Napas Aris memburu, pendek dan bergetar, meninggalkan uap tipis di udara malam yang mendadak mendingin. Setiap kali paru-parunya mengembang, ia merasakan tusukan tajam di tulang rusuknya, seolah-olah organ dalamnya perlahan-lahan mengeras menjadi batu. Ia menyentuh pipi kirinya. Kulit di sana terasa kasar, kering, dan mati rasaβseperti kertas perkamen tua yang siap robek kapan saja.
Di depannya, pintu kayu jati Kafe Aroma Merah berdiri kokoh di ujung gang yang gelap. Tidak ada papan penanda 'Buka' malam ini. Hanya ada aroma kopi yang menyengat, bercampur dengan bau anyir yang membuat perut Aris mual.
"Hanya perlu satu gerakan cepat," bisik Aris pada dirinya sendiri, suaranya parau seperti gesekan ampelas. "Temukan buku itu, bakar namamu, dan semuanya selesai."
Ia mendorong pintu. Tidak terkunci.
Interior kafe itu berbeda dari biasanya. Lampu-lampu gantung yang biasanya memberikan cahaya temaram nan hangat, kini hanya berpijar redup dengan rona kemerahan yang tidak sehat. Bayangan di sudut-sudut ruangan tampak lebih pekat, seolah-olah mereka memiliki massa dan kehendak sendiri.
Langkah kaki Aris yang biasanya mantap, kini terseret. Ia mendekati meja bar m***ni tempat Malik biasa berdiri. Di belakang sana, di sebuah rak yang tersembunyi di balik jajaran toples biji kopi hitam, ia tahu Malik menyimpan *Leperdu*βbuku besar kulit manusia yang mencatat setiap tegukan hutang nyawa para pelanggannya.
Tiba-tiba, udara di sekitarnya mengental. Aris membeku.
Dari balik bayangan mesin *espresso*, sesuatu merayap keluar. Itu bukan manusia, bukan pula hewan. Bentuknya menyerupai sosok pria yang memanjang secara tidak wajar, dengan kulit sewarna abu rokok yang melekat ketat pada tulang. Wajahnya rata, tanpa mata, hanya menyisakan sebuah lubang menganga sebagai mulut yang terus-menerus meneteskan cairan hitam pekat.
*Penjaga.*
Makhluk itu mendengus, lubang hidungnya yang kecil bergetar, mengendus aroma ketakutan yang menguar dari pori-pori Aris.
Aris menahan napas sampai dadanya terasa mau meledak. Ia teringat kata-kata Malik suatu kali: *"Mereka tidak bisa melihatmu, Aris. Mereka hanya bisa merasakan detak jantung yang terlalu kencang dan ambisi yang terlalu berisik."*
Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang liar. *Tenang, Aris. Kau sudah kehilangan segalanya, apa lagi yang harus ditakutkan?*
Dengan gerakan yang sangat lambat, ia merangkak di balik konter. Tangannya yang gemetar menyentuh permukaan kayu yang dingin. Di sana, ia melihatnya. Sebuah buku besar tebal dengan sampul cokelat kusam yang tampak berdenyut pelan, seolah-olah memiliki jantung di dalamnya.
Aris mengulurkan tangan, tetapi sebuah erangan rendah menghentikannya. Penjaga itu kini berada tepat di atas meja bar, hanya terpaut beberapa inci dari kepalanya. Cairan hitam menetes dari mulut makhluk itu, jatuh tepat di punggung tangan Aris.
Panas. Rasanya seperti asam yang membakar kulit.
Aris menggigit bibir bawahnya keras-keras hingga berdarah untuk menahan teriakan. Rasa sakit itu justru memicu adrenalinnya. Dengan satu sentakan nekat, ia menyambar buku itu.
Seketika, seluruh kafe seolah menjerit. Suara itu bukan berasal dari telinga, melainkan langsung menghantam otaknya. Bayangan-bayangan di dinding mulai memisahkan diri, membentuk tangan-tangan kurus yang mencoba menggapai kakinya.
"Dapat!" desis Aris.
Ia membuka buku itu secara acak. Lembarannya terasa lembap dan lengket. Ia membalik halaman demi halaman dengan panik. Namanya harus ada di sana. *Aris Firmansyah.*
Di tengah kekacauan itu, ia melihat namanya. Tulisan itu berwarna merah menyala, bergerak-gerak seperti cacing di atas kertas. Di samping namanya, tertera sisa umur: *0 Bulan, 2 Hari, 4 Jam.*
"Ba******," umpatnya. Ia merogoh saku mantelnya, mencari pemantik api. Namun, sebelum ia sempat memercikkan api, sebuah tangan dingin dan kuat mencengkeram pergelangan tangannya.
Cengkeraman itu begitu kuat hingga Aris mendengar bunyi *krak* kecil dari tulang lengannya. Ia mendongak dan menemukan Malik berdiri di sana. Barista itu tidak tampak marah; ia justru terlihat kecewa, seperti seorang ayah yang melihat anaknya melakukan kesalahan konyol.
"Mencuri bukan gaya seorang pengusaha sukses, Aris," ucap Malik tenang. Suaranya bergema di ruangan yang kini dipenuhi oleh entitas-entitas yang merayap mendekat.
"Ini penipuan!" teriak Aris, mencoba meronta namun sia-sia. "Kau menghisapku sampai kering! Kau bilang aku akan sukses!"
Malik tersenyum, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya yang gelap sedalam sumur. "Kau *sudah* sukses, bukan? Kau punya gedung, kau punya pengaruh. Aku hanya menagih bayarannya. Dan kau baru saja melanggar protokol keamanan keduaku."
Malik melirik ke arah para Penjaga yang kini mengepung Aris dengan mulut terbuka lebar, siap untuk mencabik.
"Kau tahu, Aris? Buku itu tidak bisa dibakar dari luar," Malik membisikkan kata-katanya tepat di telinga Aris yang mulai menghitam. "Ia hanya bisa dibakar oleh pemilik kontraknya sendiri... dari dalam."
Tiba-tiba, Malik melepaskan cengkeramannya, tetapi bukannya membiarkan Aris lari, ia justru mendorong Aris hingga jatuh terduduk di lant**. Di sekeliling Aris, makhluk-makhluk itu mulai menjatuhkan diri dari langit-langit kafe, menindih tubuhnya dengan bobot yang luar biasa berat.
Aris berteriak saat ia merasakan jari-jari dingin mulai merobek pakaiannya dan menyentuh kulitnya yang membusuk. Di tengah himpitan itu, ia melihat buku besar di tangannya mulai terbuka sendiri, dan halaman yang memuat namanya mulai memancarkan cahaya hitam yang menyedot kesadarannya.
"Selamat datang di bagian akhir kontrakmu," suara Malik terdengar menjauh.
Pandangan Aris menggelap, tetapi sebelum ia benar-benar kehilangan kesadaran, ia merasakan sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada rasa sakit: namanya di dalam buku itu mulai terhapus, digantikan oleh baris tulisan baru yang muncul perlahan.
*Properti Abadi Aroma Merah.*
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!