Cermin di sudut Kafe Aroma Merah tidak pernah berbohong, dan itulah yang paling kubenci. Pagi ini, bayanganku tampak seperti sepotong daging yang mulai kehilangan kesegarannya. Kulit di bawah mataku menghitam, cekung, dan ada semburat keabu-abuan yang menjalar di sepanjang garis rahangku. Aku meraba pipiku; rasanya seperti menyentuh perkamen tua yang rapuh. Nafasku terasa berat, membawa aroma samar tanah basah dan karat.
Lalu, aku menatap Malik.
Dia berdiri di balik meja bar kayu jati yang meng***p, sedang menuangkan air panas ke atas gilingan biji kopi dengan presisi seorang ahli bedah. Uap mengepul, membingkai wajahnya yang tetap kencang, mulus, dan awet muda. Tidak ada satu pun kerutan baru di sudut matanya. Tidak ada sehelai pun uban di rambut hitam legamnya yang tersisir rapi. Dia masih terlihat persis sama seperti lima tahun lalu, saat aku pertama kali melangkah ma**k ke tempat terkutuk ini dengan jas murah dan dompet kosong.
"Kau menatapku seolah aku adalah hantu, Aris," suara Malik memecah keheningan. Suaranya rendah, tenang, namun memiliki daya getar yang membuat bulu kudukku berdiri.
Aku berdehem, mencoba menutupi rasa gugupku dengan menyesap kopi hitam yang baru saja disajikannya. Cairan pekat itu mengalir di kerongkonganku, memberikan sensasi hangat yang semu. "Aku hanya berpikir, kau punya gen yang sangat bagus. Kau tidak menua sehari pun."
Malik tersenyum tipisβsenyum yang tidak pernah mencapai matanya. "Waktu adalah konsep yang relatif di sini. Beberapa orang menghabiskannya, beberapa orang menyimpannya. Aku? Aku hanya pengurusnya."
"Pengurus?" aku memicingkan mata. "Maksudmu pemilik kafe?"
Malik tidak menjawab. Dia hanya meletakkan teko leher angsa dengan denting pelan yang bergema di ruangan yang sepi itu. "Aku harus mengambil persediaan di belakang. Jangan biarkan kopimu dingin, Aris. Setiap tetesnya adalah investasi yang mahal."
Dia berbalik dan berjalan melewati tirai beludru merah di belakang meja bar. Ini adalah kesempatan yang sudah kutunggu berbulan-bulan. Setiap kali aku datang, rasa penasaranku tumbuh sebesar ambisiku yang mulai membusuk. Malik selalu menutup rapat area di balik tirai itu.
Aku bangkit dari kursi tinggi, sendiku berderit pelan seolah-olah tulang-tulangku sudah aus. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan. Kafe itu kosong; hanya ada suara detak jam dinding kuno yang ritmenya terkadang melambat secara tidak wajar. Dengan langkah kaki yang diusahakan seringan mungkin, aku menyelinap ke balik meja bar. Bau kopi di sini lebih tajam, bercampur dengan aroma dupa yang menyengat.
Aku menyibak tirai beludru itu. Di baliknya bukan gudang penyimpanan biji kopi, melainkan sebuah lorong sempit dengan tangga kayu yang menuju ke bawah tanah. Udara yang keluar dari sana terasa dingin, membawa bau apak dan sesuatu yang manis... seperti aroma bunga yang membusuk di pemakaman.
Tanganku gemetar saat memegang pagar tangga yang licin karena kelembapan. Aku menuruni anak tangga satu per satu. Setiap langkah terasa seperti menusuk jantungku sendiri. Di dasar tangga, aku menemukan sebuah ruangan luas yang diterangi oleh cahaya temaram dari lampu gantung minyak.
Mataku terbelalak. Dinding ruangan itu tidak terbuat dari bata, melainkan rak-rak kayu yang menjulang hingga ke langit-langit. Dan di setiap rak, berjajar ribuan botol kaca kecil yang tersusun rapi.
Aku melangkah mendekat, jantungku berdegup kencang hingga telingaku berdenging. Botol-botol itu tidak berisi cairan biasa. Di dalamnya terdapat gumpalan cahaya redup yang berdenyut pelan, seperti kunang-kunang yang sekarat. Ada yang berwarna biru pucat, kuning keemasan, dan ada pula yang merah darah.
Aku mengambil salah satu botol dengan tangan gemetar. Di leher botol itu tergantung label kertas kecil yang sudah menguning.
*Suryono, 1985 - 2012. Sisa: 3 tahun, 4 bulan.*
Napas pemburu di leherku seolah terhenti. Aku meletakkan kembali botol itu dan mencari yang lain.
*Indah, 1992 - 2020. Sisa: 15 hari.*
Botol itu berdenyut sangat lemah, cahayanya nyaris padam. Aku mulai mengerti. Ini bukan koleksi anggur atau parfum. Ini adalah sisa umur yang telah dikumpulkan Malik. Setiap tegukan keberhasilan yang kami beli di atas, setiap kontrak yang kutandatangani, setiap tumpuk uang yang kudapat dari kebangkrutan lawanku... semuanya ada di sini. Terkunci dalam botol, menunggu untuk dikonsumsi.
"Mencari sesuatu yang spesifik, Aris?"
Suara itu datang dari kegelapan di sudut ruangan. Aku tersentak hingga hampir menjatuhkan botol yang kupegang. Malik berdiri di sana, separuh wajahnya tertutup bayangan. Dia tidak tampak marah. Dia justru terlihat... lapar.
"Kau... kau mencuri hidup mereka," suaraku bergetar, lebih seperti bisikan ketakutan daripada tuduhan.
Malik melangkah perlahan ke lingkaran cahaya. "Mencuri adalah kata yang kasar. Aku adalah bankir, Aris. Mereka meminjam keberuntungan, dan mereka menjaminkan waktu. Aku hanya mengoleksi bunganya."
Dia berjalan mendekatiku, langkah kakinya tidak mengeluarkan suara sedikit pun di lant** batu yang dingin. Dia berhenti tepat di depanku, lalu tangannya yang pucat merogoh rak di belakangku. Dia mengambil sebuah botol yang cahayanya berwarna merah pekat, namun sangat redupβhampir menghilang ke dalam kegelapan.
"Kau ingin tahu kenapa kau merasa begitu lelah belakangan ini?" Malik menyodorkan botol itu ke depan wajahku.
Aku melihat labelnya. Namaku tertulis di sana dengan tinta hitam yang seolah-olah masih basah. Mataku terpaku pada tulisan di bawah namaku. Bagian 'Sisa' tidak lagi berisi tahun atau bulan. Hanya ada angka yang terus berdetak mundur seperti jam digital yang rusak.
*00:00:48... 00:00:47...*
"Waktumu hampir habis, Aris," bisik Malik, bibirnya membentuk senyum dingin yang mengerikan. "Dan aku belum menyajikan hidangan penutupnya."
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!