Cawan Getir: Barista Penagih Nyawa

Bab 1: Bab 1 - Menemukan Kafe Aroma Merah di tengah keputusasa...

Pengaturan Membaca

Hujan di Jakarta tidak pernah membawa keberkahan bagi Aris, hanya bau aspal basah yang menyesakkan dan genangan air keruh yang merusak sepatu pantofelnya—satu-satunya barang bermerek yang tersisa di tubuhnya. Pria itu menyusuri gang sempit di kawasan Jakarta Pusat yang bahkan tidak ma**k dalam peta digital. Napasnya memburu, uap tipis keluar dari mulutnya yang gemetar. Di saku jasnya yang lembap, secarik kertas penyitaan aset dari bank terasa seberat batu nisan.

Semua sudah hilang. Kantor mentereng di Sudirman, mobil sport yang baru dicicil tiga bulan, hingga senyum palsu rekan-rekan bisnisnya. Semuanya lenyap dalam satu malam akibat spekulasi saham yang gagal total. Aris menatap telapak tangannya yang gemetar. Dia tidak bisa pulang ke rumah orang tuanya di daerah dan mengaku sebagai pecundang. Baginya, kemiskinan adalah dosa yang lebih besar daripada kematian.

"Di mana tempat itu..." gumamnya, suaranya parau karena terlalu banyak merokok dan kurang tidur.

Matanya menangkap seberkas cahaya kemerahan di ujung gang yang buntu. Sebuah papan kayu tua tergantung miring, berayun pelan ditiup angin malam. *Aroma Merah*. Tidak ada lampu neon yang terang, hanya lampion kertas berwarna merah darah yang berpendar redup, kontras dengan kegelapan tembok-tembok berlumut di sekelilingnya.

Aris mendorong pintu kayu yang berat itu. Suara lonceng kecil berdenting, membelah kesunyian yang ganjil.

Berbeda dengan udara Jakarta yang gerah dan pengap, di dalam kafe itu udaranya sejuk, hampir dingin, dengan aroma kopi yang begitu pekat hingga terasa seperti meresap ke dalam pori-pori kulitnya. Ada aroma lain yang bersembunyi di balik wangi biji kopi itu—sesuatu yang manis namun tajam, seperti bau logam atau bunga yang membusuk.

Di balik meja bar kayu jati yang legam, seorang pria berdiri dengan tenang. Dia mengenakan rompi hitam di atas kemeja putih yang licin sempurna tanpa satu pun lipatan. Rambutnya disisir rapi ke belakang, dan matanya—Aris merasa seolah-olah sedang menatap sumur tanpa dasar—menatapnya dengan sorot yang tidak ramah namun juga tidak menolak.

"Selamat datang," suara pria itu berat dan berwibawa. "Saya Malik. Kamu terlihat seperti pria yang sedang mencari sesuatu yang lebih dari sekadar kafein."

Aris menyeret kakinya mendekati bar, duduk di kursi tinggi yang berderit. Dia mencoba merapikan kerah jasnya yang basah, berusaha mempertahankan sisa-sisa harga dirinya yang sudah compang-camping.

"Aku butuh... aku dengar tempat ini bisa memberikan 'solusi'," ujar Aris, matanya melirik ke arah menu yang kosong di atas meja.

Malik tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. Dia mulai membersihkan sebuah cangkir porselen putih dengan kain beludru. "Solusi selalu ada harganya, Tuan...?"

"Aris. Namaku Aris."

"Tuan Aris," Malik meletakkan cangkir itu di depan Aris. "Di sini, kami tidak menerima uang tunai atau kartu kredit. Dan dari penampilanmu, aku ragu kamu punya sisa saldo di rekeningmu."

Wajah Aris memanas. Dia mengepalkan tinju di atas meja. "Aku memang bangkrut sekarang, tapi aku punya otak! Aku punya insting bisnis. Beri aku kesempatan, buatkan aku kopi yang katanya bisa mengubah keberuntungan itu, dan aku akan membayarmu sepuluh kali lipat begitu aku sukses kembali!"

Malik tertawa pelan, suara yang terdengar seperti gesekan kertas pasir. Dia membungkuk sedikit, wajahnya kini hanya berjarak beberapa inci dari Aris. Aris bisa mencium bau kayu cendana dan dingin yang menusuk dari tubuh barista itu.

"Uang hanyalah kertas yang dibakar manusia untuk memuaskan ego mereka, Aris. Di Aroma Merah, kami bertransaksi dengan sesuatu yang jauh lebih jujur. Sesuatu yang benar-benar kamu miliki."

Malik mengambil sebuah wadah kaca berisi biji kopi yang berwarna merah gelap, hampir hitam. Dia mema**kkannya ke dalam penggiling manual. Suara derit mesin penggiling itu terdengar seperti tulang yang remuk.

"Aku tidak punya apa-apa lagi," bisik Aris, bahunya merosot. Putus asa kini sepenuhnya menguasai suaranya. "Rumah, mobil, bahkan tunanganku sudah pergi. Apa lagi yang bisa kau ambil?"

Malik berhenti menggiling. Dia menatap Aris dengan tatapan predator yang telah menemukan mangsanya. "Kamu punya waktu, Aris. Kamu punya sisa napas. Kamu punya detak jantung yang masih tersisa dalam jatah umurmu."

Aris mengerutkan kening, tidak mengerti. "Maksudmu?"

"Satu cangkir 'Kopi Merah' ini akan memberikanmu keberuntungan luar biasa selama satu bulan ke depan. Proyek yang gagal akan hidup kembali, investor akan bertekuk lutut di hadapanmu, dan uang akan mengalir seperti air bah," Malik mulai menuangkan air panas ke atas bubuk kopi. Uap mengepul, aroma yang dihasilkan begitu memabukkan hingga kepala Aris terasa berputar. "Harganya? Satu bulan dari sisa umurmu untuk setiap tegukan keberuntungan."

Aris terdiam. Detak jantungnya berpacu. Di satu sisi, ini terdengar seperti bualan orang g***. Namun, di sisi lain, tatapan Malik dan atmosfer kafe ini terasa terlalu nyata untuk dianggap lelucon. Keinginannya untuk kembali berkuasa, untuk melihat orang-orang yang merendahkannya menjilat kakinya, jauh lebih besar daripada ketakutannya akan hal mistis.

"Hanya sebulan?" Aris tertawa hambar. "Aku masih muda. Tiga puluh tahun. Kehilangan satu atau dua bulan tidak akan membunuhku."

"Banyak yang berpikiran sama sepertimu," Malik mendorong cangkir berisi cairan hitam pekat itu ke hadapan Aris. Permukaan kopi itu tampak berkilau, tidak memantulkan cahaya lampu, melainkan seolah menyerapnya. "Tapi ingat, sekali transaksi dimulai, tidak ada jalan kembali. Apakah kamu layak menjadi pelanggan di sini, Aris? Apakah ambisimu c**up besar untuk membayar harganya?"

Aris menatap cairan di dalam cangkir itu. Dia membayangkan wajah ayahnya yang kecewa dan tawa mengejek saingan bisnisnya. Dengan tangan gemetar, dia meraih gagang cangkir.

"Aku layak," desis Aris. "Berikan aku kesuksesan itu. Aku tidak peduli dengan harganya."

Aris mendekatkan cangkir itu ke bibirnya. Cairan itu terasa panas membakar, namun saat menyentuh lidahnya, ada sensasi nikmat yang tidak ma**k akal—seperti aliran listrik yang menyengat saraf-sarafnya, membangkitkan gairah yang telah mati.

Namun, tepat saat tegukan pertama menyentuh tenggorokannya, Aris merasakan denyut tajam di dadanya. Sejenak, pandangannya menggelap, dan dia bersumpah melihat bayangan sosok makhluk bersayap hitam di pantulan cermin di belakang Malik.

Aris tersedak, meletakkan cangkir itu dengan kasar. Dia menyentuh dadanya, napasnya tersengal. "Apa... apa yang barusan terjadi?"

Malik hanya tersenyum lebar, kali ini matanya berkilat kemerahan. Dia mengambil sebuah buku besar dari bawah meja dan menuliskan nama 'Aris' di sana dengan tinta yang tampak terlalu kental.

"Transaksi dimulai, Tuan Aris," ujar Malik pelan. "Satu bulan umurmu baru saja berpindah ke tanganku. Sekarang, perg***h. Dunia sudah menunggumu untuk bertekuk lutut. Tapi ingat... aku akan datang menagih sisa hutangmu jika kamu terlalu serakah."

Aris berdiri, merasa tubuhnya tiba-tiba sangat ringan, namun ada rasa hampa yang aneh di ulu hatinya. Dia berjalan keluar tanpa menoleh lagi. Begitu kakinya menginjak trotoar, ponsel di sakunya yang tadinya mati karena kehabisan daya, tiba-tiba menyala. Sebuah notifikasi ma**k.

Itu dari pengacaranya. Satu pesan singkat: *'Aris, ada keajaiban. Pihak bank membatalkan penyitaan. Investor dari Singapura baru saja menelepon. Mereka ingin bertemu sekarang.'*

Aris tersenyum lebar, sebuah seringai ambisius yang tampak mengerikan di bawah hujan. Dia tidak menyadari bahwa di bawah lampu jalan, bayangannya sendiri tampak sedikit lebih pendek dari seharusnya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca