Cawan Getir: Barista Penagih Nyawa

Bab 3: Bab 3 - Mendapatkan kontrak kerja besar secara ajaib da...

Pengaturan Membaca

Rasa pahit itu masih tertinggal di pangkal lidahku, melekat seperti jelaga yang enggan luruh meski aku sudah menghabiskan setengah botol air mineral. Jantungku berdentum tidak keruan, ritmenya kacau, seolah-olah ada mesin kecil yang dipacu paksa di dalam dadanya. Namun, di balik kegelisahan itu, ada aliran adrenalin yang luar biasa. Aku merasa tajam. Aku merasa... berkuasa.

Ponselku bergetar di atas meja kerja yang berantakan dengan tumpukan tagihan jatuh tempo. Nama yang muncul di layar membuat napasku tertahan sejenak. *Haryo Baskoro.* CEO dari PT Mega Konstruksi, paus raksasa yang selama enam bulan terakhir bahkan tidak sudi membalas surel penawaranku.

"Ya, Pak Haryo?" suaraku terdengar lebih berat, lebih tenang dari yang kukira.

"Aris, saya sudah meninjau ulang proposalmu semalam. Ada sesuatu yang menarik di sana. Datanglah ke kantor jam sepuluh. Kita tanda tangani kontrak pengadaan material untuk proyek pelabuhan baru."

Tanganku gemetar, tapi bukan karena takut. "Tentu, Pak. Saya akan di sana tepat waktu."

Telepon tertutup. Aku tergelak pelan, yang kemudian berubah menjadi tawa keras yang menggema di apartemenku yang sempit. Hanya satu sesapan kopi dari Malik, dan roda nasibku berputar 180 derajat. Harga satu bulan umur? Jika kesuksesan semudah ini, aku bersedia memberikan setahun sekaligus.

Di kantor PT Mega Konstruksi, suasana terasa berbeda. Sekretaris Pak Haryo, yang biasanya menatapku dengan pandangan merendahkan, kini memberikan senyum paling manis yang pernah kulihat. Saat aku melangkah ma**k ke ruangan Pak Haryo, aroma kemenyan samar-samar tercium, atau mungkin itu hanya imajinasiku yang masih terbayang-bayang kedai 'Aroma Merah'.

"Saya tidak tahu apa yang mera**ki saya, Ris," ujar Haryo sambil menyodorkan map kulit berwarna hitam. Wajahnya tampak sedikit bingung, seolah dia sendiri tidak mengerti mengapa dia memanggilku. "Tapi insting saya mengatakan, kamulah orangnya. Lima puluh miliar untuk tahap awal. Bagaimana?"

Aku berusaha menjaga wajahku tetap datar, meski di dalam hati aku ingin melompat. Aku menandatangani dokumen itu dengan goresan pena yang mantap. Tinta hitam itu meresap ke atas kertas, tampak seperti aliran darah yang mengering.

"Senang berbisnis dengan Anda, Pak," ucapku sambil menjabat tangannya. Kulit Haryo terasa dingin, tapi aku tidak peduli. Aku baru saja mendapatkan tiket keluar dari kemiskinan.

Keluar dari gedung pencakar langit itu, sinar matahari Jakarta yang terik menyengat kulitku. Anehnya, panas itu terasa jauh lebih menyakitkan dari biasanya. Kulit lenganku terasa gatal, seolah ada ribuan semut yang merayap di bawah pori-pori. Aku bergegas menuju mobil, menyalakan AC ke suhu maksimal, dan menghela napas panjang.

Aku meraih spion tengah, berniat merapikan rambutku yang sedikit berantakan sebelum menuju bank. Namun, gerakanku terhenti.

Aku mengerutkan dahi, mendekatkan wajah ke cermin. Di sudut mata kananku, ada sebuah kerutan. Itu bukan kerutan biasa akibat kelelahan atau kurang tidur. Garis itu dalam, meliuk tajam ke bawah seperti bekas sayatan tipis yang sudah mengering. Warnanya keabu-abuan, kontras dengan kulit wajahku yang lain.

"Apa ini?" gumamku. Aku menggosoknya dengan ujung jari. Tidak hilang. Aku menggunakan sedikit air ludah dan menekannya lebih keras hingga kulitku memerah, tapi kerutan itu tetap di sana. Malah, saat aku menekan lebih kuat, rasa perih yang menusuk menjalar hingga ke rahang.

Aku mencoba tersenyum di depan cermin, berharap itu hanya masalah pencahayaan. Namun, saat otot wajahku bergerak, kerutan itu seolah hidup. Ia tidak melipat mengikuti ekspresiku; ia diam membeku, seperti retakan pada porselen tua.

Lalu, aku menyadarinya. Kerutan itu tidak hanya satu. Di dekat telinga, ada garis tipis lain yang mulai muncul, samar namun pasti. Teksturnya terasa kasar, seperti kulit jeruk yang mulai membusuk.

Ingatanku melayang kembali ke kedai remang-remang itu. Malik dengan celemek hitamnya, senyum tipisnya yang dingin, dan kata-katanya: *β€œSatu bulan untuk setiap tegukan.”*

Satu bulan. Apakah satu bulan umur yang hilang itu langsung bermanifestasi pada fisikku? Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa kering dan berpasir. Rasa bangga atas kontrak lima puluh miliar itu mendadak menguap, digantikan oleh rasa dingin yang merayap di punggungku.

Aku menyalakan mesin mobil dengan tangan yang kini benar-benar gemetar. Aku harus meyakinkan diriku bahwa ini hanya efek stres. Ya, stres karena mendadak kaya. Itu ma**k akal, bukan?

Namun, saat aku melirik kembali ke spion sebelum memundurkan mobil, aku melihat pantulan mataku. Di dalam pupilku yang hitam, selama sepersekian detik, aku seolah melihat bayangan Malik yang sedang menuangkan kopi panas ke dalam cangkir porselen retak.

Dan kerutan di wajahku terasa berdenyut, seolah-olah ada sesuatu yang sedang menghisap kehidupan dari balik kulitku, inci demi inci. Aku memacu mobilku menjauh, namun perasaan bahwa aku sedang dikejar oleh sesuatu yang tidak terlihat mulai mencengkeram kewarasanku. Kontrak itu ada di kursi penumpang, tapi entah mengapa, ia mulai terasa seberat batu nisan.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca