Udara di dalam Aula Resonansi terasa seberat timah, jenuh dengan aroma ozon dan keringat dingin ratusan pemuda. Di tengah ruangan, sebuah pilar kristal setinggi tiga meter berdenyut dengan cahaya biru pucat, memantulkan bayangan gemetar di wajah-wajah yang penuh harap. Hari ini adalah titik balikβgaris tipis yang memisahkan antara menjadi pemangsa atau sekadar mangsa di dunia yang telah lama dikuasai oleh sistem.
Juna mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya memutih. Di sampingnya, B**m, seorang pemuda bertubuh kekar yang selalu sesumbar tentang garis keturunan ksatria, baru saja turun dari altar dengan seringai lebar.
"Skill Langka: *Heavy Bastion*!" seru petugas pencatat dengan suara menggelegar. Kerumunan bersorak. B**m menepuk bahu Juna dengan kekuatan yang sengaja dilebihkan, hampir membuat Juna terjatuh.
"Berdoa saja kau dapat sesuatu yang berguna, Juna. Setidaknya klerus tingkat rendah agar kau bisa memba**h lukaku nanti," ejek B**m sebelum menghilang di antara kerumunan pemandu bakat dari berbagai faksi.
Kini giliran Juna. Ia melangkah maju, merasakan dinginnya lant** marmer merambat melalui sol sepatunya yang tipis. Setiap pasang mata di aula itu seolah menimbang-nimbang nilai ekonominya. Juna menarik napas panjang, lalu meletakkan telapak tangannya pada permukaan kristal yang sedingin es.
Sesaat, dunia menjadi gelap. Kemudian, sebuah panel semi-transparan muncul di depan matanya, berpijar dengan warna kuning kusam yang tidak meyakinkan.
**[Awakening Berhasil!]**
**[Skill Utama: Survival Cook (Rank F)]**
**[Deskripsi: Anda mampu mengolah bahan-bahan organik di alam liar menjadi hidangan yang dapat dikonsumsi. Rasanya? Lumayan.]**
Juna mematung. Jantungnya seolah berhenti berdetak. *Survival Cook?* Di dunia di mana orang-orang membangkitkan *Fireball*, *Shadow Step*, atau *Iron Skin*, ia justru mendapatkan kemampuan untuk memasak di tengah hutan?
"Sebutkan skill-mu, Nak," desak petugas, penanya sudah melayang di atas kertas.
Juna menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering seperti pasir. "Survival... Cook," bisiknya.
"Apa? Bicara yang jelas!"
"Survival Cook! Rank F!" Juna setengah berteriak, suaranya pecah.
Hening sejenak. Kemudian, tawa pertama meledak dari barisan belakang, merambat cepat seperti api yang menyambar bensin hingga seluruh aula bergemuruh oleh penghinaan.
"Koki? Dia bilang Koki?" seseorang berteriak sambil terpingkal. "Apa kau akan mengupas bawang di depan Bos Dungeon agar dia menangis sampai mati?"
"Mungkin dia bisa membuatkan sandwich untuk para Orc agar mereka tidak memakan kita!" sahut yang lain.
Petugas pencatat itu menghela napas panjang, mencoret nama Juna dengan garis tebal yang menghina, lalu memberi isyarat agar ia segera turun. Tidak ada pemandu bakat yang mendekat. Tidak ada tawaran kontrak. Juna berjalan menembus kerumunan yang mendadak memberi jalan, bukan karena hormat, melainkan karena mereka tidak ingin 'nasib buruk' pria dengan skill sampah itu menular pada mereka.
Di luar aula, langit mendung seolah ikut mengejeknya. Juna menuju sudut alun-alun tempat kelompok "Iron Fang" berkumpul. Itu adalah kelompok tentara bayaran pemula yang telah berjanji akan membawanya ma**k ke dungeon level rendah jika ia membangkitkan skill bertarung apa pun.
"Marco," panggil Juna pelan saat melihat pria tinggi berambut cepak yang memimpin kelompok itu.
Marco menoleh, lalu meludah ke tanah. "Aku sudah dengar, Juna. Survival Cook? Kau bercanda?"
"Aku masih bisa membantu. Aku tahu anatomi monster, aku bisa membedah bahan, aku bisaβ"
"Kami butuh *Damage Dealer* atau setidaknya seorang *Buffer*, bukan asisten rumah tangga," potong Marco kasar. Ia melangkah maju, mengintimidasi Juna dengan tubuhnya yang besar. "Dengar, Juna. Logistik kami sudah penuh. Membawa koki Rank F ke dalam dungeon hanya akan menambah beban jatah makan kami. Kau mengerti?"
"Tapi kita sudah sepakatβ"
"Kesepakatan itu berlaku untuk seorang petarung!" Marco mendorong dada Juna hingga ia terhuyung ke belakang. "Cari saja kedai nasi yang mau menerimamu. Oh, aku lupa, bahkan pemilik kedai pun lebih suka orang yang punya skill *Flash Fry* daripada sampah sepertimu. Pergi dari sini sebelum aku kehilangan kesabaran."
Anggota Iron Fang lainnya tertawa kecil sambil memalingkan muka saat Juna menatap mereka satu per satu, mencari secercah simpati yang ternyata tidak ada.
Juna berdiri sendirian di trotoar yang mulai basah oleh rintik hujan. Rasa malu yang membakar di dadanya perlahan mendingin, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih gelap dan tajam: rasa lapar.
Bukan sekadar lapar karena belum s****an, tapi sebuah lubang hampa di ulu hatinya yang seolah menuntut untuk diisi oleh sesuatu yang belum pernah ia cicipi. Ia menatap ke arah gerbang Dungeon pinggiran kota yang dijaga ketat, tempat di mana monster-monster berkeliaran.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi sistem berkedip di sudut penglihatannya, berbeda dari yang tadi. Warnanya bukan lagi kuning kusam, melainkan merah pekat seperti darah.
**[Kondisi Tersembunyi Terpenuhi: "Keputusasaan Sang Pengolah"]**
**[Skill Pasif 'Gluttony of the Void' telah diaktifkan.]**
**[Target Terdeteksi: Nafsu makan Anda adalah batas kekuatan Anda.]**
Juna merasakan perutnya melilit hebat, rasa perihnya begitu nyata hingga ia harus berlutut di atas aspal yang dingin. Matanya menatap tajam ke arah hutan terlarang di balik gerbang. Jika dunia ini memandangnya sebagai sampah karena ia seorang koki, maka ia akan menunjukkan pada mereka apa yang terjadi jika sang koki berhenti melayani dan mulai memangsa.
Ia tidak butuh pedang suci atau sihir api. Dunia ini adalah dapurnya, dan setiap monster di dalamnya hanyalah bahan mentah yang menunggu untuk diproses.
Juna berdiri, mengusap sisa hujan di wajahnya dengan punggung tangan. Ia tidak akan pergi ke kedai nasi. Ia akan pergi ke tempat di mana predator puncak berada, karena hanya di sanalah ia bisa menemukan jawaban atas rasa lapar yang mulai menguasai kewarasannya.
Langkah kakinya mantap menuju kegelapan hutan, sementara di dalam pikirannya, sebuah resep g*** mulai terbentuk secara otomatis. Resep yang membutuhkan darah sebagai bumbunya.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!