memberi perintah. Namun bagian diriku yang lebih rasional menangkap satu hal: ia percaya ada sesuatu yang perlu dilindungi.

Kafe Lentera ramai sampai sore. Aku salah menulis nama pelanggan dua kali dan hampir menuangkan susu oat ke pesanan yang meminta tanpa susu. Pemilik kafe, Mbak Sari, menyuruhku istirahat sepuluh menit.

Aku duduk di ruang belakang sambil membuka galeri. Di antara foto struk, catatan kuliah, dan gambar kucing kiriman Livia, ada tangkapan layar nilai 87. Aku memperbesar bagian waktu. Tiga hari lalu, pukul 16.11.

Ayah pernah mengajar Pak Arga.

Kalimat itu lebih mengganggu daripada perubahan nilai. Aku mencoba mengingat nama Arga Mahendra dari cerita ayah, tetapi ayah jarang membawa urusan kampus ke rumah setelah mengundurkan diri. Satu-satunya nama yang sering muncul justru B**m—kadang sebagai rekan, kadang sebagai orang yang membuat ayah diam lama di meja makan.

Pukul setengah delapan, aku tiba di Ruang 4.12. Pak Arga sudah ada di sana. Laptopnya tersambung ke proyektor, tetapi layar hanya menampilkan tabel kosong.

“Pintunya biarkan terbuka,” katanya ketika aku ma**k.

Aku mencatat itu. Ia tidak ingin kami sendirian dalam ruang tertutup.

“Saya membawa semua bukti.”

“Taruh salinannya di sini. Simpan yang asli.”

Aku menyerahkan hasil cetak tangkapan layar dan surel otomatis. Ia membandingkannya dengan halaman yang sudah dicetaknya sendiri.

“Apa itu?”

“Log yang sempat saya akses sebelum dihapus.”

Aku membaca baris teratas. Nomor indukku, nilai lama 87, nilai baru 58, pukul 18.42, kode BRS-04.

“Siapa BRS-04?”

“Bukan siapa. Itu kode akun.”

“Punya Dr. B**m?”

“Pernah terhubung ke unit beliau, tapi statusnya seharusnya nonaktif.”

“Seharusnya?”

“Tidak ada akun yang benar-benar tidak berbahaya hanya karena diberi label nonaktif. Yang penting adalah apakah aksesnya dicabut.”

Ia mengeluarkan satu lembar lain. Empat nomor mahasiswa dari kelas kami mengalami perubahan. Nilai naik dan turun dalam pola yang tidak ma**k akal.

“Raka?” Aku mengenali nomor ketua kelas. Nilainya naik dari 74 menjadi 88.

“Jangan menyimpulkan dia terlibat. Penerima perubahan belum tentu meminta perubahan.”

“Siapa lagi yang tahu?”

“Ratih. Saya. Sekarang kamu.”

“Livia tahu nilai saya berubah.”

“Bukan det**l log.”

Aku menatapnya. “Bapak selalu bicara seperti setiap orang mungkin sedang menguping.”

“Karena riwayatnya dihapus beberapa menit setelah saya mencetaknya.”

Udara di ruangan terasa lebih dingin.

“Berarti orang itu tahu Bapak datang.”

“Ya.”

“Dan mungkin tahu Bapak mengenal ayah saya.”

Ia tidak menjawab.

Aku duduk di kursi terdekat. “Apa hubungan semua ini dengan ayah?”

Pak Arga berdiri di sisi lain meja, menjaga jarak. “Saya belum punya bukti bahwa ada hubungan langsung.”

“Tapi Bapak mencarinya.”

“Saya mencari pola yang pernah muncul sebelumnya.”

“Pada ka**s ayah saya.”

Tatapannya berubah. Ada rasa bersalah di sana, begitu jelas hingga membuatku lebih takut daripada jika ia berbohong dengan tenang.

Suara langkah terdengar di lorong. Pak Arga segera mema**kkan log ke map. Raka muncul di pintu bersama dua mahasiswa lain.

“Oh, sudah mulai, Pak?”

“Belum. Nadira mengajukan pertanyaan soal tugas.”

Kebohongan itu rapi. Aku membencinya, tetapi membiarkannya.

Kelas malam berjalan seperti biasa di permukaan. Pak Arga membahas komunikasi krisis. Ia meminta kami membedakan antara fakta, versi resmi, dan persepsi publik. Setiap istilah terasa seperti sindiran kepada masalah yang hanya kami berdua pahami.

Saat diskusi kelompok, Raka mendekat.

“Nilaimu berubah juga?” bisiknya.

Aku menatapnya. “Juga?”

Ia menunjukkan portal. Nilainya 88. “Minggu lalu masih 74. Kupikir Dr. B**m kasih revisi karena aku ketua kelas, tapi aneh.”

“Kenapa tidak bilang?”

“Siapa yang protes kalau nilai naik?” Ia tersenyum kaku. “Tapi setelah kamu tanya soal audit kemarin, aku jadi kepikiran.”

Aku meminta tangkapan layar lamanya. Raka mengirim tanpa banyak tanya.

Setelah kelas, kami bertiga—aku, Raka, dan Pak Arga—membandingkan data. Waktu perubahan Raka hanya selisih empat menit dari milikku. Mahasiswa lain yang nilainya naik adalah anak seorang anggota yayasan. Yang nilainya turun, selain aku, pernah mengajukan keberatan atas pungutan praktikum.

“Ini bukan acak,” kataku.

Pak Arga mengangguk. “Belum c**up untuk membuktikan motif, tapi c**up untuk meminta audit penuh.”

Raka menelan ludah. “Nama saya bisa kena masalah?”

“Kalau kamu tidak meminta perubahan, kamu saksi, bukan pelaku,” jawab Pak Arga.

Raka pergi dengan wajah pucat. Aku menunggu sampai ia keluar.

“Sekarang apa?”

Pak Arga menyalakan laptop lagi dan membuka halaman administrasi. “Saya cek status kode BRS-04 dari akses audit.”

Sebuah kotak informasi muncul.

STATUS: NONAKTIF.

AKSES TERAKHIR: KEMARIN, 18.39.

LOKASI JARINGAN: GEDUNG FAKULTAS KOMUNIKASI.

Aku merasakan kulit lenganku meremang.

“Jadi akun mati itu ma**k dari gedung ini.”

“Ya.”

“Siapa yang punya akses?”

Pak Arga menggulir ke bawah. Kolom pemilik akun telah dikosongkan. Tetapi pada bagian unit pembuat, masih tersisa satu nama lama.

BIRO REVISI SISTEM — KOORDINATOR: B**M SURYANA.

Sebelum kami sempat bicara, layar berkedip.

Halaman memuat ulang.

Tulisan itu lenyap, digantikan pesan: DATA TIDAK DITEMUKAN.

Pak Arga mencabut kabel jaringan laptop.

Aku menatapnya. “Orang itu masih melihat kita?”

Ia menutup layar dengan satu gerakan.

“Mulai sekarang,” katanya, “anggap semua yang tersambung ke jaringan kampus bisa didengar.”

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca