Cawan Getir: Barista Penagih Nyawa

Bab 5: Bab 5 - Bertemu dengan Maya, pelanggan reguler lain yan...

Pengaturan Membaca

Lonceng kecil di atas pintu kayu Kafe 'Aroma Merah' berdenting, suaranya terdengar seperti gesekan pisau di atas piring porselen. Aris melangkah ma**k, membiarkan aroma kopi yang pekat dan bau tanah basah menyambut indranya. Ia merapikan jas mahalnya yang baru saja ia beli di mal kelas atas Jakarta tadi siang. Dompetnya tebal, rekeningnya penuh, dan setiap orang di kantor kini memandangnya dengan rasa hormat yang bercampur takut.

Namun, ada harga yang harus ia bayar. Setiap kali ia bercermin, Aris merasa kulit di bawah matanya semakin menghitam, seolah-olah bayangan kematian mulai merambat naik dari balik tulang pipinya. Sendi-sendinya berderit setiap kali ia melangkah, seperti mesin tua yang kekurangan pelumas.

"Espresso biasa, Malik," ucap Aris sambil menghempaskan diri ke kursi bar yang tinggi. Suaranya terdengar sedikit parau, lebih berat dari biasanya.

Malik, yang sedang mengelap gelas kristal dengan gerakan ritmis, hanya mengangguk kecil. Senyum barista itu tipis, nyaris tak terlihat, namun sorot matanya tajam seolah bisa menembus hingga ke sisa-sisa umur yang tersimpan di balik dada Aris. "Keberhasilan besar hari ini, Tuan Aris? Saya dengar proyek di Sudirman itu akhirnya jatuh ke tangan Anda."

"Berkat kau," Aris menyeringai, meski seringai itu membuat kulit wajahnya terasa kaku dan tertarik. "Atau lebih tepatnya, berkat kopi ini."

Sebelum Malik sempat menjawab, sebuah batuk kering yang panjang terdengar dari sudut remang kafe. Aris menoleh. Di sana, duduk seorang wanita yang membungkuk di depan sebuah cangkir besar yang mengepulkan uap merah. Dari jauh, Aris mengira dia adalah seorang nenek berusia tujuh puluh tahun. Rambutnya putih kusam, tipis di bagian atas, dan tangannya yang memegang sendok tampak gemetar hebat dengan kulit yang bergelambir dan keriput.

Wanita itu perlahan mengangkat kepalanya. Saat mata mereka bertemu, Aris terkesiap. Meski wajahnya layu dan penuh keriput dalam, mata wanita itu masih menyisakan kilau masa mudaβ€”sepasang mata jernih yang tampak sangat kontras dengan raga yang membusuk.

"Jangan terlalu sering menatapnya, Aris. Itu tidak sopan," Malik meletakkan cangkir espresso di depan Aris. Cairannya hitam legam, pekat dengan aroma yang membuat jantung Aris berdegup kencang seketika.

Wanita itu bangkit berdiri dengan susah payah. Suara napasnya mengi, berat seperti tersumbat cairan. Ia berjalan mendekat ke arah bar, langkahnya terseret-seret. Saat ia sampai di samping Aris, ia berhenti. Bau apek seperti kain lembap yang lama tersimpan di lemari langsung menusuk hidung Aris.

"Kau... kau orang baru yang sering disebut-sebut Malik, ya?" suara wanita itu parau, namun ada nada melodi yang seharusnya milik seseorang berusia dua puluhan.

Aris mengerutkan kening, mencoba menjaga jarak. "Siapa Anda?"

Wanita itu terkekeh, sebuah suara yang lebih mirip gesekan amplas. "Namaku Maya. Dulu, orang-orang mengenalku sebagai model papan atas. Wajahku ada di setiap baliho di jalanan protokol."

Aris terbelalak. Ia ingat nama itu. Maya Alister. Model yang menghilang dari industri mode tiga tahun lalu saat karirnya sedang di puncak. Tapi Maya Alister seharusnya baru berusia dua puluh lima tahun sekarang. Wanita di depannya ini terlihat seperti sudah melewati satu abad kehidupan.

"Kau berbohong," bisik Aris ngeri.

Maya mengulurkan tangannya yang keriput, menunjukkan sebuah cincin zamrud yang masih melingkar longgar di jarinya yang kurus kering. "Aku memesan 'Kecantikan Abadi' dari Malik. Satu bulan umur untuk setiap sesi pemotretan yang sempurna. Satu tahun umur untuk setiap sampul majalah. Awalnya terasa murah. Aku merasa seperti ratu dunia."

Ia terbatuk lagi, kali ini setitik darah hitam keluar dari sudut bibirnya. Ia menyekanya dengan punggung tangan yang gemetar. "Tapi Malik adalah penagih yang teliti. Dia tidak hanya mengambil bulan-bulanmu. Dia mengambil esensimu. Dia mempercepat waktu di dalam selmu sementara duniamu di luar bergerak lambat."

Aris menggenggam cangkir espressonya erat-erat. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya. "Aku berbeda. Aku punya perhitungan bisnis. Aku tahu kapan harus berhenti."

Maya tertawa, sebuah tawa yang berakhir dengan isakan kecil. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Aris, membuat Aris bisa merasakan hawa dingin yang memancar dari tubuh wanita itu. "Itulah yang kami semua katakan di awal. Lihat aku, Aris. Aku baru berumur dua puluh enam tahun minggu lalu, tapi jantungku berdetak seperti milik orang yang sedang menunggu ajal. Berhentilah sebelum 'Penagihan Besar' dimulai."

"Penagihan Besar?" Aris mengulangi kata itu dengan tenggorokan kering.

Maya melirik ke arah Malik yang masih tenang mencuci gelas di balik bar, seolah-olah percakapan mereka hanyalah deru angin lalu. "Saat limit umurmu mencapai titik nol, Malik tidak akan menunggumu menghabiskan kopimu. Dia akan datang ke rumahmu, ke mimpimu, membedah setiap inci keberhasilan yang kau banggakan dan mengambil kembali apa yang ia 'pinjamkan' dengan bunga yang mengerikan. Dia bukan barista, Aris. Dia adalah tukang jagal waktu."

Maya berbalik, menyeret langkahnya menuju pintu keluar tanpa mengucapkan sepatah kata lagi. Denting lonceng kembali terdengar saat ia menghilang ditelan kegelapan gang sempit di luar.

Suasana kafe menjadi sunyi senyap, hanya menyisakan suara detik jam dinding yang terdengar seperti dentum martir. Aris menatap espresso di depannya. Cairan itu tidak lagi tampak menggiurkan. Tiba-tiba, ia merasakan gatal yang luar biasa di lengannya. Saat ia menyingsingkan lengan jasnya, matanya membelalak ngeri.

Di bawah kulit lengannya, ada sesuatu yang bergerak-gerak, seperti cacing yang merayap di balik daging. Dan di sana, sebuah bintik cokelat tuaβ€”tanda penuaanβ€”muncul tiba-tiba, melebar dengan cepat di depan matanya sendiri.

"Ada yang salah dengan kopinya, Tuan Aris?" tanya Malik lembut, suaranya terdengar begitu dekat di belakang bahu Aris, padahal sesaat yang lalu ia berada di ujung bar yang lain.

Aris tersentak, hampir menjatuhkan cangkirnya. Ia menoleh dan melihat Malik menatapnya dengan mata yang tidak lagi tampak manusiawi; mata yang dingin, hampa, dan penuh dengan rasa lapar yang tak terpuaskan.

"Aku... aku ingin berhenti," suara Aris bergetar.

Malik tersenyum, kali ini senyumnya lebar hingga memperlihatkan deretan gigi yang terlalu putih dan terlalu rapi. "Berhenti? Tuan Aris, dalam kontrak kita, tidak ada kata berhenti. Yang ada hanyalah... pelunasan."

Malik kemudian menunjuk ke arah cermin besar di belakang rak botol. Aris menoleh ke arah cermin itu dan berteriak tertahan. Refleksi dirinya di sana bukan lagi seorang pria tiga puluh tahun yang tampan, melainkan sosok yang separuh wajahnya sudah mulai meluruh, menyingkapkan tulang rahang yang kuning dan rapuh.

"Minumlah," perintah Malik, suaranya kini terdengar seperti ribuan bisikan di dalam kepala Aris. "Atau Penagihan Besar itu akan dimulai malam ini juga."

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca