Dosen Pengganti di Kelas Malam

Bab 4: Bab 4: Hujan, Mobil, dan Batas

Pengaturan Membaca

Hujan mulai turun tepat ketika kelas berakhir.

Bukan gerimis yang bisa kuterobos sambil menutup kepala dengan tas, melainkan hujan deras yang membuat jendela Ruang 4.12 seperti dinding air. Petir memutihkan lorong, lalu listrik padam selama tiga detik sebelum lampu darurat menyala redup.

“Bagus,” kata Livia. “Kampus tua, malam Jumat, dosen misterius. Kurang satu suara perempuan nangis dari toilet.”

“Jangan mulai.”

Aku memeriksa aplikasi transportasi. Tidak ada pengemudi. Bus terakhir sudah lewat. Kafe Lentera berjarak hampir lima kilometer, sedangkan rumahku dua belas kilometer dari kampus.

Raka menawarkan tumpangan motor, tetapi ia tinggal berlawanan arah dan hanya membawa satu jas hujan. Livia dijemput kakaknya. Dalam lima belas menit, kelas yang tadi penuh tinggal menyisakan aku, Pak Arga, dan suara petugas kebersihan dari ujung lorong.

Aku berdiri di dekat jendela sambil memperbarui aplikasi berkali-kali.

“Belum dapat?” tanya Pak Arga.

“Belum.”

“Hubungi keluarga.”

“Ibu tidak bisa menyetir malam.”

“Teman?”

“Sudah pulang.”

Ia melihat hujan. “Saya bisa mengantar sampai tempat ramai atau langsung ke rumah, kalau kamu setuju.”

Aku menoleh. Tawaran itu ma**k akal. Justru karena ma**k akal, semua kemungkinan buruk ikut datang: foto, gosip, tuduhan bahwa perubahan nilai sedang kubayar dengan kedekatan.

“Saya bisa menunggu.”

“Gedung ditutup pukul sepuluh tiga puluh.”

“Masih empat puluh menit.”

“Dan hujan diperkirakan dua jam.”

“Bapak juga mengecek cuaca untuk mengaudit saya?”

“Untuk memutuskan apakah harus menunggu bersama mahasiswa keras kepala.”

Aku hampir tersenyum, lalu mengingat kami bukan dua orang biasa yang terjebak hujan. Ia dosenku. Namaku sudah berada di dalam sistem yang sedang dimanipulasi. Satu kesalahan framing bisa menghapus semua bukti bahwa aku bekerja keras.

Pak Arga seolah membaca keraguanku. “Pintu belakang mobil. Saya kirim pelat kendaraan dan lokasi langsung ke Livia. Kita tidak berhenti di mana pun. Kamu bisa merekam perjalanan kalau perlu.”

“Bapak selalu menyiapkan prosedur untuk segala hal?”

“Untuk hal yang mudah disalahartikan, iya.”

Hujan memukul atap lebih keras.

Aku mengirim pesan kepada Livia. Ia membalas dengan tiga puluh tanda seru, lalu: SHARE LIVE LOCATION. JANGAN DUDUK DEPAN. JANGAN TERPESONA SUARA TENANGNYA.

Aku mema**kkan ponsel ke tas sebelum Pak Arga melihat.

“Baik,” kataku. “Sampai rumah.”

Ia membuka payung abu-abu di depan pintu gedung. Payungnya c**up besar, tetapi ia memiringkannya ke arahku hingga bahu kanannya basah. Kami berjalan melewati lorong terbuka menuju Parkiran Timur. Lampu kuning memantul di genangan. Jarak di antara kami tidak sampai satu lengan, namun ia berhati-hati agar tidak menyentuhku.

Mobilnya sedan hitam yang bersih tanpa aksesori mencolok. Ia membuka pintu belakang kiri.

“Seperti taksi,” kataku.

“Lebih aman daripada seperti kencan.”

Kalimat itu membuat udara di antara kami berubah. Hanya sesaat. Ia segera menutup pintu setelah aku ma**k, lalu duduk di depan.

Sepanjang lima menit pertama, hanya suara wiper yang terdengar. Aku melihat profilnya dari belakang: rahang tegang, kedua tangan di kemudi, mata tak pernah mencari kaca spion lebih lama dari yang diperlukan.

“Bapak takut saya salah paham?” tanyaku.

“Saya takut orang lain sengaja membuat kamu terlihat salah.”

“Kenapa saya?”

“Karena nilai kamu berubah. Karena nama keluarga kamu. Karena kamu berani bertanya di kelas.”

“Dan karena Bapak mengenal ayah saya.”

Ia menghela napas. “Ya.”

Lampu merah menghentikan mobil. Hujan membuat kendaraan di sekitar tampak seperti bayangan.

“Ayah seperti apa ketika menjadi dosen Bapak?”

Pak Arga tidak langsung menjawab. “Menyebalkan.”

Aku menatapnya melalui kaca spion.

“Beliau mengembalikan tugas saya tiga kali karena saya memakai data yang tidak bisa diverifikasi. Saya pikir beliau mencari alasan untuk menjatuhkan nilai.”

“Lalu?”

“Ternyata satu sumber saya palsu. Kalau tugas itu diteruskan ke konferensi, saya mungkin dipermalukan di depan banyak orang.”

“Itu yang Bapak maksud saat bilang ayah menyelamatkan karier?”

“Sebagian.”

“Sebagian lainnya?”

Lampu berubah hijau. Mobil bergerak.

“Saya belum siap menceritakannya di dalam kendaraan saat hujan.”

Aku mendengus. “Bapak membuat aturan percakapan berdasarkan cuaca?”

“Berdasarkan apakah kamu bisa turun dan pergi kalau tidak suka jawaban saya.”

Alasan itu sangat ma**k akal hingga membuatku diam.

Di dekat persimpangan, motornya—bukan, sebuah motor—mengikuti dua kendaraan di belakang kami. Pengendaranya mengenakan jas hujan hitam dan helm tertutup. Ketika kami berbelok, ia ikut berbelok.

“Kenapa?” tanya Pak Arga setelah melihatku menoleh beberapa kali.

“Motor hitam itu.”

Ia memeriksa kaca. “Sudah ada sejak keluar kampus?”

“Mungkin.”

Pak Arga tidak panik. Ia mengambil jalan menuju minimarket yang terang dan ramai. Motor itu melaju lurus, tidak mengikuti.

“Mungkin hanya kebetulan,” katanya.

“Bapak tidak terdengar percaya.”

“Saya tidak suka mengambil keputusan dari satu data.”

Kami kembali ke rute rumahku. Suasana di dalam mobil lebih sempit daripada sebelumnya. Aroma kopi samar muncul dari tempat minum di konsol depan.

“Bapak suka kopi tanpa gula?” tanyaku, lebih untuk mengusir tegang.

“Ya.”

“Pantas.”

“Pantas apa?”

“Cara bicara Bapak juga tanpa gula.”

Kali ini ia benar-benar tersenyum. Hanya sedikit, tetapi c**up mengubah seluruh wajahnya. Aku segera melihat ke jendela, kesal pada diriku sendiri karena memperhatikan.

“Di kafe kamu bekerja, kopi terbaik apa?”

“Yang dibayar pelanggan.”

“Jawaban diplomatis.”

“Penghasilan barista bergantung pada diplomasi.”

Percakapan bergerak ke hal-hal aman: jadwal kerjaku, alasan mengambil kelas malam, rencana setelah lulus. Aku menjawab seperlunya, tetapi menemukan diriku ingin tahu tentang hidupnya di luar kampus. Ia konsultan komunikasi forensik—menganalisis pola pesan, pemalsuan narasi, dan krisis reputasi. Penugasan mengajar hanya sementara.

“Jadi Bapak memang datang untuk audit,” kataku.

“Saya datang untuk mengajar dan membantu audit.”

“Urutannya meyakinkan sekali.”

“Urutan penting.”

Mobil berhenti di depan gang rumahku pukul sepuluh lewat dua puluh. Hujan sudah berkurang, tetapi air masih mengalir di tepi jalan.

Pak Arga turun lebih dulu, membuka payung, lalu membukakan pintu belakang. Aku menurunkan tas.

“Terima kasih, Pak.”

“Nadira.”

Aku menoleh.

“Besok, kirim keberatan nilai secara resmi. Saya sudah mengamankan salinan log. Jangan menyebut penyelidikan lain.”

“Jadi kita tetap berpura-pura tidak tahu?”

“Kita membuat orang yang mengubah data merasa punya waktu.”

“Untuk apa?”

“Untuk melakukan kesalahan kedua.”

Aku mengambil satu langkah menuju gang. Angin mendorong hujan ke wajah. Pak Arga mengulurkan payung.

“Bawa.”

“Bapak bagaimana?”

“Saya sudah sampai mobil.”

Aku memegang gagang payung. Jari kami tidak bersentuhan, tetapi jaraknya c**up dekat untuk membuatku sadar betapa hangat tangannya dibanding udara malam.

“Pak Arga,” kataku sebelum keberanian hilang. “Kalau semua ini selesai, Bapak akan cerita semuanya tentang ayah?”

Ia memandangku, dan untuk pertama kalinya ketenangannya terlihat seperti sesuatu yang dibangun untuk menutupi luka.

“Kalau semua ini selesai,” katanya, “kamu berhak mendengar tanpa saya memilih bagian yang membuat saya terlihat baik.”

Aku berbalik dan berjalan ma**k gang.

Ponselku bergetar sebelum mencapai pagar rumah.

Notifikasi dari akun pengakuan kampus, Suara Cakrawala.

Unggahan baru: DOSEN PENGGANTI ATAU SOPIR PRIBADI?

Foto pertama menunjukkan aku mema**ki pintu belakang mobil hitam di Parkiran Timur. Foto kedua memperlihatkan Pak Arga memegang payung di atasku. Tidak ada sentuhan. Tidak ada adegan intim. Namun sudut pengambilan gambar membuat kami tampak seperti sedang menyembunyikan sesuatu.

Keterangan unggahan berbunyi:

Ada yang nilainya turun, ada yang cari jalan pintas naik lagi. Kelas malam memang penuh kejutan.

Aku menoleh ke ujung jalan. Mobil Pak Arga masih di sana.

Di bawah lampu, sebuah sosok berdiri di seberang gang sambil menurunkan ponsel dari depan wajahnya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca