Hujan Jakarta sore itu tidak membawa kesegaran, melainkan bau aspal basah dan sampah yang membusuk di selokan. Aku berdiri di mulut gang sempit yang terjepit di antara dua gedung pencakar langit, memandangi ujung sepatu pantofel kulitku yang kini terpercik lumpur hitam. Tanganku gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena ambisi yang berdenyut-denyut di balik pelipisku seperti migrain yang tak kunjung sembuh.
Aku meraba saku jas, memastikan ponselku masih menyala. Pesan dari sekretarisku baru saja ma**k sepuluh menit lalu: *“Pak, konsorsium sepertinya lebih condong ke penawaran Wijaya Group. Mereka punya koneksi politik yang lebih kuat. Kita butuh keajaiban dalam presentasi besok.”*
Keajaiban. Kata itu terdengar seperti ejekan. Di dunia bisnis, keajaiban adalah komoditas yang mahal, dan aku tahu persis di mana tempat membelinya.
Aku melangkah ma**k ke dalam gang, mengabaikan tetesan air yang mulai merembes ke balik kerah kemeja mahalku. Kafe ‘Aroma Merah’ berdiri di sana, tersembunyi di balik bayang-bayang dinding bata yang berlumut. Pintu kayunya yang berat tampak tidak selaras dengan hiruk pikuk kota di belakangku. Begitu aku mendorongnya, denting lonceng kuningan menyambutku, disusul oleh aroma kopi yang pekat, gurih, namun memiliki semburat amis yang samar—seperti bau karat atau darah yang mengering.
Malik sedang berada di balik bar, mengelap sebuah cangkir porselen putih dengan gerakan yang sangat lambat, seolah waktu tidak memiliki arti baginya. Cahaya lampu gantung yang temaram memantul di matanya yang gelap, membuat pupilnya tampak jauh lebih lebar dari manusia normal.
“Kembali secepat ini, Aris?” suara Malik halus, namun bergema di dadaku. “Aku melihat garis-garis halus di sudut matamu. Keberuntungan bulan lalu mulai memudar?”
Aku duduk di kursi tinggi di depan bar, napas menderu pendek-pendek. Aku melepaskan jam tangan Rolex-ku yang terasa semakin berat di pergelangan tangan yang kian kurus. “Aku butuh lebih dari sekadar keberuntungan kecil, Malik. Aku butuh kemenangan mutlak. Tender pembangunan pelabuhan itu harus jatuh ke tanganku. Wijaya Group mencoba menjatuhkanku.”
Malik meletakkan cangkir yang baru saja ia bersihkan. Ia tersenyum, sebuah lengkungan bibir yang tidak mencapai matanya. “Ambisi adalah bahan bakar yang luar biasa. Tapi kau tahu aturannya, bukan? Setiap tegukan adalah transaksi. Setiap keberhasilan adalah utang.”
“Aku tahu!” bentakku, suaraku bergema di ruangan yang sunyi itu. Aku segera menurunkan nada bicaraku saat menyadari betapa putus asanya aku terdengar. “Satu bulan umur untuk setiap tegukan. Aku masih punya banyak waktu. Aku baru tiga puluh tahun, Malik. Ambil saja sebulan lagi, atau dua bulan. Berikan aku kopi yang paling kuat.”
Malik tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan amplas di atas kayu. Ia membungkuk, menumpukan kedua tangannya di atas meja bar, wajahnya kini hanya berjarak beberapa inci dariku. Aku bisa mencium aroma kayu cendana dan sesuatu yang busuk dari napasnya.
“Permainan sudah berubah, Aris. Kebutuhanmu meningkat, maka harganya pun naik. Keberuntungan untuk menumbangkan raksasa seperti Wijaya Group tidak bisa dibayar dengan recehan waktu bulanan.”
Jantungku berdegup kencang. “Apa maksudmu?”
Malik berdiri tegak kembali, jemarinya yang panjang dan pucat meraih sebuah stoples kaca berisi biji kopi yang hitam pekat, hampir menyerupai arang yang berkilau. “Untuk memenangkan persaingan sebesar itu, kau butuh ‘Black Ambrosia’. Satu cangkir penuh keberuntungan murni yang akan membuat lawanmu lumpuh dan jalanmu terbuka lebar.”
Ia terdiam sejenak, membiarkan keheningan mencekam di antara kami sebelum melanjutkan. “Harganya bukan lagi satu bulan per tegukan. Harganya adalah satu tahun umurmu untuk satu cangkir ini. Tunai.”
Duniaku seolah berputar. Satu tahun. Itu adalah harga yang sangat mahal. Aku membayangkan wajah ibuku yang menungguku pulang, membayangkan rencana pernikahanku yang terus tertunda karena pekerjaan. Satu tahun hidupku akan lenyap begitu saja demi sebuah kontrak bisnis.
Aku melihat bayanganku di cermin besar di belakang bar. Wajahku tampak pucat, kulitku terlihat sedikit lebih kusam dibanding sebulan yang lalu. Ada memar keunguan di bawah mataku yang tak bisa ditutupi oleh *concealer* mahal sekalipun. Apakah aku benar-benar ingin menukar masa depanku demi sebuah pengakuan di masa sekarang?
“Pikirkan baik-baik, Aris,” goda Malik, suaranya seperti bisikan i**** di telinga. “Besok, kau bisa berdiri di atas podium sebagai pemenang, dipuja oleh rekan bisnismu, ditakuti oleh lawanmu. Atau, kau bisa keluar dari pintu itu sekarang, kembali ke kantormu yang akan segera disita, dan membiarkan Wijaya tertawa di atas kegagalanmu. Kau ingin mati sebagai legenda, atau hidup lama sebagai pecundang yang terlupakan?”
Rasa haus akan kekuasaan mulai membakar keraguanku. Ketakutanku akan kemiskinan jauh lebih besar daripada ketakutanku akan kematian yang masih terasa jauh di depan. Ego yang telah kubangun bertahun-tahun memberontak; aku tidak boleh kalah.
“Satu tahun,” bisikku dengan suara serak. “Lakukan.”
Malik tidak membuang waktu. Ia mulai menggiling biji kopi itu. Suara mesin penggiling terdengar seperti jeritan halus yang tertahan. Saat ia menyeduhnya dengan air panas, uap yang keluar tidak berwarna putih, melainkan abu-abu pekat yang meliuk-liuk seperti jemari hantu di udara.
Ia menyajikan cangkir itu di hadapanku. Cairan di dalamnya begitu hitam hingga seolah-olah menyerap cahaya di sekitarnya. Tidak ada busa, tidak ada pantulan. Hanya kegelapan pekat yang diam.
“Silakan, Aris. Minum sampai habis,” perintah Malik.
Aku meraih cangkir itu. Tanganku kini benar-benar bergetar hebat. Saat cairan panas itu menyentuh lidahku, rasa pahit yang luar biasa menyengat seluruh sarafku. Rasanya seperti menelan cairan logam mendidih yang langsung meresap ke dalam aliran darah.
Tiba-tiba, rasa sakit yang hebat menghantam dadaku. Aku terkesiap, mencengkeram tepi meja bar hingga buku jariku memutih. Aku merasa seolah-olah ada sesuatu yang ditarik paksa dari dalam jiwaku—sebuah kekosongan yang dingin mulai merambat dari ujung kaki hingga ke tulang belakangku. Di saat yang sama, penglihatanku menjadi sangat tajam. Aku bisa mendengar suara detak jam di dinding dengan sangat jelas, bahkan suara rintik hujan di luar terdengar seperti simfoni yang teratur.
Aku menghabiskan cangkir itu dalam beberapa tegukan rakus.
Saat aku meletakkan cangkir yang kosong, aku melihat ke bawah, ke arah tanganku. Kulit di punggung tanganku tampak sedikit mengendur, dan sebuah bintik penuaan kecil yang sebelumnya tidak ada, kini muncul di dekat ibu jariku. Kepalaku terasa ringan, namun tubuhku terasa jauh lebih berat, seolah gravitas bumi tiba-tiba berlipat ganda.
“Sudah selesai,” ucap Malik, matanya kini berkilat dengan kepuasan yang mengerikan.
Aku berdiri, mencoba menyeimbangkan diri. Kekuatan aneh mengalir di nadiku, memberiku rasa percaya diri yang hampir g***. Aku merasa tak terkalahkan. Namun, saat aku melangkah menuju pintu, rasa gatal yang hebat menyerang leherku.
Aku meraba leherku dan merasakan sesuatu yang aneh. Teksturnya kasar dan kering. Aku menoleh ke cermin sekali lagi dan nyaris berteriak. Di leherku, tepat di atas kerah kemeja, sepetak kulit telah mengelupas, menyingkapkan daging yang tampak layu dan berwarna keabu-abuan, seperti daging yang sudah mati selama berhari-hari.
“Malik! Apa yang terjadi dengan leherku?” teriakku panik.
Malik hanya tersenyum sambil terus membersihkan bar, tidak terganggu sedikit pun. “Itu hanyalah bunga utang, Aris. Kau memenangkan dunia besok, tapi jangan lupa untuk selalu menutupi lehermu. Penagihan yang sebenarnya baru saja dimulai.”
Aku mematung di depan pintu, menyadari bahwa kemenangan yang baru saja kubeli mungkin akan membusukkanku lebih cepat daripada yang kubayangkan. Dan yang lebih mengerikan, aku tahu aku akan kembali lagi ke sini saat rasa haus itu datang lagi.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!