Lant** marmer yang retak di bawah bot Juna mengeluarkan bunyi gesekan yang menyayat kesunyian. Di dalam ruangan tersembunyi yang terletak di kedalaman Dungeon *Wailing Catacombs* ini, udara terasa begitu kental, seolah setiap oksigen yang ia hirup telah tercemar oleh debu ribuan tahun dan aroma busuk yang samar—seperti daging yang diawetkan dengan cara yang salah.
Juna menyeka keringat yang menetes dari pelipisnya. Tangannya masih sedikit gemetar, sisa dari pertarungan melawan sekelompok *Ghoul* di lorong sebelumnya. Namun, rasa lapar di perutnya—rasa lapar yang terus-menerus menuntut sejak ia mulai mengonsumsi organ monster—terasa sedikit mereda oleh rasa penasaran yang membuncah.
Lampu kristal kecil di tangannya berpendar redup, menerangi sebuah meja batu besar di tengah ruangan. Di atasnya, tumpukan perkamen kulit tergeletak berantakan, dikelilingi oleh botol-botol kaca pecah yang isinya telah lama menguap menjadi noda hitam membandel.
"Jangan bilang aku cuma menemukan resep sup tulang busuk di sini," gumam Juna, suaranya parau.
Ia melangkah mendekat, jemarinya yang kasar menyentuh permukaan sebuah buku bersampul kulit hitam yang terasa aneh saat bersentuhan dengan kulitnya. Bukan kulit sapi atau domba. Permukaannya memiliki tekstur pori-pori yang terlalu lebar, dengan sisa-sisa pola sisik yang hampir pudar. Begitu tangannya bersentuhan dengan buku itu, sebuah notifikasi sistem berkedip di sudut penglihatannya.
**[Item Terdeteksi: Catatan Harian Sang Perintis (The First Eater)]**
**[Kebutuhan Skill: Survival Cook Lv. 15 (Terpenuhi)]**
Juna menahan napas. "The First Eater..."
Ia membuka halaman pertama. Aroma apek menyeruak, disert** energi dingin yang merayap ke lengannya. Tulisan di dalamnya dibuat dengan tinta merah gelap yang Juna curigai adalah darah monster yang telah diolah.
*“Hari ke-400. Aku tidak lagi mengingat rasa roti atau gandum. Lidahku menolak segala sesuatu yang tumbuh dari tanah. Hanya Jantung Chimera yang bisa menenangkan badai di dalam perutku. Kekuatan ini... luar biasa. Aku bisa melihat aliran mana di udara seolah itu adalah bumbu yang melayang,”* tulis paragraf pertama.
Juna membalik halaman demi halaman dengan cepat. Catatan itu penuh dengan diagram anatomi monster yang jauh lebih det**l daripada buku teks mana pun yang pernah ia pelajari di akademi koki. Di sana dijelaskan bagaimana memisahkan kelenjar racun dari hati Manticore agar bisa dikonsumsi tanpa mematikan, atau bagaimana cara memfermentasi mata Cyclops untuk mendapatkan efek penglihatan malam yang permanen.
Namun, semakin jauh ia membaca, tulisan tangan itu semakin berantakan. Huruf-hurufnya mulai memanjang, menyerupai cakaran binatang daripada tulisan manusia.
"Ini bukan cuma catatan masak," bisik Juna, matanya membelalak saat melihat sketsa di halaman tengah.
Sketsa itu menunjukkan seorang pria. Awalnya, ia tampak normal. Namun, pada halaman berikutnya, otot-ototnya digambarkan meledak keluar dari kulit, matanya bertambah satu di dahi, dan jari-jarinya memanjang menjadi pisau tulang yang tajam. Di bawah gambar itu tertulis sebuah catatan kaki yang bergetar:
*“Evolusi memerlukan pengorbanan. Bukan hanya bahan makanannya yang mati, tapi juga kemanusiaan koki yang memasaknya. Kami adalah wadah. Jika wadahnya retak, isinya akan tumpah dan menjadi sesuatu yang lain.”*
Juna merasa tenggorokannya tercekat. Ia teringat akan rasa nikmat yang tak terkendali saat ia melahap jantung Goblin tempo hari. Rasa lapar itu... apakah itu adalah tanda bahwa wadahnya mulai retak?
"Juna? Kau menemukan sesuatu?"
Suara itu datang dari bayang-bayang di pintu ma**k. Juna tersentak dan hampir menjatuhkan buku itu. Itu adalah bayangan memori—atau mungkinkah nuraninya sendiri? Tidak, itu hanyalah keheningan yang mempermainkan pikirannya. Ia sendirian di sini.
Ia terus membalik halaman hingga sampai pada bagian akhir yang tersisa. Di sana, terdapat daftar nama. *Malakor si Pengunyah Api, Silas Sang Pencicip Racun, Varek Lidah Besi.* Di samping setiap nama, terdapat koordinat dungeon tertentu dan sebuah status yang ditulis dengan tinta yang berbeda.
*Malakor — Bermutasi sepenuhnya. Menjadi Penjaga Lant** 50, Inferno Crater.*
*Silas — Gagal menelan Inti Hydra. Sekarang menghuni Rawa Beracun sebagai Abominasi.*
*Varek — Mencapai puncak. Hilang di dimensi antara.*
Juna mundur satu langkah, buku itu terasa seberat beton di tangannya. Koki-koki sebelum dia, orang-orang yang mengejar kekuatan melalui skill 'Survival Cook' yang dihina ini, mereka tidak mati sebagai pahlawan. Mereka berakhir menjadi monster yang selama ini ia buru. Mereka adalah "bahan baku" yang kini menjaga dungeon-dungeon yang mereka coba kuasai.
"Jadi ini harganya?" Juna tertawa kecil, tawa yang terdengar getir dan penuh keputusasaan. "Aku berevolusi bukan untuk menjadi dewa, tapi untuk menjadi hidangan berikutnya bagi sistem ini?"
Tiba-tiba, suhu di ruangan itu turun drastis. Lilin-lilin kecil yang tersisa padam seketika, menyisakan hanya pendar biru dari sistem Juna. Dari sudut ruangan yang paling gelap, terdengar suara geraman rendah yang tidak terdengar seperti binatang, namun juga tidak sepenuhnya manusia.
*“Laparrrr...”*
Suara itu serak, seperti dua batu yang saling bergesekan. Juna membeku. Ia mengenali nada itu. Itu adalah nada yang sama dengan yang ia dengar di dalam kepalanya setiap kali ia melihat monster yang lezat.
Sesosok makhluk merangkak keluar dari balik pilar batu. Tubuhnya tinggi kurus, dengan tangan yang terlalu panjang hingga menyentuh lant**. Makhluk itu mengenakan sisa-sisa celemek koki yang sudah koyak dan berlumuran darah kering. Di lehernya, sebuah lencana perak berkarat menggantung—lencana yang sama dengan yang saat ini tersimpan di saku Juna.
Itu adalah pendahulunya. Koki monster yang telah kehilangan akal budinya.
Juna mencabut pisau dagingnya, jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan di dadanya. Namun, perutnya justru memberikan reaksi yang mengerikan. Di hadapan makhluk yang dulunya manusia itu, Juna tidak merasakan simpati.
Perutnya justru keroncongan hebat. Air liurnya menetes.
*Apa aku benar-benar ingin memakannya?* Juna bertanya pada dirinya sendiri dengan ngeri.
Makhluk itu menerjang dengan kecepatan yang tak ma**k akal, mulutnya terbuka lebar menunjukkan barisan gigi yang lebih mirip taring hiu. Juna menghindar dengan gerakan refleks, namun pikirannya terpaku pada satu fakta yang baru saja ia baca di halaman terakhir buku tadi.
*Setiap koki yang gagal meninggalkan satu bahan unik di dalam tubuh mereka yang bermutasi: Inti Rasa yang Terdistorsi.*
Juna menggenggam gagang pisaunya lebih erat. Jika ia membunuh makhluk ini dan memakannya, ia akan mendapatkan kekuatan besar untuk bertahan hidup. Tapi di saat yang sama, ia akan melangkah satu inci lebih dekat untuk menjadi makhluk yang sama.
"Kalau aku harus menjadi monster untuk tetap hidup," bisik Juna, matanya berkilat di tengah kegelapan, "maka aku akan menjadi monster yang paling ditakuti oleh monster lainnya."
Ia tidak lagi lari. Juna merendahkan posisinya, siap menyambut serangan berikutnya, sementara di dalam kepalanya, sistem memberikan notifikasi yang paling menyeramkan sejauh ini.
**[Misi Tersembunyi Dipicu: Konsumsi Sang Pendahulu]**
**[Hadiah: Membuka Jalur Evolusi Terlarang]**
Makhluk itu melompat lagi, dan Juna mengayunkan pisaunya, bukan untuk membela diri, melainkan untuk memotong bagian daging yang paling empuk. Di kegelapan itu, pertempuran bukan lagi soal benar atau salah, melainkan siapa yang akan berakhir di atas piring saji.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!