Kotak itu tidak berisi satu jawaban.
Ia berisi terlalu banyak potongan yang sengaja dibuat tidak lengkap.
Ada salinan formulir revisi nilai, memo internal, dua foto kegiatan fakultas, dan buku catatan bersampul hitam. Nama ayah muncul pada beberapa halaman sebagai “pelapor awal”, lalu dicoret dan diganti dengan “pihak terindikasi”. Tanggal perubahan istilah hanya berselang dua hari.
Aku duduk di lant** ruang arsip, melupakan debu yang menempel di celana. Pak Arga tetap berjongkok di seberang kotak, tetapi tidak menyentuh dokumen tanpa sarung tangan tipis yang ia keluarkan dari tas.
“Bapak sudah tahu ini?” tanyaku.
“Saya tahu ayahmu melaporkan ketidaksesuaian nilai. Saya tidak tahu berkas resminya masih ada.”
“Kenapa namanya berubah jadi terindikasi?”
“Karena seseorang membutuhkan pelaku yang mudah dikorbankan.”
“Siapa?”
Ia menatap memo dengan logo fakultas. Di bagian bawah ada tiga paraf, salah satunya milik B**m Suryana.
“Bapak sudah menduga B**m.”
“Saya menduga sistem yang melindunginya.”
“Itu cara aman untuk tidak menyebut nama.”
“Nadira—”
“Jangan.” Aku berdiri. “Jangan panggil nama saya dengan suara tenang seperti itu, seolah saya akan menerima semua potongan yang Bapak pilih.”
Ia ikut berdiri, tetap menjaga jarak. “Kita tidak aman membicarakan semuanya di sini.”
“Bapak selalu punya alasan untuk menunda.”
“Dan kamu selalu punya alasan untuk mendorong sebelum melihat risikonya.”
Kata-katanya menampar lebih keras karena ada benarnya.
Aku menutup kotak. “Bapak ma**k ke kelas saya karena ayah.”
Ia diam.
“Itu bukan kebetulan, kan?”
“Bukan.”
Aku tertawa pendek. “Jadi sejak awal saya memang bagian dari penyelidikan.”
“Tidak. Saya tidak tahu nilai kamu akan diubah.”
“Tapi Bapak tahu saya ada di kelas itu.”
“Ya.”
“Bapak menerima penugasan karena nama saya.”
“Saya menerima karena Dr. B**m tiba-tiba ditarik dari jadwal dan Ratih menemukan pola revisi yang mirip ka**s lama. Saya tahu kamu terdaftar. Saya pikir—”
“Apa? Saya mungkin punya kunci?”
Matanya turun ke kartu akses di tanganku.
Jawaban itu c**up.
Aku meninggalkan ruang arsip. Pak Joko mengangkat kepala saat aku lewat, tetapi aku tidak berhenti. Langkah Pak Arga terdengar beberapa meter di belakang. Ia tidak mengejar hingga tangga lant** tiga.
“Nadira, berhenti sebentar.”
Aku berbalik. “Untuk apa? Supaya Bapak bisa menentukan bagian mana yang aman saya dengar?”
“Supaya kamu tidak turun tangga sambil menangis dan jatuh.”
Baru saat itu aku sadar mataku basah. Aku menghapusnya dengan kasar.
“Saya tidak menangis karena Bapak.”
“Saya tidak menganggap begitu.”
Itu justru membuatku semakin marah.
Kami berdiri di bordes tangga. Lampu putih di atas kami berdengung. Di bawah, gedung sudah sepi.
“Ceritakan semuanya,” kataku. “Sekarang.”
Pak Arga melepas jam tangannya lalu mema**kkannya ke saku—gerakan yang pernah kulihat ketika ia tegang. “Delapan tahun lalu, ayahmu membimbing riset saya. Saya menggunakan data wawancara yang diberikan seorang staf fakultas. Ayahmu menemukan sebagian data direkayasa. Beliau memaksa saya menarik makalah sebelum dipublikasikan.”
“Karena itu ayah menyelamatkan karier Bapak.”
“Ya. Beberapa bulan kemudian, beliau menemukan pola nilai mahasiswa berubah setelah pembayaran tidak resmi. Beliau meminta saya membantu memeriksa metadata komunikasi karena saya sedang meneliti manipulasi pesan.”
“Bapak membantu?”
“Awalnya.”
Satu kata itu mengandung akhir yang buruk.
“Kami menemukan memo yang menghubungkan revisi dengan unit yang dipimpin B**m. Ayahmu ingin membawa bukti ke senat. B**m mengatakan data diperoleh tanpa prosedur dan mengancam melaporkan saya karena mengakses dokumen internal.”
“Bapak mundur.”
“Saya diam.”
“Bedanya?”
“Tidak ada.”
Suara hujan sisa menetes dari talang di luar. Pak Arga menatap anak tangga, seolah tujuh tahun lalu masih berdiri di sana.
“Ketika ayahmu dituduh memalsukan log, saya punya salinan percakapan yang bisa mendukung versinya. Laptop saya hilang dari kantor mahasiswa. Saya tidak punya cadangan. Saya takut jika bicara tanpa bukti, saya ikut dihancurkan. Jadi saya menunggu.”
“Sampai ayah mengundurkan diri.”
“Ya.”
“Sampai ayah meninggal.”
Ia mengangkat pandangan. Rasa bersalah di wajahnya begitu te******* hingga kemarahanku kehilangan arah, tetapi tidak hilang.
“Kenapa kembali sekarang?”
“Karena tiga bulan lalu saya menerima file anonim berisi potongan log lama. Karena Ratih menemukan revisi nilai baru dengan pola serupa. Karena saya sudah terlalu lama menjadikan takut sebagai alasan.”
“Dan karena saya ada di kelas.”
“Karena saya pikir kamu berhak mengetahui jika ka**s ayahmu belum selesai.”
“Tapi Bapak tidak bilang.”
“Saya ingin punya bukti sebelum membuka luka keluargamu.”
“Bapak tidak berhak memilih kapan luka saya boleh dibuka.”
Ia menerima kalimat itu tanpa membela diri.
Aku duduk di anak tangga. Kaki terasa lemas. Setelah beberapa detik, Pak Arga duduk dua anak tangga lebih rendah, c**up jauh agar tidak menyentuhku.
“Ayah pernah bicara tentang saya?” tanyanya.
Aku mencoba mengingat. “Ia pernah menyebut mahasiswa keras kepala yang menulis kesimpulan dulu baru mencari data.”
Pak Arga mengembuskan tawa tanpa bahagia. “Itu saya.”
“Katanya mahasiswa itu akhirnya belajar bahwa kebenaran tidak boleh dipaksa menyesuaikan ambisi.”
“Beliau percaya saya belajar.”
“Bapak belajar?”
“Tidak c**up cepat.”
Kami diam lama.
Aku memikirkan ayah di meja makan, tangan penuh tinta, mata lelah. Aku dulu menganggap ia diam karena malu. Bagaimana jika ia diam karena orang-orang di sekelilingnya memilih aman?
“Isi kotak akan dibawa ke mana?”
“Difoto, didaftarkan, dan disegel oleh Ratih besok pagi. Malam ini tidak boleh keluar tanpa berita acara.”
“Dimas bisa mengambilnya.”
“Saya akan menunggu bersama Pak Joko sampai Ratih datang.”
“Bapak tidak pulang?”
“Tidak.”
Aku berdiri. “Saya juga tinggal.”
“Tidak.”
“Itu dokumen ayah saya.”
“Dan kamu mahasiswa yang fotonya baru disebarkan. Berada semalaman di gedung bersama saya akan memberi mereka bahan baru.”
“Ada Pak Joko.”
“Orang yang ingin membuat cerita tidak membutuhkan fakta lengkap.”
Aku membenci bahwa ia benar.
Pak Arga mengambil ponsel. “Saya akan video call Ratih sekarang. Kamu menyaksikan serah terima awal, lalu pulang bersama Livia atau taksi yang tercatat.”
Aku mengangguk, bukan karena patuh, melainkan karena mulai memahami perbedaan antara perlindungan dan pengendalian. Ia memberiku pilihan yang bisa dipertanggungjawabkan, bukan menyuruhku menghilang.
Sebelum kembali ke ruang arsip, ia berkata, “Ada satu hal lagi.”
“Apa?”
“Ayahmu tidak hanya menyelamatkan karier saya. Ia menulis surat rekomendasi setelah ka**s itu, ketika semua dosen lain menjaga jarak. Tanpa surat itu, saya tidak akan mendapat pekerjaan pertama.”
“Kenapa ia tetap membantu Bapak setelah Bapak diam?”
Pak Arga tersenyum pahit. “Itu pertanyaan yang belum pernah bisa saya jawab.”
Ponselku bergetar. Pesan dari nomor tidak dikenal ma**k.
Kamu pikir dosen pengganti itu datang untuk menyelamatkan nama ayahmu?
Di bawahnya ada foto lama. Ayah berdiri di depan ruang sidang, sementara Arga muda berada beberapa langkah di belakang. Di tangannya ada spidol biru yang sama seperti milik Pak Arga sekarang.
Pesan kedua menyusul.
Tanyakan kenapa dia membiarkan ayahmu menanggung semuanya sendiri.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!