Bau bensin yang menyengat menusuk hidungku, mengalahkan aroma kopi panggang yang biasanya mendominasi Kafe Aroma Merah. Tanganku gemetar hebat saat aku menyeret jeriken plastik terakhir dari sudut gudang yang lembap. Setiap gerakanku terasa seperti siksaan; sendi-sendiku berderit, dan kulit di punggung tanganku sudah sepucat kertas perkamen yang mulai membusuk. Aku bisa melihat urat-urat hitam menjalar di bawah permukaan kulitku, tanda bahwa waktu yang kupinjam dari Malik hampir habis.
"Satu bulan untuk satu tegukan," bisikku pelan, suaraku parau seperti gesekan ampelas. "Kau tidak akan mendapatkan sisanya, Malik."
Aku menyentakkan tutup jeriken itu. Cairan bening beraroma tajam itu tumpah ruah, membasahi tumpukan karung biji kopi yang selama ini menjadi sumber kekayaanku sekaligus kehancuranku. Aku menyiramkannya ke rak-rak kayu, ke meja barista yang meng***p, dan ke kursi-kursi kulit tempat para pengusaha haus harta sepertiku biasa duduk merencanakan tipu daya mereka.
Setiap tetes bahan bakar yang jatuh ke lant** kayu yang sudah tua itu terasa seperti sebuah pemberontakan. Aku ingin melihat tempat ini rata dengan tanah. Jika aku harus mati sebagai bangkai yang membusuk, maka kafe ini harus ikut bersamaku ke neraka.
Langkah kakiku terasa berat saat aku berjalan menuju pintu depan, meninggalkan jejak basah bahan bakar di belakangku. Aku meraba saku mantelku, mencari korek api perak yang selalu kubawa. Namun, tepat saat jemariku menyentuh dinginnya logam korek itu, suhu di dalam ruangan mendadak jatuh.
Uap dingin keluar dari mulutku. Keheningan yang tidak wajar menyergap, seolah-olah suara hiruk pikuk Jakarta di luar sana tiba-tiba terputus oleh dinding kedap suara yang gaib.
"Kau tahu, Aris," sebuah suara berat dan tenang bergema dari arah kegelapan di balik meja bar. "Membakar properti milik orang lain adalah pelanggaran kontrak yang sangat serius."
Aku tersentak, hampir menjatuhkan korek api itu. Malik berdiri di sana. Dia tidak melakukan apa-apa, hanya bersandar pada mesin espresso yang berkilau, namun auranya membuat bulu kudukku berdiri. Dia masih mengenakan apron hitamnya yang rapi, tapi ada sesuatu yang berbeda. Wajahnya tidak lagi tampak seperti pria paruh baya yang ramah.
"Kontraknya sudah batal sejak kau mulai memakan jiwaku, Malik!" teriakku, suaraku pecah karena ketakutan yang berusaha kusembunyikan. "Lihat aku! Aku belum genap tiga puluh satu tahun, tapi tubuhku sudah seperti mayat!"
Malik terkekeh. Suara itu tidak terdengar seperti tawa manusia; itu lebih mirip suara tulang-tulang yang beradu di dalam peti mati. "Itu adalah harga sebuah kesuksesan instan. Kau yang memilih ukurannya, kau yang meminum kopinya. Aku hanya penyedia jasa."
Dia mulai melangkah maju. Setiap langkahnya tidak menimbulkan suara, seolah-olah dia tidak menapak di lant** yang basah oleh bensin.
"Jangan mendekat!" aku menyalakan korek api. Api kecil menari-nari di ujung jemariku yang pucat. "Satu gerakan lagi, dan tempat ini akan meledak."
Malik berhenti, tapi bukan karena takut. Dia mulai menanggalkan apronnya dengan gerakan yang sangat perlahan, hampir seperti sebuah ritual. "Kau pikir api duniawi bisa menghanguskan sesuatu yang dibangun di atas fondasi penderitaan abadi?"
Tiba-tiba, tubuh Malik mulai berguncang. Bunyi *krek* yang keras terdengar saat tulang punggungnya memanjang secara tidak alami, menonjol keluar dari balik kemeja putihnya yang mulai robek. Kulit wajahnya meregang, retak seperti tanah yang dilanda kekeringan hebat, menyingkap sesuatu yang jauh lebih gelap di bawahnya.
Matanya—yang tadinya berwarna cokelat hangat—kini berubah menjadi dua lubang hitam yang memancarkan cahaya merah redup, seperti bara api yang hampir padam. Rahangnya merosot, memanjang, menampakkan barisan gigi yang runcing dan tidak beraturan. Tangannya bukan lagi tangan manusia; jari-jarinya memanjang menjadi cakar-cakar hitam yang tajam, berkilauan tertimpa cahaya api kecil dari korekku.
"Inilah aku yang sebenarnya, Aris," suara Malik kini berubah menjadi geraman rendah yang menggetarkan dadaku. "Kau ingin melihat siapa yang menagih utangmu?"
Wujud di depanku kini tingginya hampir menyentuh plafon kafe yang tinggi. Bayangannya menelan seluruh ruangan, lebih hitam daripada kegelapan malam. Udara di sekitarnya terasa berat dan berbau belerang serta daging terbakar. Dia bukan lagi Malik si barista; dia adalah perwujudan dari segala kerugian yang tidak pernah aku perhitungkan.
Lututku lemas. Keputusasaan menghantamku lebih keras daripada rasa sakit di tubuhku. Namun, ambisiku yang terakhir—keinginan untuk tidak mati sebagai pecundang—memberiku dorongan terakhir.
"Perg***h ke neraka!" raungku.
Aku melempar korek api yang masih menyala itu ke lant** yang tergenang bensin.
*Wush!*
Api seketika menyambar, menjilat udara, dan merambat dengan cepat mengikuti jejak bahan bakar yang telah kusebar. Dalam sekejap, dinding api berdiri di antara aku dan makhluk mengerikan itu. Panasnya mulai memanggang kulitku yang rapuh, tapi aku merasa puas. Aku melihat Malik—atau apa pun itu—berdiri di tengah kobaran api yang membumbung tinggi.
Namun, kepuasan itu hanya bertahan sesaat. Di tengah deru api yang melahap kayu dan kain, aku melihat siluet monster itu tetap diam. Dia tidak terbakar. Dia justru membuka mulutnya yang lebar, menghirup asap hitam dan api seolah-olah itu adalah aroma kopi yang paling nikmat di dunia.
Lalu, sebuah cakar hitam menembus tirai api, menjangkau langsung ke arah leherku.
"Api ini terlalu dingin untukku, Aris," bisiknya, suaranya terdengar tepat di telingaku meskipun dia berada beberapa meter dariku. "Mari kita cari api yang lebih hangat di bawah sana."
Cakar itu mencengkeram kerah bajuku, mengangkat tubuhku yang ringan dan rapuh ke udara seolah-olah aku tidak lebih dari selembar daun kering. Aku meronta, memukul-mukul lengannya yang sekeras batu, sementara api di sekeliling kami mulai meruntuhkan langit-langit kafe.
Saat atap gedung mulai ambruk menimpa kami, aku melihat mata merah Malik berkilat dengan kemenangan yang mutlak. Aku menyadari satu hal yang terlambat: kau tidak bisa membakar rumah i**** dengan apimu sendiri, karena dialah pemilik api itu.
"Tolong..." rintihku, saat kegelapan mulai menyelimuti kesadaranku di tengah panas yang membara.
"Permintaanmu ditolak," jawabnya dingin, tepat sebelum lant** di bawah kami terbelah, bukan karena api, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih dalam sedang memanggil kami pulang.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!