Cawan Getir: Barista Penagih Nyawa

Bab 2: Bab 2 - Melakukan ritual kopi darah pertama dan merasak...

Pengaturan Membaca

Lonceng di atas pintu berdenting pelan, suaranya tenggelam oleh deru hujan yang menghantam gang sempit di luar. Bau apak kayu tua dan aroma kopi yang terlalu pekat—hampir menyerupai bau tembaga—menusuk indra penciumanku. Di balik meja bar yang terbuat dari kayu jati hitam mengkilap, Malik berdiri dengan tenang. Ia tidak terlihat seperti i**** dalam dongeng; ia hanya seorang pria dengan kemeja putih bersih yang lengannya digulung hingga siku, menyingkap otot-otot lengan yang kokoh dan sepasang mata yang sedalam sumur mati.

"Kau yakin, Aris?" suara Malik rendah, namun bergema di dadaku. "Sekali mesin ini berputar, kontraknya tidak bisa dibatalkan dengan kata maaf."

Aku menelan ludah, merasakan tenggorokanku yang kering dan perih. Di kantong celanaku, ponselku bergetar—pesan singkat dari bank, peringatan terakhir sebelum aset rumah ibuku disita. Bayangan wajah ibuku yang menangis dan tatapan meremehkan dari mantan rekan bisnisku berkelebat cepat. Ego yang terluka jauh lebih menyakitkan daripada rasa takut mana pun.

"Lakukan saja," jawabku, suaraku sedikit bergetar. "Aku tidak punya waktu untuk basa-basi."

Malik tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang tidak mencapai matanya. Ia meraih sebuah cangkir keramik berwarna merah darah dan meletakkannya di bawah *portafilter* mesin espresso yang tampak ganjil. Mesin itu tidak berbahan baja antikarat biasa; permukaannya legam dengan ukiran-ukiran halus yang tampak berdenyut saat Malik menyentuhnya.

"Tanganmu," perintahnya.

Aku mengulurkan tangan kananku yang gemetar ke atas meja. Malik mengeluarkan sebuah jarum perak panjang dari saku apronnya. Tanpa peringatan, ia menusuk ujung jari tengahku. Aku meringis, hendak menarik tangan, tapi cengkeraman Malik seperti catut besi. Ia memeras jariku, membiarkan tetesan darah segar jatuh tepat ke dalam wadah bubuk kopi yang sudah dipadatkan.

Begitu darahku menyentuh bubuk hitam itu, suara mendesis yang tidak wajar terdengar. Malik kemudian memasang wadah itu ke mesin dan menarik tuas tuanya.

Saat itulah neraka dimulai.

Suara mesin itu bukan lagi sekadar geraman mekanis, melainkan raungan parau yang menyayat telinga. Tiba-tiba, rasa sakit yang luar biasa menghantamku. Rasanya seolah-olah ada kawat berduri yang ditarik paksa keluar dari pembuluh darah di lengan kananku, menjalar naik menuju bahu, lalu menghunjam jantung. Aku terpekik, lututku menghantam lant** kayu yang lembap.

"Tahan, Aris. Keberuntungan punya harga yang mahal," Malik berkata datar sambil terus memperhatikan cairan hitam pekat yang mulai menetes lambat ke dalam cangkir.

Setiap tetesan kopi yang jatuh ke cangkir terasa seperti nyawaku sendiri yang diperas keluar. Kepalaku serasa meledak; bayangan-bayangan mengerikan tentang kegelapan abadi melintas di depan mataku. Aku melihat diriku sendiri menua dalam hitungan detik, kulitku mengeriput, dan tulang-tulangku terasa rapuh seolah terbuat dari kaca yang siap retak. Napasku tersengal, dadaku naik turun dengan liar seiring dengan keringat dingin yang membasahi kemeja mahalku yang sudah lusuh.

"C**up... hentikan..." rintihku, mencengkeram tepi meja hingga kuku-kukuku memutih.

"Selesai," ucap Malik tenang.

Begitu ia melepaskan tuas, rasa sakit itu menghilang secepat ia datang, meninggalkan sensasi hampa yang ganjil. Malik menyodorkan cangkir merah itu ke depanku. Cairan di dalamnya tidak terlihat seperti kopi biasa. Ada kilauan kemerahan yang berputar di permukaan *crema*-nya yang tebal, seperti galaksi kecil yang terperangkap dalam cangkir.

"Satu bulan umur untuk satu bulan kejayaan. Silakan dinikmati," ujar Malik dengan nada sopan yang mengejek.

Dengan tangan gemetar, aku meraih cangkir itu. Aromanya begitu memikat—campuran cokelat hitam, tanah basah, dan sesuatu yang manis namun berbahaya. Begitu cairan itu menyentuh lidahku, rasa pahit yang membakar segera berubah menjadi ledakan energi yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Sensasinya luar biasa. Rasanya seperti setiap sel di tubuhku yang tadinya mati tiba-tiba menyala kembali dengan cahaya neon. Kepalaku yang tadinya berat karena beban utang dan depresi mendadak menjadi jernih. Aku bisa mendengar detak jam di dinding dengan sangat tajam, aku bisa melihat partikel debu yang menari di bawah cahaya lampu, dan yang paling penting... aku merasa bisa menaklukkan dunia.

Aku menghabiskan kopi itu dalam tiga tegukan besar. Saat cangkir itu kosong, ponsel di sakuku bergetar lagi. Kali ini bukan dari bank.

Sebuah nama muncul di layar: *Hadi - Venture Capital*. Pria yang selama enam bulan terakhir menolak semua pangg***nku.

Aku mengangkatnya dengan jantung yang berdegup kencang, tapi bukan karena takut.

"Halo, Aris?" suara di seberang sana terdengar ragu namun antusias. "Dengar, aku baru saja meninjau ulang proposal lamamu yang sempat kutolak. Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa ada potensi besar yang kulewatkan. Bisakah kita bertemu malam ini? Aku punya investor dari Singapura yang tertarik menyuntikkan dana sepuluh miliar untuk tahap awal."

Aku menatap Malik. Barista itu hanya berdiri diam, mengelap meja bar dengan kain putih yang kini meninggalkan noda kemerahan samar. Senyumnya kini terlihat lebih lebar, lebih mengancam.

"Tentu, Hadi. Aku akan ke sana dalam tiga puluh menit," jawabku dengan suara yang penuh percaya diri, seolah-olah kegagalan tidak pernah ada dalam kamus hidupku.

Aku berdiri, merapikan jas, dan merasa seperti seorang raja yang baru saja mendapatkan kembali mahkotanya. Rasa sakit tadi hanya kenangan kabur yang tidak penting. Apa itu satu bulan umur jika dibandingkan dengan sepuluh miliar rupiah?

Aku berbalik untuk pergi, namun suara Malik menghentikanku tepat di ambang pintu.

"Aris," panggilnya.

Aku menoleh. Malik menunjuk ke arah cermin besar yang tergantung di dekat pintu keluar. "Jangan lupa periksa penampilanmu. Hadiah itu selalu meninggalkan jejak."

Aku mengerutkan kening dan mendekat ke arah cermin. Awalnya, aku tidak melihat ada yang salah. Namun, saat aku memperhatikan lebih dekat di bawah cahaya lampu yang berkedip, aku tersentak. Di antara rambut hitamku yang legam, seunt** uban putih bersih muncul di bagian pelipis, kontras dan mencolok. Bukan hanya itu, ketika aku menyeringai, aku menyadari gusi di bagian belakang mulutku sedikit menghitam, seolah-olah ada bagian dari diriku yang mulai membusuk dari dalam.

Rasa ngeri sesaat merayap di tengkukku, tapi kemudian ponselku bergetar lagi—notifikasi pesan dari sekretaris Hadi yang mengirimkan lokasi pertemuan di hotel bintang lima termahal di Jakarta.

Aku membuang napas kasar, mengabaikan pantulan di cermin. Aku membetulkan kerah bajuku, menutupi uban itu dengan sisiran rambut, dan melangkah keluar ke tengah hujan dengan tawa kecil. Aku tidak peduli pada uban atau gusi hitam itu. Aku punya uang. Aku punya kuasa lagi.

Namun, saat aku berjalan menjauh dari Kafe Aroma Merah, aku tidak menyadari bahwa bayanganku di aspal yang basah tidak lagi mengikuti gerakanku dengan sempurna. Bayangan itu tampak lebih tua, bungkuk, dan terus menatap ke arah kafe, seolah-olah ia tertinggal di sana, terikat pada mesin espresso milik Malik.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca