Langkah kakiku terseret, menciptakan suara gesekan parau di atas aspal gang yang basah oleh sisa hujan. Bau got yang membusuk beradu dengan aroma lembap dinding bata berlumut, tapi hidungku hanya bisa menangkap satu bau: aroma kopi yang tajam, pekat, dan seolah memanggil namaku dari ujung lorong. Setiap kali aku melangkah, sendi-sendiku berderit seperti engsel pintu tua yang tak pernah diminyaki.
Aku berhenti sejenak di depan kaca etalase sebuah toko kelontong yang sudah tutup. Di bawah temaram lampu jalan yang berkedip, aku melihat pantulan diriku. Jas mahal rancangan desainer Italia itu menggantung layu di pundakku yang kini menyusut. Kulit wajahku pucat keabu-abuan, mencekung di bagian pipi seolah daging di bawahnya telah habis dimakan rayap tak terlihat. Rambutku rontok, menyisakan pitak-pitak yang menyedihkan. Aku terlihat seperti mayat yang dipaksa berjalan oleh ambisi.
Aku meraba saku celanaku, merasakan tekstur kunci mobil sport yang baru kubeli minggu lalu. Benda itu seharusnya memberiku kepercayaan diri, tapi sekarang, beratnya terasa seperti beban timah yang menarikku ke liang lahat.
Pukul 11.55 malam. Aroma Merah sudah terlihat di ujung sana. Cahaya kuning redup dari balik jendelanya adalah satu-satunya hal yang tampak hidup di gang mati ini.
Aku mendorong pintu kayu berat itu. Denting lonceng kecil di atas pintu terdengar seperti lonceng kematian di telingaku.
Malik berdiri di sana, di balik konter marmer hitamnya yang meng***t. Ia sedang mengelap sebuah cangkir porselen putih dengan gerakan yang begitu tenang, hampir seperti ritual. Wajahnya tidak berubah sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di sini tiga bulan laluβtetap awet muda, dengan senyum tipis yang tidak pernah mencapai matanya yang sedalam sumur tua.
"Tepat waktu, Aris," sapa Malik tanpa mendongak. suaranya halus, seperti gesekan beludru di atas luka terbuka. "Kau terlihat... lelah."
Aku tertatih menuju kursi tinggi di depan bar, mencengkeram tepian meja agar tidak ambruk. "Aku butuh satu lagi, Malik. Hanya satu cangkir lagi. Proyek di Sudirman itu... aku butuh tanda tangan menteri besok pagi. Berikan aku satu tegukan lagi."
Malik berhenti mengelap. Ia menatapku, lalu meletakkan cangkir itu di meja. "Satu bulan umur untuk satu keberuntungan. Kau ingat peraturannya, bukan? Masalahnya, Aris, kau sudah tidak punya sisa deposit."
"Bohong!" teriakku, suaranya pecah menjadi batuk kering yang menyakitkan. Aku mengeluarkan ponselku, jariku yang gemetar membuka aplikasi perbankan. "Lihat! Saldo ini... miliaran rupiah! Aku punya aset, aku punya gedung, aku punya segalanya! Ambil apa saja, tapi berikan aku waktu!"
Malik terkekeh pelan. Ia berjalan memutari konter, mendekatiku dengan langkah yang tak bersuara. Ia meraih ponsel dari tanganku.
"Kau ingin melihat kesuksesanmu?" Malik menyentuh layar ponselku.
Seketika, angka-angka nol yang berderet di layar itu mulai memudar. Mereka berubah menjadi karakter aneh yang bergerak-gerak, lalu lenyap, menyisakan layar kosong yang retak. Aku terbelalak. Aku meraba saku jas, mengeluarkan dompet kulit buaya milikku. Saat kubuka, tumpukan uang seratus ribu yang merah merona itu berubah menjadi tumpukan daun kering yang hancur menjadi abu begitu terkena udara.
"Apa yang kau lakukan?!" aku menjerit, mencoba meraih abu itu.
"Aku tidak melakukan apa-apa, Aris," bisik Malik tepat di telingaku. "Aku hanya melepaskan tabir yang menutup matamu. Kau pikir bagaimana mungkin seorang pria yang bangkrut total bisa menjadi triliuner dalam hitungan minggu? Kau pikir menteri-menteri itu benar-benar mengagumimu?"
Malik berjalan menuju jendela kafe dan menyibakkan tirainya. "Lihat keluar."
Aku menyeret tubuhku ke jendela. Di luar sana, mobil sport-ku yang seharusnya terparkir gagah kini hanyalah rongsokan berkarat yang ditumbuhi ilalang. Apartemen mewah yang kulihat dari kejauhan hanyalah bangunan mangkrak yang gelap dan menyeramkan. Semua orang yang memujiku, semua tepuk tangan di ruang rapat, semua itu...
"Ilusi," Malik berkata dingin. "Jiwa manusia itu seperti kopi, Aris. Jika ia mentah, rasanya sepat dan tak enak. Tapi jika ia dipanggang dengan api ambisi, diseduh dengan keserakahan, dan diberi pemanis berupa ilusi kejayaan... rasanya akan sangat luar biasa saat aku menyesapnya nanti."
Duniaku berputar. Kepalaku terasa seperti dihantam palu godam. Rasa sakit yang selama ini kutahanβrasa busuk di dalam organ tubuhkuβmeledak sekaligus. Aku jatuh berlutut, memegangi dadaku yang sesak.
"Jadi... selama ini aku tidak mendapatkan apa-apa?" suaraku hanya berupa bisikan parau.
"Kau mendapatkan rasa senang itu, bukan? Perasaan menjadi pemenang, perasaan diakui," Malik berjongkok di depanku, membelai kepalaku yang botak dengan jari-jarinya yang dingin seperti es. "Itu adalah bumbu penyedapnya. Aku butuh jiwamu berada di puncak euforia sebelum aku memanennya. Jiwa yang putus asa itu pahit, tapi jiwa yang jatuh dari ketinggian ilusi... itu sangat manis."
Jam dinding di atas konter berdetak kencang. *Tik. Tik. Tik.*
"Pukul dua belas malam," Malik berdiri tegak. Bayangannya di dinding memanjang, melebar, membentuk tanduk dan sayap yang seolah menelan seluruh ruangan. "Waktunya membayar tagihan, Aris."
Aku mencoba merangkak menuju pintu, tapi kakiku tidak lagi terasa seperti milikku. Aku melihat tangankuβkulitnya mulai mengelupas seperti kertas terbakar, memperlihatkan sesuatu yang hitam dan cair di baliknya.
"Tunggu! Malik! Berikan aku satu kesempatan lagi! Aku akan melakukan apa saja!"
Malik tidak menjawab. Ia mengambil sebuah penggiling kopi tua dan mulai memutarnya. Suara biji kopi yang hancur di dalam mesin itu terdengar seperti suara tulang-tulangku yang remuk.
"Jangan khawatir," kata Malik sambil menuangkan serbuk hitam ke dalam cangkir porselen. "Kau akan menjadi mahakarya terbaikku. Secangkir espresso dari sisa hidup seorang pria yang rela menukar segalanya demi bayangan."
Ia mengangkat teko berisi air mendidih yang mengepulkan uap merah keunguan. Saat air itu menyentuh bubuk hitam di dalam cangkir, aku merasakan sensasi terbakar yang luar biasa mulai dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun.
Aku membuka mulut untuk berteriak, tapi yang keluar hanyalah cairan hitam pekat yang beraroma kopi. Pandanganku mulai gelap, namun di tengah kegelapan itu, aku melihat Malik mendekatiku dengan sebuah sendok kecil di tangannya, matanya berkilat haus.
"Mari kita mulai penagihannya," bisiknya, dan tepat saat itu, pintu kafe Aroma Merah terbuka dengan denting lonceng yang keras, menampakkan sosok lain yang berdiri di ambang pintu dalam balutan jubah hitam.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!