Cawan Getir: Barista Penagih Nyawa

Bab 4: Bab 4 - Mengamati perkembangan 'investasi' nyawa Aris d...

Pengaturan Membaca

Uap mengepul dari moncong *gooseneck kettle* yang kugenggam, membentuk tarian tipis di antara temaram lampu gantung yang berayun pelan. Aku menuangkan air panas itu dengan gerakan melingkar yang presisi di atas bubuk kopi *Mandailing* yang baru saja kugiling. Bunyi *blooming*β€”karbondioksida yang terlepas dari pori-pori kopiβ€”terdengar seperti desis kepuasan yang tertahan. Bagiku, itu adalah suara kehidupan yang menguap.

Aku melirik cermin antik di belakang deretan stoples kaca. Bayanganku di sana tampak tenang, mengenakan apron kulit hitam yang bersih tanpa noda. Namun, yang lebih menarik perhatianku bukanlah pantulan diriku sendiri, melainkan sebuah jam pasir kecil di sudut rak teratas. Pasir di dalamnya berwarna merah pekat, serupa darah yang mengental. Label kecil di bawahnya tertulis satu nama: *Aris*.

Pasirnya meluncur lebih cepat dari biasanya.

Aku menyunggingkan senyum tipis. Aris, pria malang yang begitu haus akan pengakuan. Di luar sana, di balik gang sempit yang lembap ini, Aris sedang merayakan kemenangan kecilnya. Aku bisa merasakannya. Setiap kali dia menandatangani kontrak baru atau menerima tepuk tangan di ruang rapat, detak jantungnya yang berdegup kencang mengirimkan getaran halus ke cawan-cawan di kafe ini. Dia merasa seperti raja, padahal dia hanyalah seekor ternak yang sedang digemukkan sebelum dipotong.

Setiap tegukan kopi yang ia ambil minggu lalu telah membayarnya dengan kesuksesan instan. Namun, manusia seringkali lupa bahwa di semesta ini, tidak ada yang benar-benar gratis. Mereka hanya memindahkan beban dari satu saku ke saku lainnya, sampai akhirnya saku itu robek.

Lonceng di atas pintu berdenting. Suaranya pecah, tidak merdu seperti biasanya.

Seorang pria paruh baya tersungkur ma**k. Napasnya tersengal, berat dan basah seolah paru-parunya terendam lumpur. Pakaiannya yang bermerek kini tampak lusuh, penuh keringat dingin yang membasahi kemeja sutranya. Dia adalah Prasetyo, seorang kontraktor yang enam bulan lalu memohon kepadaku agar proyek jembatannya tidak dibatalkan.

"Malik... tolong..." suaranya parau, nyaris berupa bisikan yang tertelan kesunyian kafe.

Aku tidak berhenti menuangkan air. Fokusku tetap pada tetesan kopi yang jatuh ke dalam server kaca. "Kau terlambat sepuluh menit untuk janji temu kita, Prasetyo. Kedisiplinan adalah kunci dari setiap transaksi yang sukses."

Prasetyo merangkak menuju meja bar, jemarinya yang gemetar mencengkeram pinggiran kayu jati yang dingin. Aku bisa melihat kulit di ujung jarinya mulai menghitam, sebuah nekrosis yang bukan disebabkan oleh bakteri, melainkan oleh waktu yang ditarik paksa dari sel-sel tubuhnya.

"Aku punya uangnya! Dua kali lipat! Lima kali lipat!" Dia merogoh tas kulitnya, mengeluarkan tumpukan uang kertas yang berhamburan di lant**. "Ambil semuanya! Aku hanya butuh tambahan satu tahun. Hanya satu tahun untuk melihat putriku menikah!"

Aku meletakkan kettle dengan pelan. Suara benturan logam dengan meja bergema seperti vonis hakim. Aku mencondongkan tubuh, menatap mata Prasetyo yang mulai menguning. Di dalam pupilnya, aku bisa melihat bayangan hitam yang mulai menjalarβ€”itu adalah kolektorku yang sudah bersiap di balik bayang-bayang.

"Prasetyo," kataku lembut, hampir penuh simpati yang palsu. "Kau datang ke 'Aroma Merah' bukan karena kau punya uang. Kau datang karena kau sudah kehabisan waktu. Dan di sini, mata uangmu adalah detak jantung, bukan kertas-kertas kotor itu."

"Tolong... Malik... sekali saja..."

"Kontrak tetaplah kontrak. Kau sudah meminum tiga cangkir *Espresso Hitam Peat*. Kau mendapatkan jembatanmu, kau mendapatkan kekayaanmu. Sekarang, tiba saatnya bagiku untuk mendapatkan bagianku."

Aku meraih sebuah cangkir porselen kosong dan meletakkannya di depan Prasetyo. "Minumlah ini. Sebagai penghormatan terakhir untuk tamu setia."

Prasetyo menatap cangkir itu dengan horor. Dia tahu persis apa isinya. Bukan kopi, melainkan kekosongan yang akan menghisap sisa-sisa kesadarannya. Dia mencoba berbalik, hendak lari menuju pintu kayu yang hanya berjarak lima meter. Namun, langkahnya berat. Bayangan di bawah kakinya tiba-tiba memanjang, melilit pergelangan kakinya seperti rant** besi yang tak terlihat.

Dia berteriak, tapi suaranya tidak keluar dari tenggorokan. Tubuhnya meluruh, perlahan-lahan mengkerut seperti buah yang membusuk dalam hitungan detik. Pakaiannya jatuh ke lant**, kini hanya membungkus tumpukan abu abu-abu yang halus. Ruangan itu kembali hening, menyisakan bau anyir yang samar dan aroma kopi yang kuat.

Aku menghela napas pendek, lalu mengambil sapu di balik pintu untuk membersihkan sisa-sisa "pembayaran" itu. Manusia selalu berpikir mereka bisa menegosiasikan akhir dari sebuah kesepakatan yang mereka mulai dengan penuh keserakahan.

Pandanganku kembali ke jam pasir milik Aris.

Pasirnya kini jatuh lebih deras. Warnanya berubah menjadi merah yang lebih gelap, hampir hitam. Aku bisa merasakan lonjakan energi yang aneh. Aris tidak hanya menggunakan keberuntungan yang kuberi; dia mulai menyalahgunakannya. Dia mulai meminum kopinya seolah itu adalah air mineral di tengah gurun.

Di sudut mataku, aku melihat sebuah retakan kecil muncul pada kaca jam pasir Aris. Itu pertanda burukβ€”atau pertanda baik bagiku. Retakan itu berarti tubuh fisiknya mulai menolak percepatan usia yang ia alami. Ego Aris jauh lebih besar daripada kapasitas jiwanya untuk menanggung beban sihir yang kuberikan.

Aku mengambil sebuah cangkir baru, memanaskannya dengan air panas, lalu mulai menggiling biji kopi yang paling gelap yang kupunya. Aris akan segera datang. Aku bisa mencium bau ketakutannya yang bercampur dengan ambisi buta dari jarak berkilo-kilometer. Dia akan datang dengan tubuh yang lebih kurus, dengan mata yang lebih cekung, dan dengan permintaan yang lebih g***.

"Ayo, Aris," gumamku sambil memperhatikan tetesan kopi terakhir yang jatuh ke dalam cangkir. "Datanglah padaku saat kau merasa sudah memiliki dunia, agar aku bisa menunjukkan padamu betapa kecilnya dunia yang kau banggakan itu di dalam cangkirku."

Tepat saat itu, gagang pintu depan bergerak. Seseorang sedang mencoba membukanya dengan tangan yang begitu gemetar hingga kunci pintunya bergemerincing hebat. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Aroma keringat yang putus asa dan parfum mahal yang mulai basi sudah memberi tahu segalanya.

Investasiku sudah tiba di depan pintu. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkannya pergi hanya dengan satu bulan umur sebagai bayaran.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca