Unggahan kedua muncul pukul enam pagi.
Kali ini foto parkiran tidak lagi menjadi pusat cerita. Akun Suara Cakrawala menampilkan kolase: aku duduk di depan kelas, Pak Arga berdiri di dekat mejaku, dan tangkapan layar palsu yang seolah menunjukkan nilai tugasku naik menjadi 95.
Judulnya: HASIL BIMBINGAN KHUSUS KELAS MALAM.
Aku tahu tangkapan layar itu palsu karena nilaiku bahkan belum dinilai oleh Bu Ratih. Namun kebohongan yang cocok dengan prasangka tidak membutuhkan pemeriksaan.
Pukul tujuh, surel dari biro kemahasiswaan ma**k.
Sehubungan dengan informasi publik yang berpotensi berkaitan dengan integritas akademik, status beasiswa Saudari berada dalam peninjauan sementara.
Tanganku gemetar sampai ponsel hampir jatuh.
Ibu menemukan aku duduk di lant** dapur.
“Apa yang terjadi?”
Aku menunjukkan surel tanpa menjelaskan foto. Ia membaca pelan, lalu wajahnya berubah seperti seseorang baru saja membuka kembali pintu yang sudah ia paku bertahun-tahun.
“Berhenti dari kelas itu,” katanya.
“Ini mata kuliah terakhir.”
“Ambil semester depan.”
“Beasiswa saya tidak menjamin semester depan.”
“Lebih baik terlambat daripada nama kamu dihancurkan seperti ayah.”
Aku berdiri. “Nama ayah dihancurkan karena semua orang diam.”
Ibu menatapku seolah aku baru saja menuduhnya. Mungkin memang begitu.
“Ada hal yang kamu tidak tahu.”
“Kalau Ibu terus menyimpannya, saya tidak akan pernah tahu.”
Ia pergi ke kamar tanpa menjawab.
Di kampus, pandangan orang terasa seperti tangan. Mahasiswa yang tidak kukenal melirik ketika aku melewati kantin. Dua orang berhenti bicara saat melihatku. Di grup kelas, seseorang mengirim tangkapan layar unggahan lalu menghapusnya. Livia menulis panjang tentang fitnah dan ancaman hukum, tetapi aku memintanya berhenti sebelum masalah melebar.
“Kenapa kita yang harus berhati-hati?” katanya ketika bertemu di depan gedung.
“Karena mereka menunggu kita meledak.”
“Kadang orang perlu dilempar kursi supaya belajar.”
“Jangan lempar kursi.”
“Aku cuma bilang kadang.”
Raka datang membawa hasil cetak portalnya. “Nilai 88-ku balik jadi 74 pagi ini.”
“Tanpa notifikasi?”
Ia mengangguk. “Seolah perubahan kemarin tidak pernah ada. Tapi screenshot lamaku masih ada.”
“Berarti mereka merapikan data.”
“Dan membuat punyamu seolah naik,” kata Livia. “Mereka mau semua orang percaya Pak Arga mengubah nilai setelah mengantar kamu.”
Aku menatap gedung. Di salah satu jendela lant** tiga, tirai bergerak.
Pak Arga tidak ma**k kelas malam itu.
Bu Ratih berdiri di depan Ruang 4.12 dan mengumumkan sesi ditunda tiga puluh menit karena rapat mendadak. Wajahnya tegas, rambut disanggul rapi, map merah berada di tangannya.
“Nadira, ikut saya,” katanya.
Kami menuju ruang rapat kecil. Pak Arga sudah berada di sana bersama dua staf biro kemahasiswaan. Ia berdiri ketika aku ma**k, lalu menahan diri agar tidak mendekat.
Di atas meja ada cetakan unggahan dan surat peninjauan beasiswa.
“Kami perlu pernyataan kamu,” kata salah satu staf. “Apakah Pak Arga pernah menjanjikan perubahan nilai?”
“Tidak.”
“Pernah bertemu di luar kampus?”
“Dia mengantar saya saat hujan. Saya duduk di belakang. Lokasi dibagikan ke teman. Tidak ada pemberhentian.”
“Kenapa hanya kamu?”
“Karena mahasiswa lain sudah pulang.”
“Apakah ada komunikasi pribadi?”
Aku melihat Pak Arga. Ia tidak memberi isyarat apa pun.
“Ada komunikasi tentang perubahan nilai dan audit. Semua bisa diperiksa.”
Staf itu menulis. “Apakah kamu memiliki hubungan pribadi dengan beliau?”
Pertanyaan itu menusuk karena jawaban formalnya mudah, sedangkan kebenaran emosionalnya belum punya bentuk.
“Tidak,” kataku. “Beliau dosen pengganti saya.”
Pak Arga menurunkan pandangan ke meja.
Bu Ratih mengambil alih. “Tangkapan layar nilai 95 sudah kami verifikasi palsu. Penilaian Nadira dialihkan kepada saya sebelum unggahan dibuat. Namun komite beasiswa tetap menjalankan prosedur.”
“Berapa lama?”
“Tujuh hari kerja.”
“Saya membayar uang kuliah dua minggu lagi.”
“Kami akan minta penangguhan tagihan.”
“Meminta bukan menjamin.”
Bu Ratih mengangguk. “Saya tahu.”
Setelah staf pergi, aku tetap duduk. Pak Arga membuka mulut, tetapi aku mendahului.
“B**m mengirim pesan kepada Bapak sejak awal.”
Bu Ratih menoleh tajam. “Pesan apa?”
Pak Arga mengeluarkan ponsel dan menyerahkannya. “Ancaman terselubung. Saya arsipkan.”
“Kenapa baru diberikan sekarang?”
“Saya ingin memastikan pola.”
Bu Ratih menutup mata sesaat. “Kamu tidak sedang bekerja sendirian, Arga.”
Kalimat itu sama dengan yang ingin kukatakan.
“Pesan terakhir menyebut bagian saya,” kata Pak Arga. “B**m mencoba memecah kepercayaan.”
“Berhasil,” kataku.
Ia menerimanya tanpa membela diri.
Bu Ratih meninggalkan kami untuk memulai kelas. Pintu ruang rapat tetap terbuka. Dari lorong terdengar suara mahasiswa ma**k.
Pak Arga berdiri di seberang meja. “Saya minta maaf.”
“Untuk menyimpan pesan atau untuk masa lalu?”
“Keduanya.”
“Maaf tidak mengembalikan beasiswa saya.”
“Saya tahu.”
“Tidak, Bapak tidak tahu. Kalau statusnya dicabut, saya berhenti kuliah. Saya tidak punya tabungan. Ibu tidak punya uang. Dan semua orang akan bilang saya gagal karena mencoba mendekati dosen.”
Rahangnya menegang. “Saya akan memastikan prosesnya adil.”
“Jangan. Kalimat seperti itu justru bisa dipakai melawan saya.”
Ia terdiam.
“Apa yang bisa saya lakukan?” tanyanya.
“Berhenti melindungi saya dengan menyimpan informasi.”
“Saya akan memberi semua pesan kepada Ratih.”
“Dan penilaian saya tetap bukan urusan Bapak.”
“Sudah saya alihkan.”
“Apa karena prosedur atau karena Bapak takut pada perasaan sendiri?”
Kata-kata itu keluar sebelum sempat kutarik kembali.
Pak Arga menatapku. Ruangan seolah menyusut.
“Saya mengalihkannya,” katanya pelan, “karena prosedur dan perasaan itu mengarah pada keputusan yang sama.”
Napas tertahan di tenggorokanku.
Ia tidak mengatakan lebih jauh. Tidak boleh. Aku juga tidak seharusnya ingin mendengar.
Dari lorong, Bu Ratih memanggil bahwa kelas dimulai.
Aku berdiri dan merapikan tas. “Malam ini Bapak mengajar?”
“Tidak. Sampai peninjauan awal selesai, Bu Ratih mengambil sesi.”
“Jadi mereka sudah mencopot Bapak?”
“Sementara.”
Aku keluar tanpa jawaban yang bisa menenangkan.
Di depan Ruang 4.12, semua orang menatap ketika aku ma**k. Ada kursi kosong di sebelah Livia. Aku berjalan melewati baris-baris dengan punggung tegak, meski setiap langkah terasa seperti menginjak pecahan kaca.
Ponselku bergetar.
Sebuah surel baru dari biro kemahasiswaan.
Subjek: PERMINTAAN KLARIFIKASI TAMBAHAN.
Lampirannya adalah dokumen daftar penerima “nilai khusus”. Namaku berada di baris pertama.
Di kolom pemberi persetujuan tertulis:
ARGA MAHENDRA.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!