Dosen Pengganti di Kelas Malam

Bab 5: Bab 5: Arsip Setelah Tengah Malam

Pengaturan Membaca

Foto itu masih ada ketika aku bangun pagi.

Tiga ratus dua belas orang menyukainya. Seratus delapan puluh komentar tumbuh di bawahnya seperti jamur setelah hujan. Sebagian tertawa, sebagian menuduh, sebagian pura-pura bertanya sambil sudah memutuskan jawaban.

Siapa mahasiswinya?

Bukannya itu anak dosen yang dulu kena ka**s nilai?

Kalau cantik memang banyak jalur khusus.

Aku berhenti membaca setelah komentar terakhir. Livia sudah mengirim tangkapan layar sebelum akun itu membatasi komentar. Raka menulis di grup kelas bahwa foto tidak membuktikan apa pun. Balasannya terbagi dua: yang setuju, dan yang mengirim emoji mata.

Pak Arga tidak menghubungiku sampai siang. Ketika akhirnya pesan ma**k, isinya hanya:

Jangan hapus unggahan dari arsipmu. Saya sudah melapor ke Ratih. Datang ke kampus pukul 21.30 jika kamu tetap bersedia membantu. Pintu ruang arsip akan terbuka dan ada petugas di lant**.

Aku membaca kalimat “jika kamu tetap bersedia” tiga kali. Ia tidak memerintah. Mungkin karena foto itu telah membuktikan bahwa risiko yang selalu ia sebut bukan teori.

Aku hampir menolak. Ibu melihat wajahku sepanjang s****an dan bertanya kenapa aku tidak menyentuh nasi. Aku bilang beasiswa sedang diverifikasi. Ia langsung tegang, lalu menanyakan apakah ada hubungannya dengan ayah.

“Kenapa Ibu langsung berpikir begitu?”

“Karena kamu kuliah di tempat yang sama.”

“Itu bukan jawaban.”

Ibu menunduk. Gerakan itu membuatku ingat Pak Arga. Orang dewasa rupanya punya cara serupa untuk melindungi rahasia: diam seolah diam adalah bentuk kasih sayang.

Pukul sembilan lewat dua puluh malam, aku tiba di gedung lama. Tidak ada kelas. Lorong lant** empat hanya diterangi lampu darurat. Satpam Joko duduk di meja kecil dekat tangga sambil mendengarkan radio.

“Pak Arga sudah di dalam,” katanya. “Bu Ratih kasih izin sampai jam sebelas. Saya catat siapa yang ma**k.”

Ia menunjuk buku besar di meja. Nama Arga Mahendra tertulis pukul 20.56. Di bawahnya ada namaku yang belum diisi.

“Semua orang yang ma**k dicatat?”

“Kalau lewat sini.”

“Kalau lewat lift?”

Pak Joko tertawa. “Lift mati, Mbak.”

Ruang arsip berada di ujung koridor. Pak Arga berdiri di depan pintu logam dengan laptop terbuka di satu tangan dan kartu akses di tangan lain. Lampu indikator berkedip merah.

“Tidak bisa?” tanyaku.

“Akses audit saya hanya untuk data digital, bukan arsip fisik.”

“Bu Ratih tidak memberi kartu?”

“Kartu beliau tidak terbaca di gedung lama. Sistemnya belum disinkronkan.”

Aku menatap pintu. Ada kotak pembaca kartu tua di sampingnya—model yang sama dengan kartu milik ayah di map rumah.

“Ada cara manual?”

“Kunci ada di bagian umum. Dimas yang pegang.”

Nama itu membuat kami saling pandang.

“Apa yang dicari?”

“Berkas revisi nilai tujuh sampai delapan tahun lalu. Sistem digital hanya menyimpan indeks. Dokumen pendukung mungkin masih di sini.”

“Dan Bapak baru bilang sekarang?”

“Saya tidak ingin meminta kamu membawa apa pun dari ayahmu.”

“Tapi Bapak tahu saya punya sesuatu?”

“Saya menduga.”

Aku mengeluarkan kartu akses lama dari dompet. Benda itu sudah kusimpan sejak sore, setelah membuka map tanpa izin Ibu. Nama HENDRA PRAMESTI tercetak pudar. Di sudutnya ada goresan tinta biru berbentuk garis pendek.

Pak Arga menatap kartu itu seperti melihat hantu.

“Dari mana kamu mendapatkannya?”

“Laci ayah.”

“Kartu ini seharusnya sudah ditarik ketika beliau mengundurkan diri.”

“Mungkin ia tidak sempat mengembalikan. Atau sengaja menyimpan.”

“Nadira, kalau kita pakai kartu itu, aksesnya tercatat atas nama ayahmu.”

“Bukankah akun lama juga digunakan seseorang?”

“Justru itu. Kita tidak tahu siapa yang menunggu jejak lama muncul.”

Aku menyimpan kartu kembali. “Kalau begitu kita pulang.”

Ia melihat pintu, lalu aku. Konflik di wajahnya hanya berlangsung sesaat.

“Kita coba sekali. Jika terbuka, saya catat penggunaan sebagai bagian audit dan lapor Ratih sekarang juga.”

“Bapak bisa begitu?”

“Saya bisa membuatnya transparan.”

Aku menempelkan kartu.

Lampu merah berubah hijau.

Bunyi klik terdengar dari pintu.

Ruang arsip berbau kertas lembap dan debu. Rak logam memenuhi dinding. Kotak-kotak diberi label berdasarkan tahun, program studi, dan jenis dokumen. Pak Arga menyalakan senter ponsel. Aku mengikuti indeks cetak yang sudah ia bawa.

“Revisi nilai 2018,” kataku.

“Rak C, bagian bawah.”

Kami bekerja tanpa banyak bicara. Kedekatan di ruang sempit terasa berbeda dari mobil: tidak ada hujan untuk menyamarkan napas, tidak ada jarak kursi. Setiap kali kami bergerak di lorong rak yang sama, Pak Arga mundur memberi ruang.

Kotak 2018 tidak ada di tempatnya.

“Indeks bilang rak C-7,” kataku.

“C-7 kosong.”

Di lant** tampak bekas kotak yang baru digeser. Debu membentuk persegi terang.

Suara pintu berderit membuat kami menoleh.

Dimas berdiri di ambang, membawa gantungan kunci.

“Wah,” katanya pelan. “Saya kira ruang ini terkunci.”

Pak Arga menutup laptop. “Bu Ratih memberi izin audit.”

“Dengan kartu siapa?”

Aku merasakan kartu ayah di dalam saku seperti benda panas.

“Dicatat dalam laporan,” jawab Pak Arga.

Dimas ma**k satu langkah. “Berkas lama sensitif, Pak. Kalau ada yang hilang, staf bisa disalahkan.”

“Karena itu kamu sebaiknya tetap di sini sebagai saksi.”

Senyum Dimas menegang. “Saya perlu ambil dokumen inventaris.”

Ia berjalan ke lemari kecil di sudut, membuka laci paling bawah, lalu berdiri menutupi pandangan kami. Aku memperhatikan debu di sepatunya. Kering, meski hujan baru berhenti. Ada serat karton di ujung lengan seragamnya.

“Pak Dimas,” kataku, “kotak revisi nilai 2018 dipindahkan ke mana?”

Ia menoleh terlalu cepat. “Saya tidak hafal semua kotak.”

“Saya belum menyebut raknya.”

Ruangan hening.

Pak Arga bergerak setengah langkah, bukan ke arah Dimas, melainkan ke arahku, seolah menempatkan diri di jalur di antara kami.

Dimas tertawa kecil. “Mbak Nadira cocok jadi penyidik.”

“Saya hanya mahasiswa yang nilainya berubah.”

“Bisa jadi karena tugasnya memang salah.”

Pak Arga menatapnya. “C**up.”

Dimas mengambil satu map lalu pergi. Sebelum pintu tertutup, ia berkata, “Hati-hati membuka berkas lama. Kadang orang menemukan lebih banyak daripada yang bisa mereka tanggung.”

Kami menunggu langkahnya menjauh.

“Dia tahu kotak itu,” kataku.

“Kemungkinan besar.”

Aku berjalan ke lemari yang tadi dibukanya. Laci bawah tampak biasa, tetapi bagian belakangnya tidak rata. Saat kutarik penuh, ada panel kayu tipis. Di balik panel itu, sebuah kotak arsip kecil terselip.

Labelnya bukan REVISI NILAI 2018.

Hanya satu kata, ditulis dengan tinta hitam yang mulai memudar:

PRAMESTI.

Pak Arga berjongkok di sampingku. Wajahnya kehilangan warna.

“Jangan buka dulu,” katanya.

“Kenapa?”

“Karena kalau ini berkas yang saya pikirkan, malam ini akan mengubah apa yang kamu percaya tentang ayahmu.”

Aku meletakkan tangan di tutup kotak.

“Selama tujuh tahun,” kataku, “semua orang sudah mengubah apa yang mereka percaya tentang dia tanpa bertanya kepada saya.”

Aku mengangkat tutupnya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca