Saya melihat nama saya di dokumen palsu sebelum Nadira mengirimkannya.
Ratih meneruskan lampiran dari biro kemahasiswaan pukul delapan lewat dua belas. Formatnya meniru lembar persetujuan audit: logo universitas, kode dokumen, kolom tanda tangan digital. Siapa pun yang membuatnya memahami kebiasaan administrasi fakultas.
Namun tanda tangan saya terlalu sempurna.
Tanda tangan digital resmi selalu menyimpan cap waktu dan nomor sertifikat. Pada dokumen itu, gambar tanda tangan ditempel seperti foto. Metadata file menunjukkan dokumen dibuat pukul 05.17 menggunakan komputer bernama FC-ADM04.
ADM-04.
Saya langsung teringat kartu identitas Dimas.
Tetapi metadata mudah dipalsukan. Seseorang yang memahami sistem akan sengaja meninggalkan jejak yang mengarah ke staf administrasi. Saya tidak boleh mengulang kesalahan masa lalu: menyukai satu teori lalu memaksa semua fakta menyesuaikannya.
Ketika ma**k ke Ruang 4.12, seluruh kelas sudah duduk. Ratih meminta saya menjelaskan perubahan pengajar sebelum ia mengambil sesi.
Nadira berada di baris kedua. Wajahnya tenang, tetapi jari-jarinya menghitung tepi buku: satu, dua, tiga, empat. Kebiasaan saat gugup. Saya menyadarinya pada malam pertama dan membenci diri sendiri karena terus memperhatikan.
“Saya akan menyampaikan satu hal,” kata saya di depan kelas. “Penilaian Saudari Nadira telah dialihkan kepada Bu Ratih sebelum unggahan akun anonim muncul. Saya tidak memiliki dan tidak akan menggunakan akses untuk mengubah nilainya.”
Seseorang di belakang bertanya, “Tapi ada dokumen persetujuan, Pak.”
“Dokumen itu sedang diverifikasi.”
“Kalau palsu, kenapa nama Bapak?”
“Karena pemalsuan bekerja dengan memakai sesuatu yang terlihat mungkin.”
Raka mengangkat tangan. “Pak, apakah nilai mahasiswa lain juga diubah?”
Ratih menjawab, “Audit sedang berlangsung. Kalian akan menerima pemberitahuan resmi.”
Bisik-bisik muncul. Nadira tidak melihat saya.
Saya menyerahkan kelas kepada Ratih, lalu berjalan ke ruang dosen. Di lorong, B**m menunggu bersandar pada dinding.
Ia seharusnya tidak berada di kampus.
Kemejanya rapi, senyumnya sama seperti tujuh tahun lalu—senyum orang yang yakin ruang ini miliknya meski namanya tidak ada di jadwal.
“Enam minggu belum selesai, tapi kelasmu sudah menarik,” katanya.
“Saya kira Anda cuti.”
“Saya juga kira kamu sudah belajar tidak mencampuri hal yang tidak bisa kamu selesaikan.”
Saya berhenti pada jarak dua meter. Kamera CCTV berada di atas pintu. “Kenapa datang?”
“Menemui Ratih. Nama saya dibawa-bawa dalam audit.”
“Karena unit lama Anda muncul di log.”
“Unit lama. Akun lama. Ka**s lama. Kamu selalu menyukai masa lalu.”
“Tidak. Saya hanya tidak suka orang menguburnya bersama bukti.”
B**m tertawa pelan. “Dan sekarang kamu memakai anak Hendra untuk menggali.”
“Saya tidak memakai Nadira.”
“Benarkah? Kamu mengambil kelasnya karena tahu ia ada di sana. Kamu mengantarnya pulang. Kamu menyimpan dokumen bersamanya setelah jam kuliah. Perasaanmu membuat pekerjaan saya jauh lebih mudah.”
Saya menahan tangan agar tidak mengepal. “Foto itu dari jaringan Anda?”
“Kalau kamu punya bukti, laporkan.”
Ia melangkah mendekat. “Hendra dulu juga yakin moralitas c**up untuk menang. Lihat bagaimana akhirnya.”
“Namanya akan dipulihkan.”
“Dengan menghancurkan putrinya?”
Kalimat itu tepat mengenai ketakutan yang paling saya sembunyikan.
B**m melihat reaksinya dan tersenyum. “Kamu masih sama. Selalu ingin menjadi orang baik, tetapi terlambat memilih keberanian.”
Ia pergi sebelum saya menjawab.
Saya mengirim rekaman suara dari ponsel kepada Ratih. Sejak pesan ancaman pertama, saya menyalakan p****am setiap kali B**m berada dekat. Tidak ada pengakuan langsung, tetapi c**up untuk menunjukkan intimidasi.
Pukul sembilan tiga puluh, kelas selesai. Nadira keluar bersama Livia. Saya memanggilnya dari pintu ruang dosen.
“Boleh bicara lima menit? Pintu terbuka. Bu Ratih di dalam.”
Nadira ragu, lalu ma**k. Ratih duduk di meja lain sambil memeriksa tugas.
Saya menunjukkan metadata dokumen palsu. “Nama komputer mengarah ke unit administrasi, tetapi belum c**up untuk menuduh siapa pun.”
“Bapak ingin saya percaya dokumen itu palsu.”
“Saya ingin kamu melihat cara memeriksanya sendiri.”
Ia membaca setiap det**l. “Tanda tangan ditempel. Tidak ada sertifikat.”
“Benar.”
“Kenapa nama saya di baris pertama?”
“Untuk membuat semua orang menghubungkan foto dengan nilai.”
“Dan kenapa nama Bapak?”
“Karena kedekatan yang mereka bangun sebagai narasi membutuhkan pihak berkuasa.”
Nadira akhirnya menatap saya. “Bapak bertemu B**m?”
Saya terkejut. “Bagaimana kamu tahu?”
“Saya melihatnya keluar dari lorong.”
Saya memutar rekaman. Ia mendengarkan tanpa ekspresi sampai B**m menyebut perasaan saya.
Ratih berhenti menulis di sudut ruangan, tetapi tidak menoleh.
Nadira mengembalikan ponsel. “Dia sengaja memancing.”
“Ya.”
“Apakah yang dia bilang salah?”
Saya memilih setiap kata. “Tentang saya memakai kamu, salah. Tentang saya mengambil penugasan karena tahu kamu ada di kelas, benar. Tentang saya takut ka**s ini menghancurkan kamu, benar.”
“Yang terakhir?”
Ruangan menjadi sangat sunyi.
“Saya tidak akan membahas perasaan pribadi selama saya masih punya hubungan akademik dengan kamu.”
“Bahkan setelah nilai dialihkan?”
“Saya masih dosen di kelas ini. Itu c**up.”
Nadira mengangguk kecil, tetapi matanya terluka. “Jadi Bapak bisa mengatakan ada perasaan, lalu bersembunyi di balik prosedur.”
“Prosedur bukan tempat bersembunyi. Itu batas yang melindungi kamu dari saya, dari kampus, dan dari cerita yang ingin mereka buat.”
“Batas juga bisa terasa seperti ditinggalkan.”
Saya menahan napas.
“Kalau saya menjauh tanpa menjelaskan, itu meninggalkan,” kata saya. “Kalau saya tetap ada tetapi tidak mengambil sesuatu yang belum boleh saya ambil, itu menunggu.”
Ratih berdeham pelan. Lima menit kami sudah habis.
Nadira berdiri. “Saya tidak meminta Bapak menunggu.”
“Saya tahu.”
Ia pergi bersama Livia.
Saya tetap di ruangan sampai langkahnya hilang. Ratih menutup map.
“Kamu sadar kalimatmu bisa dianggap pengakuan?”
“Saya tidak menyatakan hubungan.”
“Kamu menyatakan ada sesuatu yang harus ditunggu.”
“Saya tidak mau berbohong kepadanya lagi.”
Ratih memandang saya lama. “Kalau begitu lakukan satu hal yang benar sejak awal. Serahkan seluruh penilaian, seluruh komunikasi, dan jangan sekali pun menghubunginya tanpa jalur yang bisa diperiksa.”
“Saya sudah melakukannya.”
“Bagus. Karena mulai besok, komite etik akan memeriksa kamu juga.”
Ia menggeser surat resmi ke depan saya.
PENGAWASAN SEMENTARA ATAS POTENSI KONFLIK KEPENTINGAN.
Di bagian bawah ada tanda tangan B**m sebagai pelapor.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!