Udara di dalam Lant** 4 Dungeon 'Kawah Abadi' tidak lagi terasa seperti oksigen; rasanya seperti menelan pecahan kaca yang membara. Juna menarik napas pendek-pendek, berusaha tidak membiarkan uap belerang yang pekat merusak paru-parunya. Setiap kali ia mengembuskan napas, ia bisa melihat uap panas yang keluar dari mulutnya, lebih tebal dari kabut pagi di dunia luar.
"Sial, ini baru zona luar," bisik Juna. Suaranya serak, seperti gesekan amplas di atas kayu kering.
Ia menyeka dahi dengan punggung tangan, tetapi yang ia rasakan hanyalah sensasi perih. Keringatnya menguap bahkan sebelum sempat menetes ke dagu, meninggalkan residu garam yang gatal di kulitnya yang memerah. Di depannya, hamparan tanah retak berwarna hitam legam membentang luas, dihiasi oleh aliran lava kecil yang mengalir pelan seperti pembuluh darah bumi yang pecah.
Tujuan Juna hanya satu: *Hellfire Chili* atau Cabai Neraka. Bahan krusial untuk membuat basis sambal yang mampu mengimbangi energi liar dari Jantung Naga yang ia incar di masa depan. Tanpa tingkat kepedasan yang mampu membakar sirkuit sihir di dalam tubuh, Jantung Naga hanya akan menjadi racun yang menghanguskan organ dalamnya.
[Peringatan: Suhu lingkungan mencapai 62Β°C. Status 'Dehidrasi Ringan' terdeteksi. Durasi 'Perlindungan Panas' dari Kaldu Tulang Orc sisa 12 menit.]
Panel semi-transparan berwarna biru itu berkedip di depan matanya. Juna mengumpat pelan. Ia segera merogoh kantong di pinggangnya, mengeluarkan sepotong daging keringβ*Jerky* Daging Salamander Api yang ia asapkan sendiri. Ia mengunyahnya dengan paksa. Rasanya hambar dan kenyal seperti karet, tetapi kandungan minyak dari Salamander itu sedikit melumasi tenggorokannya yang mulai membengkak.
Juna melangkah maju, kakinya yang dibungkus sepatu bot kulit monster berderit setiap kali menginjak kerak bumi yang panas. Matanya yang tajam dan analitis memindai sela-sela bebatuan vulkanik. Ia tahu tanaman itu tidak tumbuh di sembarang tempat. Cabai Neraka membutuhkan panas ekstrem, tetapi juga membutuhkan nutrisi dari bangkai monster yang membusuk di bawah suhu tinggi.
Lalu, ia melihatnya.
Di dekat sebuah celah besar yang memuntahkan lidah api sesekali, tumbuh sebatang tanaman kecil yang tampak kontradiktif. Batangnya berwarna hitam arang, namun buahnyaβseukuran jempol orang dewasaβberwarna merah menyala dengan gradasi ungu di ujungnya. Buah itu berdenyut secara ritmis, seolah-olah memiliki detak jantung sendiri.
"Dapat kau," gumam Juna. Senyum tipis mengembang di bibirnya yang pecah-pecah.
Namun, saat ia melangkah mendekat, suhu di sekitarnya melonjak drastis. Udara di depan matanya mulai bergetar hebat, menciptakan fatamorgana yang membingungkan indranya. Juna merasakan sensasi terbakar yang nyata di lengannya. Bulu kuduknya habis terbakar, dan bau rambut hangus memenuhi lubang hidungnya.
"Agh!" Juna tersentak mundur. Ia melihat telapak tangannya. Kulitnya mulai melepuh, berubah menjadi gelembung-gelembung air yang menyakitkan dalam hitungan detik.
Ini bukan sekadar panas alami dungeon. Ini adalah 'Aura Penjaga'. Tanaman itu mengonsumsi panas di sekitarnya dan memancarkannya kembali sebagai perlindungan. Semakin dekat ia dengan tanaman itu, semakin besar kemungkinan ia akan terpanggang hidup-hidup sebelum sempat menyentuh batangnya.
"Pikir, Juna. Pikir," ia memarahi dirinya sendiri.
Rasa lapar yang menjadi kutukan sekaligus berkatnya mulai bergejolak di ulu hati. Perutnya melilit, mengirimkan sinyal ke otaknya bahwa ia membutuhkan nutrisi untuk bertahan. Rasa lapar itu bukan sekadar keinginan untuk makan, melainkan dorongan evolusi yang menuntutnya untuk menaklukkan bahan makanan di depannya.
Juna melepas jubah luarnya yang sudah mulai berasap. Ia mengeluarkan botol kecil berisi ekstrak kelenjar keringat Katak Es yang ia dapatkan dari dungeon sebelumnya. Cairan itu dingin membeku, hampir membekukan botol kacanya. Tanpa ragu, Juna menyiramkan cairan itu ke tangan dan wajahnya.
Rasa dingin yang menusuk beradu dengan panas yang memanggang. Juna menjerit tertahan saat kulitnya bereaksi terhadap perubahan suhu yang ekstrem. Namun, ia tidak berhenti. Dengan sisa tenaga dan fokus yang mulai goyah, ia berlari menerjang zona panas tersebut.
Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas bara api yang menyala. Sepatu botnya mulai meleleh, mengeluarkan bau plastik dan kulit terbakar. Juna bisa merasakan pandangannya mengabur. Oksigen di sekitarnya seolah habis diisap oleh tanaman itu.
Lima langkah. Empat langkah.
Kulit di bahunya mulai mengelupas, menampakkan daging merah di bawahnya. Rasa sakitnya begitu hebat hingga ia hampir kehilangan kesadaran, namun bayangan tentang 'Sambal Jantung Naga' yang sempurna menahannya. Ia bukan sekadar koki; ia adalah predator yang sedang memburu mangsanya.
"Hanya... sedikit lagi!"
Juna menjatuhkan dirinya ke depan, tangannya yang terbalus ekstrak Katak Es menyambar batang Cabai Neraka.
*Cshhhhh!*
Suara daging bertemu besi panas terdengar saat jarinya bersentuhan dengan tanaman itu. Juna tidak melepaskannya. Ia mencabut tanaman itu dengan akar-akarnya sekalian.
Tepat saat akar itu tercabut dari tanah, gelombang panas yang menahannya tadi tiba-tiba lenyap, digantikan oleh keheningan yang mencekam. Juna terjerembap di atas tanah hitam, napasnya memburu, paru-parunya terasa seperti penuh dengan debu panas. Ia menggenggam cabai itu erat-erat di dadanya, mengabaikan rasa perih yang menjalar di sekujur tubuhnya.
[Selamat. Anda telah memperoleh: Hellfire Chili (Grade: Rare).]
[Status: Luka Bakar Tingkat Dua terdeteksi. Proses regenerasi dimulai...]
Juna tertawa kecil, suara tawa yang terdengar menyedihkan di tengah kawah yang sunyi itu. "Satu bahan lagi... hanya satu lagi..."
Namun, tawa itu terhenti ketika ia merasakan getaran di bawah punggungnya. Tanah hitam yang ia duduki mulai retak lebih lebar. Dari dalam celah tempat Cabai Neraka itu tadi tumbuh, sebuah geraman rendah dan dalam terdengar, membuat lava di sekitarnya bergejolak liar.
Mata Juna melebar. Ia menyadari satu hal yang terlewatkan dari analisisnya. Cabai itu bukan hanya tanaman liar; itu adalah umpan.
Sepasang mata berwarna kuning vertikal muncul dari kegelapan celah di bawah sana, menatap Juna dengan rasa lapar yang sama besarnya dengan yang ia miliki. Sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar penjaga tanaman mulai merangkak keluar dari perut bumi.
"Oh, kau pasti bercanda," desis Juna sambil berusaha bangkit dengan kaki yang gemetar, tepat saat sebuah cakar raksasa bersisik api menghantam permukaan tanah di depannya.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!