Tanganku gemetar hebat saat mema**kkan kunci ke lubang starter mobil. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisku, membawa aroma anyir yang samar namun menusuk—bau yang belakangan ini selalu mengikutiku, bau daging yang mulai menyerah pada waktu. Aku melirik cermin tengah dan segera memalingkan wajah. Kulit di bawah mata kiriku telah berubah warna menjadi abu-abu kebiruan, seolah-olah ada tinta hitam yang bocor di bawah permukaannya.
"Tidak sekarang. Belum sekarang," bisikku dengan suara serak yang nyaris tak kukenali.
Mesin menderu, dan aku segera memacu sedan hitam ini keluar dari basement apartemen. Pikiranku hanya tertuju pada satu titik di peta: sebuah rumah tua milik mendiang kakek di kaki Gunung Salak. Jauh dari Jakarta, jauh dari gang-gang sempit yang lembap, dan yang terpenting, jauh dari aroma kopi yang menyesakkan dada itu.
Jakarta malam ini terasa seperti pemangsa yang sedang mengint**. Hujan turun tipis-tipis, menyulap aspal menjadi cermin hitam yang memantulkan lampu-lampu kota dengan cara yang ganjil. Aku menginjak pedal gas lebih dalam saat mema**ki gerbang tol ke arah selatan. Jantungku berdegup kencang, menab**k dinding dada yang terasa semakin rapuh. Setiap kali jantung itu berdetak, aku merasa seolah-olah ada pasir yang terkuras habis dari jam kaca dalam tubuhku.
Satu jam berlalu. Seharusnya aku sudah melewati wilayah Depok atau setidaknya melihat tanda arah menuju Bogor. Namun, yang kulihat di depan hanyalah kabut tipis yang merayap di atas jalan tol. Anehnya, jalanan begitu sepi. Tidak ada truk, tidak ada bus antarkota, hanya mobilku sendiri yang membelah kegelapan.
"Ada yang salah," gumamku, mencengkeram kemudi hingga buku-buku jariku memutih.
Aku memutuskan untuk keluar di gerbang tol terdekat. Plang penunjuk jalan di depanku tertutup jelaga hitam, namun aku tetap memutar kemudi ke arah kiri. Aku butuh keramaian. Aku butuh melihat manusia normal yang tidak memiliki aroma kematian di kulit mereka.
Namun, saat aku menuruni jalan layang keluar tol, pemandangan di depanku membuat napasku tercekat. Aku tidak menemukan perumahan atau deretan ruko. Mobilku justru melambat di sebuah jalanan aspal sempit yang diapit oleh tembok-tembok kusam berlumut. Cahaya lampu merkuri yang remang-remang berkedip-kedip seolah sedang sekarat.
Aku menginjak rem dengan paksa. Dadaku naik-turun dengan cepat. Ini mustahil. Aku baru saja berkendara puluhan kilometer ke arah selatan. Bagaimana mungkin aku kembali ke daerah Jakarta Barat? Di ujung jalan itu, tersembunyi di balik bayang-bayang gedung tua, aku melihat papan kayu kecil yang bergoyang tertiup angin.
*Kafe Aroma Merah.*
"Si****! Tidak mungkin!" teriakku, memukul kemudi hingga telapak tanganku perih.
Aku segera memindahkan gigi mundur, memutar balik mobil dengan serampangan hingga ban berdecit memprotes aspal yang basah. Aku memacu mobil kembali ke arah jalan raya utama. Aku tidak peduli lagi soal arah; aku hanya ingin menjauh. Aku berbelok ke kanan, lalu ke kiri, lalu mengambil jalan memutar melewati gang-gang tikus yang kutahu tembus ke jalan protokol.
Namun, setiap kali aku berbelok, setiap kali aku merasa telah menjauh, pemandangan itu kembali lagi. Tembok berlumut yang sama. Genangan air hujan yang sama. Dan aroma kopi—robusta pekat yang dicampur dengan sesuatu yang manis namun busuk—mulai merayap ma**k melalui ventilasi AC mobilku.
Rasa takut yang murni mulai melumpuhkan logikaku. Aku menghentikan mobil, keluar, dan memutuskan untuk berlari. Kakiku tersandung-sandung di atas trotoar yang licin. Napasku tersengal, paru-paruku terasa seperti diisi oleh abu panas.
"Tolong! Siapa saja!" teriakku ke arah kegelapan.
Sunyi. Hanya suara tetesan air dari atap seng yang menjawabku. Aku berlari ma**k ke dalam sebuah gang yang kuharap menuju jalan besar yang ramai dengan ojek daring atau pedagang kaki lima. Aku terus berlari hingga lututku terasa lemas, hingga perban di bahuku—yang menutupi luka busuk akibat 'bayaran' tegukan kopi terakhir—mulai merembeskan cairan hitam yang lengket.
Langkahku terhenti seketika. Di depanku, berdiri sebuah pintu kayu tua dengan ukiran rumit yang sangat kukenal. Pintu itu sedikit terbuka, membiarkan seberkas cahaya kuning hangat jatuh ke permukaan jalanan yang becek.
Aku kembali ke sana. Untuk keempat kalinya dalam satu jam terakhir, aku berakhir tepat di depan Kafe Aroma Merah. Ruang dan waktu seolah melengkung, mengikatku dalam lingkaran s**** yang ujung-ujungnya selalu kembali ke titik ini.
"Kau tidak bisa lari dari kontrak yang sudah kau tanda tangani dengan lidahmu sendiri, Aris."
Suara itu lembut, bariton, dan datang dari arah belakang. Aku membalikkan badan dengan cepat, punggungku menab**k pintu kafe yang dingin. Di sana, di bawah naungan payung hitam yang elegan, berdiri Malik. Ia masih mengenakan rompi baristanya yang rapi, bersih seolah-olah hujan tidak berani menyentuh kain pakaiannya.
Malik melangkah maju, membiarkan cahaya lampu jalan menyinari wajahnya yang pucat dan tenang. Ia melihat arloji peraknya dengan gerakan yang sangat sopan.
"Masih ada sisa waktu sepuluh menit sebelum jatuh tempo," ucapnya sambil tersenyum tipis, memperlihatkan deretan gigi yang terlalu putih untuk ukuran manusia. "Kenapa repot-repot berolahraga malam begini? Kau terlihat sangat lelah. Kulitmu... ah, baunya sudah mulai mengganggu tetangga."
"Apa yang kau lakukan padaku?" pekikku, suaraku pecah karena tangis yang tertahan. "Aku punya uang! Aku bisa bayar berapa pun! Ambil hartaku, ambil perusahaanku, tapi biarkan aku pergi!"
Malik tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan logam di atas kaca. Ia melangkah mendekat hingga aku bisa mencium aroma kopi paling murni yang pernah ada—aroma yang kini terasa seperti vonis mati bagiku.
"Aris, Aris... kau pengusaha yang cerdas, tapi kau lupa satu hal mendasar," Malik mengulurkan tangan, jemarinya yang panjang dan dingin menyentuh pipiku yang mulai mati rasa. "Di kafe ini, mata uangnya bukan rupiah. Kau sudah menghabiskan modalmu. Sekarang, saatnya aku melakukan audit terakhir."
Ia menunjuk ke arah dalam kafe yang gelap. "Ma**klah. Kopi terakhirmu sudah siap, dan kali ini, aku yang traktir."
Pintu di belakangku terbuka sendiri dengan derit yang memilukan, seolah-olah bangunan itu sendiri sedang menguap, siap menelanku bulat-bulat. Aku menatap ke dalam kegelapan kafe, dan di sana, di atas meja bar, sebuah cawan porselen putih mengepulkan uap merah pekat yang tampak seperti darah yang mendidih.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!