Aroma lumut basah dan bau amis darah dari bangkai *Shadow Stalker* yang baru saja kukuliti memenuhi udara di pinggiran Hutan Kelabu. Pisau dapur standarkuβyang kini lebih tajam dari pedang prajurit biasa berkat asahan lemak *Salamander*βberkilat tertimpa cahaya bulan yang temaram. Aku baru saja hendak menyimpan potongan daging paha monster itu ke dalam tas inventaris ketika semak-semak di depanku tersingkap.
Langkah kaki yang berat dan teratur. Bukan monster. Manusia.
"Satu, dua... enam orang," gumamku pelan, mataku menyipit ke arah kegelapan di balik pepohonan.
Enam pria berseragam merah darah dengan lambang taring putih di dada mereka melangkah keluar, membentuk formasi setengah lingkaran yang mengunci jalanku. Crimson Fang. Nama itu sudah c**up membuat koki kelas rendah mana pun gemetar, tapi yang kurasakan hanyalah gangguan pada jadwal makan malamku.
"Juna, si Koki Survival," salah satu dari mereka melangkah maju. Tubuhnya besar, membawa kapak ganda yang masih menyisakan noda darah kering. "Berita tentang koki yang bisa meningkatkan *stat* secara permanen menyebar lebih cepat daripada bau pangganganmu di pasar gelap."
Aku berdiri perlahan, membersihkan pisauku pada secarik kain kumal. "Aku tidak sedang membuka pesanan hari ini. Pulanglah."
Pria itu tertawa, suara yang parau dan penuh penghinaan. "Kami tidak datang untuk memesan. Kami datang untuk memilikimu. Ketua kami menginginkan 'alat' sepertimu di dapur utama Guild. Kau akan memasak untuk kami, atau kami akan mematahkan kakimu agar kau hanya bisa merangkak di depan kompor."
Rasa lapar yang familier mulai berdenyut di ulu hatiku. Itu bukan lapar biasa; itu adalah rasa lapar purba yang menuntut a**pan energi dari sesuatu yang lebih dari sekadar daging hewan hutan. Aku menatap pria besar itu, bukan sebagai ancaman, tapi sebagai gangguan yang menghalangi pencarianku akan bahan-bahan legendaris.
"Aku bukan alat," ucapku datar. Suaraku terdengar lebih berat dari biasanya.
"Serang dia! Jangan sampai mati, kita butuh tangannya tetap utuh!" perintah si pemimpin.
Dua orang dari samping melesat ke arahku dengan pedang pendek. Gerakan mereka cepat, ciri khas *Assassin* level menengah. Namun, di mataku, gerakan mereka terlihat seperti potongan daging yang tidak rapi. Aku bisa melihat titik lemah di persendian mereka, seperti garis-garis lemak pada potongan *Wagyu*.
Aku menghindar ke samping, gerakanku lebih efisien dari yang kubayangkan. Tapi jumlah mereka terlalu banyak. Satu tendangan mendarat di rusukku, membuatku terlempar menab**k batang pohon ek tua. Rasa sakit menjalar, memicu sesuatu yang selama ini kusembunyikan di sudut tergelap kesadaranku.
*Ding!*
**[Peringatan: Tekanan Mental Terdeteksi.]**
**[Kondisi Lapar: Kritis.]**
**[Aktifkan Skill Unik: 'Berserk Cook Mode'?]**
Aku terbatuk, darah terasa asin di lidahku. Pria besar itu mendekat, mengangkat kapaknya dengan seringai kemenangan. "Hanya segitu kemampuan koki yang dibicarakan orang-orang?"
Aku tidak menjawab. Tanganku gemetar, bukan karena takut, tapi karena nafsu makan yang meledak. "Ya," bisikku pada sistem. "Aktifkan."
Seketika, dunia di sekitarku berubah warna. Segalanya menjadi monokrom, kecuali target-target di depanku yang berpendar dengan warna merah menyala, menunjukkan titik-titik anatomi yang paling rapuh. Pupil mataku melebar hingga bagian hitamnya menelan seluruh iris. Bau keringat mereka berubah menjadi aroma bumbu yang tajam di hidungku.
"Waktunya... persiapan bahan," suaraku keluar bukan sebagai kata-kata, melainkan geraman rendah.
Aku melesat. Kecepatanku berlipat ganda hingga meninggalkan bayangan kabur. Sebelum si pengguna kapak sempat bereaksi, aku sudah berada di ruang pribadinya. Pisau dapurku tidak menebas secara sembarangan; ia bergerak dengan presisi bedah.
*Srak!*
Urat tendon di pergelangan tangannya putus dalam satu goresan bersih. Kapak besarnya jatuh berdentang ke tanah. Dia berteriak, tapi aku sudah berpindah ke target berikutnya. Dalam 'Berserk Cook Mode', aku tidak melihat mereka sebagai manusia. Mereka adalah komoditas. Mereka adalah struktur otot dan tulang yang perlu dipisahkan.
"Apa-apaan ini?! Dia monster!" teriak salah satu *Assassin*.
Aku menendang lututnya hingga terdengar bunyi patahan yang memuaskanβseperti mematahkan tulang ayam untuk diambil sumsumnya. Tanganku bergerak mekanis, efisien, dan tanpa ampun. Setiap serangan bertujuan untuk melumpuhkan fungsi motorik mereka dalam waktu sesingkat mungkin.
Pandanganku mengabur oleh kabut merah. Aku menangkap leher pria terakhir, mengangkatnya dengan satu tangan. Kekuatanku terasa tidak ma**k akal. Di bawah pengaruh mode ini, insting bertahan hidupku bermutasi menjadi insting predator puncak. Aku menatap matanya yang membelalak ketakutan, dan untuk sesaat, aku benar-benar ingin menggigit lehernya untuk merasakan aliran nutrisinya.
"Juna... berhenti..." sebuah suara kecil di belakang kepalaku berbisik. Itu adalah sisa-sisa kesadaranku yang masih memegang teguh kemanusiaan.
Aku melemparkan pria itu ke tanah. Tubuhnya yang gemetar meringkuk seperti udang yang baru saja dilempar ke air mendidih. Lima orang lainnya tergeletak dalam kondisi yang mengerikanβtidak mati, tapi dipreteli secara anatomis sehingga mereka takkan bisa memegang senjata lagi dalam waktu lama.
*Ding!*
**['Berserk Cook Mode' Berakhir.]**
**[Efek Samping: Rasa Lapar Luar Biasa (Level 5) Terpicu.]**
Warna kembali ke duniaku. Seketika, lututku lemas. Seluruh sendiku terasa seolah terbakar, dan perutku melilit dengan rasa sakit yang begitu hebat hingga aku terpaksa mencengkeram tanah. Keringat dingin memba****i keningku.
Aku menoleh ke arah bangkai *Shadow Stalker* yang tadi kutinggalkan. Tanpa berpikir panjang, aku merangkak ke arahnya, mengambil potongan daging mentahnya, dan mulai mengunyahnya dengan rakus. Rasanya amis dan keras, tapi sistemku menyerapnya seolah itu adalah nektar para dewa.
Namun, di tengah kunyahanku, aku menyadari sesuatu. Suasana hutan menjadi sunyi secara tidak wajar. Kabut di sekitar clearing itu semakin menebal, membawa aroma yang jauh lebih berbahaya daripada Crimson Fang.
Sepasang mata berwarna ungu berpendar muncul dari kegelapan di atas dahan pohon. Itu bukan monster yang pernah kubaca di buku panduan mana pun. Makhluk itu memperhatikan sisa-sisa 'masakanku' pada anggota Crimson Fang dengan minat yang mengerikan.
Dan aku, dalam kondisi yang hampir habis tenaga dan dihantui rasa lapar yang belum tuntas, menyadari bahwa konfrontasi tadi hanyalah hidangan pembuka yang pahit. Sesuatu yang jauh lebih besar sedang menunggu untuk menjadikan aku sebagai hidangan utamanya.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!