Asap tipis masih mengepul dari reruntuhan kayu yang menghitam, beradu dengan aroma apek air hujan yang meresap ke dalam celah-celah dinding gang yang sempit. Aku berdiri di tengah puing-puing itu, menyesuaikan letak kerah kemeja hitamku yang masih rapi tanpa setitik debu pun. Aroma Merah telah mati secara fisik, namun bagiku, keharuman yang sesungguhnya baru saja tercium: aroma keputusasaan yang telah matang sempurna.
Aku melangkah melewati pecahan kaca dari papan nama kafe yang kini tak berbentuk. Sepatuku tidak menimbulkan suara saat menginjak sisa-sisa cangkir keramik yang hancur. Di sudut ruangan yang dulunya adalah bar tempatku meracik maut, aku menemukan apa yang kucari.
Sebuah cangkir porselen putih dengan pinggiran emas tipis. Anehnya, cangkir itu tetap utuh di tengah reruntuhan bangunan yang roboh. Di dalamnya, cairan hitam pekat bergejolak pelan, meski tidak ada tangan yang menggerakkannya.
Aku berjongkok, jemariku menyentuh permukaan porselen yang terasa sedingin es. Saat aku menatap ke dalam cairan itu, aku tidak melihat pantulan wajahku yang pucat. Sebaliknya, aku melihat Aris.
Dia ada di sana, terperangkap di balik permukaan kopi yang kental. Wajahnya yang dulu ambisius kini menyusut, kulitnya tampak seperti kertas perkamen yang diremas. Matanya terbelalak lebar, mulutnya terbuka dalam teriakan abadi yang tidak akan pernah sampai ke telinga manusia. Dia berlari di dalam labirin gelap yang terbuat dari ampas kopi, dikejar oleh bayang-bayang utang yang tak akan pernah bisa ia bayar.
"Kau terlihat jauh lebih artistik di dalam sana, Aris," bisikku pelan. Suaraku memantul di dinding gang yang lembap, dingin dan tanpa empati. "Bukankah ini yang kau inginkan? Keabadian dalam sejarah bisnismu? Sayangnya, sejarah hanya mengingat pemenang, dan kau... kau hanyalah ampas."
Aku bisa merasakan getaran dari cangkir ituβsebuah upaya sia-sia untuk memohon atau mungkin mengutuk. Manusia selalu sama. Mereka menganggap waktu adalah mata uang yang bisa ditawar, padahal waktu adalah satu-satunya hal yang tidak memiliki kembalian. Aris telah meminum setiap detik keberuntungannya dengan rakus, dan sekarang, dia adalah bagian dari koleksiku. Bagian dari menu rahasia yang tidak akan pernah dipesan oleh siapapun.
Aku mengangkat cangkir itu, meniup permukaannya hingga cairan hitam itu membentuk pusaran kecil. "Jangan khawatir. Kau tidak akan kesepian. Lemariku masih punya ruang untuk banyak jiwa ambisius lainnya."
Aku bangkit berdiri, mema**kkan cangkir itu ke dalam tas kulit hitam yang selalu menemaniku. Kedai ini sudah selesai. Tanah ini sudah terlalu jenuh dengan bau kematian; bahkan tikus-tikus gang pun sudah enggan lewat di sini. Aku butuh suasana baru. Sesuatu yang lebih segar, lebih modern, tempat di mana orang-orang muda dengan ambisi yang lebih besar dan rasa takut akan kegagalan yang lebih dalam berkumpul.
Aku berjalan keluar dari gang sempit itu, melangkah ke jalan raya Jakarta yang tidak pernah tidur. Lampu-lampu neon kota memantul di aspal basah, menciptakan ilusi kemewahan yang menipu. Di mata mereka, kota ini adalah ladang harapan. Di mataku, ini adalah kebun yang siap panen.
Langkahku membawaku ke arah selatan, menuju kawasan perkantoran mentereng dengan gedung-gedung kaca yang menjulang menantang langit. Di sana, di antara gedung-gedung beton yang dingin, aku melihat sebuah ruang kosong di lant** dasar sebuah menara baru. Letaknya strategis, tersembunyi di balik lobi yang megah, namun c**up tenang untuk mereka yang ingin melarikan diri sejenak dari tekanan target bulanan.
Aku berhenti tepat di depan kaca besar yang memantulkan keramaian jalanan. Di dalam sana, aku bisa membayangkan mesin espresso baruku yang berkilau, meja-meja kayu ek yang gelap, dan aroma biji kopi Arabika yang dipanggang dengan campuran sedikit... penyesalan.
"Lokasi yang sempurna," gumamku. Aku bisa merasakan detak jantung kota yang tidak sabar. Di dalam gedung-gedung itu, ribuan manusia sedang gelisah, menghitung sisa saldo di rekening mereka, memimpikan promosi jabatan, dan membenci saingan mereka. Mereka adalah benih-benih yang sangat subur.
Tiba-tiba, seorang pria muda dengan jas yang tampak mahal namun kusut keluar dari gedung itu. Dia berjalan terburu-buru, wajahnya pucat pasi sambil terus menatap layar ponselnya. Nafasnya pendek-pendek, menunjukkan tanda-tanda serangan panik yang sangat kukenali. Dia berhenti sejenak, menyandarkan punggungnya ke dinding gedung, tepat di samping tempatku berdiri.
Dia menatapku dengan tatapan kosong, lalu beralih ke ruang kosong di belakangku. "Tempat ini mau jadi apa?" tanyanya dengan suara serak, seolah hanya ingin memecah kesunyian yang mencekiknya.
Aku melempar senyum kecil, senyum yang selalu berhasil membuat orang merasa tenang sebelum akhirnya mereka menyadari bahwa mereka telah tersesat.
"Sebuah tempat untuk orang-orang yang membutuhkan waktu lebih banyak daripada yang mereka miliki," jawabku tenang.
Pria itu mengerutkan kening, tampak bingung namun tertarik. "Kopi? Saya rasa saya butuh kopi yang sangat kuat untuk bisa bertahan sampai besok pagi."
Aku mengangguk pelan, jemariku meraba tas kulit yang berisi cangkir Aris. "Bukan sekadar kopi, Tuan. Saya menyajikan solusi. Dan kami akan segera buka."
Saat pria itu pergi, aku merasakan getaran kecil dari dalam tasku. Aris seolah bereaksi, seolah ia mengenali aroma mangsa baru. Aku hanya perlu memasang tanda di pintu, menyiapkan tungku, dan menunggu mereka datang satu per satu dengan membawa cawan kosong di tangan mereka.
Aku mulai melangkah ma**k ke dalam ruangan gelap itu. Namun, sebuah bayangan di sudut kaca menarik perhatianku. Sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana. Seorang wanita berdiri di seberang jalan, mengenakan pakaian serba putih, menatap tajam ke arahku dengan mata yang tidak memancarkan ketakutan, melainkan pengenalan.
Aku berhenti. Sudah sangat lama sejak ada seseorang yang berani menatapku seperti itu. Siapa dia? Dan mengapa kehadirannya terasa seperti aroma kopi yang terlalu lama dibiarkan dinginβpahit dan mengganggu?
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!