Hujan di Jakarta malam itu tidak membawa kesegaran, melainkan bau aspal basah yang bercampur dengan aroma amis yang menusuk. Aris berlutut di gang sempit yang gelap, tepat di depan pintu kayu jati Kafe Aroma Merah yang tertutup rapat. Di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip, ia melihat Maya. Gadis itu tidak lagi tampak seperti manusia. Tubuhnya meringkuk, kulitnya yang biasanya seputih pualam kini berubah menjadi cokelat kusam dan keriput, membungkus tulang-tulangnya seolah-olah seluruh cairan di tubuhnya telah diperas habis hingga tetes terakhir.
"Maya..." bisik Aris, suaranya parau, pecah oleh isak tangis yang tertahan. Tangannya gemetar saat mencoba menyentuh pipi Maya, namun jemarinya justru membuat kulit kering itu retak seperti kertas tua.
Maya telah tiada. Dan Aris tahu persis siapa pembunuhnya. Bukan pisau, bukan racun, melainkan ambisi yang diseduh dalam cangkir porselen.
Aris berdiri dengan kaki yang lemas. Rasa mual melonjak ke kerongkongannya saat ia melihat tangannya sendiri. Di balik jam tangan mewah seharga ratusan juta, kulit pergelangan tangannya mulai menghitam, memperlihatkan guratan urat yang membusuk. Keberuntungan bisnisnya selama sebulan terakhir ternyata memiliki harga yang jauh lebih mahal daripada sekadar umur.
Ia menendang pintu kafe itu dengan sisa tenaganya. *B**k!*
Pintu terbuka tanpa suara engsel yang berderit, menyambutnya dengan kehangatan yang menyesakkan dan aroma kopi yang terlalu manis, hampir menyerupai bau bunga kamboja di pemakaman. Malik berdiri di balik konter bar, sedang mengelap sebuah cangkir kecil dengan gerakan yang sangat tenang, seolah-olah tidak ada mayat yang baru saja ditemukan di depan pintunya.
"Kau membunuhnya!" raung Aris, melangkah limbung mendekati konter. "Kau bilang harganya adalah umurku! Kenapa Maya? Kenapa harus dia?"
Malik mendongak. Matanya yang gelap tidak memantulkan cahaya lampu gantung kafe. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum tipis yang dingin. "Selamat malam, Tuan Aris. Anda terlihat... sedikit tidak rapi hari ini. Ingin kopi untuk menenangkan saraf?"
"Pers**** dengan kopimu!" Aris menggeb**k meja kayu itu. "Aku ingin berhenti. Batalkan semuanya! Ambil kembali semua uang di rekeningku, ambil kontrak si**** ini, dan kembalikan Maya! Aku tidak mau lagi!"
Malik meletakkan kain lapnya perlahan. Ia membungkuk, mengambil sesuatu dari bawah konterβsebuah gulungan perkamen yang tampak kuno, namun anehnya terlihat segar, seolah-olah baru saja dikuliti dari sesuatu yang hidup. Ia membentangkan perkamen itu di atas meja.
"Batalkan?" Malik terkekeh, suara yang terdengar seperti gesekan amplas pada kayu. "Dunia ini tidak mengenal tombol 'undo', Aris. Terutama setelah Anda menikmati setiap tegukan keberhasilan yang saya sajikan."
Aris menatap perkamen itu. Di sana, namanya tertera dengan tulisan yang tebal dan gelap. Di bagian bawah, terdapat sebuah noda merah yang masih terasa hangat di matanyaβtanda tangannya yang dibubuhkan dengan darah sebulan yang lalu.
"Aku akan membayarmu dengan apa saja!" Aris memohon, suaranya kini mengecil, penuh keputusasaan. Ia merogoh saku, mengeluarkan kunci mobil dan dompetnya, melemparkannya ke atas meja. "Ambil ini. Ambil sisa umurku sekarang juga kalau perlu, tapi biarkan Maya hidup kembali. Ini tidak adil!"
Malik memiringkan kepalanya, menatap Aris dengan tatapan kasihan yang dibuat-buat. "Adil adalah konsep manusia yang sangat lucu. Anda meminta kesuksesan instan untuk menyelamatkan ego Anda yang hancur karena bangkrut. Saya memberikannya. Tapi Anda lupa membaca catatan kakinya, Aris. Keberuntungan yang saya berikan tidak muncul dari ruang hampa. Ia menghisap kehidupan dari hal-hal yang paling Anda cint** agar kontrak ini tetap seimbang."
"Tidak..." Aris menggelengkan kepala, air matanya jatuh mengenai perkamen itu. Anehnya, air mata itu tidak membasahi kertas, melainkan terserap habis seperti disedot oleh lubang hitam.
"Lihat baik-baik," tunjuk Malik pada barisan kalimat di dalam kontrak yang tiba-tiba berpendar merah. *'Setiap tegukan keberuntungan akan mengonsumsi esensi dari sekitar sang peminum hingga hutang nyawa terbayar lunas.'*
"Maya adalah esensimu, Aris. Dia adalah satu-satunya alasan kau masih merasa menjadi manusia. Sekarang dia sudah tiada, dan kau hanya memiliki dirimu sendiri yang mulai membusuk," Malik mendekat, wajahnya kini hanya beberapa senti dari wajah Aris. Aris bisa mencium aroma tanah basah dan belerang dari napas sang barista.
"Kontrak ini tidak bisa dibatalkan, tidak bisa disobek, dan tidak bisa dibeli kembali dengan uang recehmu itu. Kontrak ini berakhir hanya ketika cangkirmu kosong. Dan lihat..." Malik melirik ke arah jam dinding yang jarumnya berputar berlawanan arah jarum jam. "Cangkirmu masih menyisakan beberapa tetes terakhir."
Aris merasa dadanya sesak. Jantungnya berdegup kencang, namun setiap detakannya terasa menyakitkan, seolah-olah ada duri yang menusuk dinding pembuluh darahnya. Ia melihat ke cermin besar di belakang bar. Sosok yang terpantul di sana bukan lagi pengusaha muda yang tampan. Wajahnya cekung, matanya kuning meredup, dan sepotong daging di pipinya tampak mengelupas, menyingkapkan warna keabu-abuan di bawahnya.
"Aku akan membunuhmu," desis Aris, tangannya meraih botol sirup kaca di atas meja untuk dipukulkan ke kepala Malik.
Namun, sebelum tangannya sempat mengayun, Malik menangkap pergelangan tangan Aris dengan kekuatan yang tidak manusiawi. Cengkeraman itu begitu dingin hingga Aris merasa tulangnya membeku.
"Jangan sia-siakan sisa waktumu untuk kekerasan yang sia-sia, Aris," ucap Malik lembut, hampir seperti bisikan seorang kawan. "Hutangmu belum lunas. Maya hanyalah uang muka. Malam ini, kau akan menyadari bahwa kematian adalah bagian termudah dari kesepakatan kita. Bagian tersulitnya adalah... kau harus melihat siapa yang akan datang menjemputmu setelah ini."
Malik melepaskan tangan Aris dan menunjuk ke arah pintu kafe yang masih terbuka. Di luar, di balik tubuh Maya yang mengering, bayangan hitam yang panjang dan tak berbentuk mulai merayap ma**k, meliuk-liuk di atas lant** kayu yang lembap, menuju ke arah Aris.
Aris mundur teratur, punggungnya menab**k rak botol-botol minuman yang berdenting nyaring. "Apa itu?"
Malik kembali mengambil cangkir porselennya, mulai menuangkan cairan hitam pekat yang mengepulkan asap merah. "Itu adalah kolektor yang jauh lebih tidak sabar daripada saya. Sebaiknya kau habiskan kopi terakhirmu, Aris. Karena ketika bayangan itu menyentuh kakimu, kau akan berharap kau mati bersama Maya di gang tadi."
Aris menatap cairan hitam di dalam cangkir yang disodorkan Malik. Di dalam genangan kopi itu, ia tidak melihat pantulan wajahnya, melainkan wajah Maya yang menjerit tanpa suara. Dan di ambang pintu, bayangan itu kini telah menyentuh ujung sepatunya.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!