Tugas presentasi tentang etika komunikasi terasa seperti lelucon yang dirancang khusus untuk menyiksaku.
Pak Arga meminta setiap mahasiswa menganalisis satu ka**s ketika organisasi memilih melindungi reputasi daripada orang yang dirugikan. Aku mendapat giliran ketiga. Judul yang kutulis di slide pertama adalah: DIAM BUKAN POSISI NETRAL.
Livia membaca judul itu dari layar laptopku di Kafe Lentera dan mengangkat alis.
“Ini tugas atau surat terbuka buat dosen ganteng?”
“Bukan buat siapa-siapa.”
“Kalau kamu mengetik sambil menggigit bibir dan menghapus nama seseorang dari contoh ka**s, biasanya buat seseorang.”
Aku menutup laptop. “Kenapa kamu tidak pernah capek mengganggu?”
“Karena kalau aku berhenti, kamu akan mengubah stres jadi daftar tabel.”
Ia benar. Sejak membuka kotak berlabel Pramesti, aku membuat empat tabel: kronologi ayah, perubahan nilai, daftar orang yang punya akses, dan pertanyaan untuk Pak Arga. Kolom terakhir paling panjang.
Aku belum membalas pesan anonim. Foto lama itu kusimpan, lalu kukirim ke alamat khusus yang diberikan Pak Arga. Ia hanya menjawab: Saya mengenali foto tersebut. Jangan hubungi pengirim. Kita bahas di kampus dengan saksi.
Dengan saksi. Selalu ada batas, pintu terbuka, catatan, atau orang ketiga. Semakin ia menjaga jarak, semakin sulit bagiku menuduhnya berniat buruk. Dan semakin sulit pula mengabaikan cara suaranya berubah saat membicarakan ayah.
Malam presentasi, Ruang 4.12 penuh lebih awal. Rumor soal foto parkiran membuat semua orang rajin datang, mungkin berharap ada adegan lanjutan. Pak Arga ma**k tepat pukul delapan. Ia tidak melihat ke arahku lebih lama daripada mahasiswa lain.
Raka presentasi pertama. Ka**snya tentang perusahaan makanan yang menutupi kontaminasi produk. Livia kedua, membahas akun media sosial lembaga yang menghapus komentar korban. Ia sengaja menatap Pak Arga saat berkata, “Menghapus percakapan tidak sama dengan menyelesaikan masalah.”
Aku maju setelahnya.
Tanganku dingin, tetapi suara tetap stabil.
“Organisasi sering menganggap diam sebagai tindakan paling aman,” kataku. “Padahal diam memindahkan risiko dari pihak yang punya kuasa kepada pihak yang paling lemah.”
Slide berikutnya menampilkan diagram sederhana: FAKTA — AKSES — NARASI — KONSEKUENSI.
“Ketika dokumen resmi berubah, kita perlu menanyakan bukan hanya apa isinya, tetapi siapa yang punya akses untuk mengubahnya. Ketika seseorang dituduh, kita perlu menanyakan siapa yang diuntungkan jika tuduhan diterima tanpa pemeriksaan.”
Kelas hening.
Aku tidak menyebut ayah. Tidak menyebut nilai. Namun setiap kata terasa seperti membuka pintu yang selama ini kutahan.
Pak Arga duduk di meja depan, kedua tangan terlipat. “Apa tanggung jawab orang yang mengetahui ketidakadilan tetapi tidak memiliki bukti lengkap?”
Pertanyaan itu terlalu personal.
Aku menatapnya. “Mencari bukti. Bukan menunggu korban membuktikan dirinya sendirian.”
Beberapa mahasiswa bergeser di kursi. Mereka mungkin mengira kami memperdebatkan teori. Hanya kami yang tahu ada tujuh tahun di antara pertanyaan dan jawaban itu.
“Kalau mencari bukti membahayakan orang lain?” tanyanya.
“Libatkan mereka dalam keputusan. Jangan ambil pilihan mereka atas nama perlindungan.”
Tatapan kami bertahan satu detik terlalu lama.
Pak Arga mengangguk. “Baik. Lanjutkan.”
Setelah presentasi, ia memberikan nilai rubrik di layar proyektor untuk semua orang, transparan dan langsung. Ketika giliranku, ia tidak mema**kkan angka.
“Penilaian Saudari Nadira akan dilakukan oleh Bu Ratih mulai minggu ini,” katanya kepada kelas. “Untuk menghindari konflik kepentingan dalam proses audit.”
Bisik-bisik muncul seketika.
Aku sudah diberi tahu sebelumnya, tetapi mendengarnya di depan kelas tetap terasa seperti pintu yang ditutup di antara kami.
Raka mengangkat tangan. “Konflik kepentingan apa, Pak?”
“Nilai Saudari Nadira sedang menjadi bagian pemeriksaan. Penilai independen melindungi mahasiswa dan pengajar.”
“Karena foto itu?” seseorang di belakang bertanya.
Livia menoleh tajam, tetapi Pak Arga tetap tenang.
“Karena prosedur,” katanya. “Foto tanpa konteks tidak menentukan nilai siapa pun.”
Kelas berlanjut. Di akhir sesi, ia meminta semua orang menulis refleksi anonim tentang pengalaman menerima keputusan organisasi yang tidak transparan. Kotak kertas diletakkan di meja. Mahasiswa mema**kkan jawaban satu per satu.
Ketika aku keluar, sebuah kertas terlipat terselip di dalam bukuku. Aku tidak melihat siapa yang menaruhnya.
JANGAN PERCAYA DOSEN PENGGANTI.
Tulisan dicetak, bukan ditulis tangan. Di bawahnya ada nomor telepon yang tidak kukenal.
Aku menunjukkan kepada Livia.
“Telepon sekarang?” katanya.
“Tidak.”
“Bagus. Sekali-sekali kamu waras.”
Kami memotret kertas, lalu mema**kkannya ke plastik bening dari kotak makan. Pak Arga masih berada di kelas bersama Raka. Aku menunggu di lorong dengan pintu terbuka.
Saat ia melihat pesan itu, wajahnya tidak berubah, tetapi ia merapikan lengan kemeja.
“Nomor yang sama dengan pengirim foto?”
“Tidak.”
“Jangan hubungi.”
“Bapak tahu siapa?”
“Belum.”
“Apakah B**m?”
Ia menatapku. “Kenapa kamu langsung menyebut B**m?”
“Memo ayah ada parafnya. Kode akun terhubung unitnya. Dan dia hilang dari jadwal tepat saat audit dimulai.”
“Itu membuatnya relevan, belum membuktikan ia mengirim pesan.”
“Apa Bapak masih melindunginya?”
“Tidak.”
“Lalu apa yang Bapak lindungi?”
“Kualitas bukti.”
Jawaban itu sangat khas dirinya hingga aku ingin marah dan tersenyum bersamaan.
Pak Arga mema**kkan plastik ke map. “Saya akan serahkan ke Ratih. Kamu pulang dengan Livia.”
“Ada perkembangan dari kotak arsip?”
“Besok dokumen selesai dipindai. Satu halaman daftar lampiran hilang.”
“Halaman apa?”
“Yang mencatat siapa menerima salinan log asli.”
“Jadi seseorang mengambil bagian yang menunjukkan rant** bukti.”
“Ya.”
Ponselnya bergetar di meja. Layar menyala sebelum ia sempat membaliknya. Nama pengirim terlihat jelas.
B**M SURYANA.
Isi pesannya muncul pada notifikasi:
Kamu tidak berubah, Arga. Masih memakai keluarga Pramesti untuk menebus rasa bersalahmu.
Aku membaca kalimat itu. Pak Arga segera mengambil ponsel, tetapi terlambat.
“B**m masih menghubungi Bapak.”
“Ya.”
“Sejak kapan?”
“Sejak saya menerima penugasan.”
“Dan Bapak tidak bilang.”
“Nadira—”
“Apa lagi yang Bapak simpan?”
Ia berdiri diam, tidak mencoba mengejar ketika aku mundur.
Di ujung lorong, lampu sensor mati satu per satu. Suara Livia memanggil dari tangga.
Aku menatap Pak Arga untuk terakhir kali sebelum pergi.
Ponselnya kembali bergetar.
Pesan baru dari B**m:
Kalau dia tahu bagianmu yang sebenarnya, dia akan membencimu lebih dari aku.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!