Udara di kaki Pegunungan Beku tidak sekadar dingin; ia terasa seperti ribuan jarum mikroskopis yang berusaha menembus pori-pori kulit. Juna mengeratkan mantel bulu beruangnya, meski benda itu sudah mulai kehilangan efektivitasnya. Setiap napas yang ia embuskan keluar sebagai uap putih tebal, sementara paru-parunya terasa perih seolah ia menghirup serpihan kaca.
"Satu langkah lagi, Juna. Jangan berhenti," gumamnya pada diri sendiri. Suaranya terdengar asing di telinganya, parau dan gemetar.
Ia melirik telapak tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit yang sudah robek di bagian jempol. Di sana, pembuluh darahnya tampak sedikit lebih gelap dari biasanya, jejak kebiruan yang merambat dari pergelangan tangan. Itu adalah efek samping dari mengonsumsi *Jantung Salamander Api* dua hari lalu. Energi panasnya memang memberinya kekuatan untuk mendaki sejauh ini, tetapi tanpa penyeimbang, panas itu mulai membakar organ dalamnya dari dalam.
Ia membutuhkan *Lumut Kristal Biru* yang hanya tumbuh di celah bebatuan abadi di puncak ini. Tanpanya, evolusinya akan berujung pada pembakaran diri yang spontan.
Langkah kaki Juna tenggelam hingga ke lutut dalam salju yang baru turun. Tiba-tiba, arah angin berubah. Siulan lembut di antara pepohonan pinus berubah menjadi raungan liar. Langit yang tadinya abu-abu pucat mendadak menggelap, tertutup oleh awan kumulonimbus yang menggulung rendah.
Badai salju. Dalam hitungan detik, jarak pandangnya menyusut hingga kurang dari tiga meter.
"Sial, bukan sekarang," maki Juna. Ia merogoh sabuknya, memastikan pisau dapur—atau lebih tepatnya, belati tulang yang telah dimodifikasi—masih di tempatnya.
Di tengah hiruk-pikuk angin, Juna menangkap sesuatu yang lain. Bukan suara angin yang menghantam dahan, melainkan suara gesekan kuku pada es yang keras. Halus, namun ritmis. Ia berhenti melangkah, menajamkan pendengarannya. Insting 'Survival Cook' miliknya berdenyut di belakang kepala—sebuah sensor bahaya yang telah terasah sejak ia mulai memakan daging monster.
*Grrrr...*
Geraman itu rendah, bergetar di frekuensi yang membuat bulu kuduknya berdiri. Dari balik tirai putih salju, sepasang mata berwarna biru safir menyala muncul. Lalu sepasang lagi. Dan sepasang lagi.
*Frost Wolf.*
Mereka bukan serigala biasa. Tubuh mereka sebesar anak sapi, dengan bulu putih yang berkilau seperti serat optik es. Air liur yang menetes dari taring mereka membeku sebelum sempat menyentuh tanah.
"Tiga... lima... tujuh," Juna menghitung bayangan yang mengepungnya dalam lingkaran yang perlahan menyempit. "Bagus. Aku datang mencari bumbu, tapi proteinnya yang malah mendatangiku."
Meskipun kata-katanya terdengar berani, tangan Juna gemetar. Bukan hanya karena dingin, tapi karena perutnya mulai bergejolak. Rasa lapar itu kembali. Rasa lapar yang terasa seperti lubang hitam di dalam lambungnya, menuntut untuk diisi dengan sesuatu yang kuat, sesuatu yang murni.
Serigala yang berada tepat di depannya—yang terbesar, kemungkinan pemimpin kelompok kecil ini—menerjang tanpa peringatan. Gerakannya sangat cepat, hanya menyisakan jejak kabur berwarna putih di atas salju.
Juna menjatuhkan tubuhnya ke samping, berguling di salju yang beku. Ia bisa merasakan embusan angin dingin saat taring serigala itu meleset hanya beberapa sentimeter dari lehernya. Sambil bangkit, Juna menghunus belati tulangnya.
"Analisis," bisik Juna dalam hati, mengaktifkan kemampuan pasifnya.
[Nama Monster: Frost Wolf (Level 18)]
[Atribut Utama: Es/Kecepatan]
[Titik Lemah: Kelenjar panas di pangkal tenggorokan. Daging bagian paha belakang mengandung lemak dingin yang tinggi energi.]
[Catatan Koki: Lemak Frost Wolf dapat menetralkan racun api, namun empedunya sangat pahit dan beracun jika tidak dibuang dengan teknik sayatan menyilang.]
"Terima kasih, Sistem," seringai Juna muncul, meskipun bibirnya pecah-pecah dan berdarah.
Dua ekor serigala lain menyerang dari sisi kiri dan kanan secara bersamaan. Juna tidak mundur. Ia justru merangsek maju ke arah serigala di sebelah kirinya. Ia menggunakan berat badannya untuk menab**k monster itu, lalu dengan satu gerakan presisi yang biasa ia gunakan untuk membelah sendi karkas monster, ia menghujamkan belatinya ke pangkal tenggorokan makhluk itu.
Hangatnya darah monster itu menyemprot tangannya, terasa kontras dengan suhu sekitar yang mematikan. Serigala itu melengking singkat sebelum ambruk, sementara Juna menggunakan tubuh monster itu sebagai perisai dari serigalan lainnya.
Namun, badai semakin mengg***. Jarak pandang kini praktis nol. Juna hanya bisa mengandalkan indra penciuman dan pendengarannya. Bau amis darah serigala bercampur dengan aroma ozon yang tajam dari badai.
Satu gigitan berhasil mendarat di bahu Juna. Ia berteriak tertahan saat gigi-gigi es itu menembus mantel dan kulitnya, menyuntikkan sensasi beku yang langsung melumpuhkan syarafnya. Juna menghantamkan gagang belatinya ke mata serigala itu, memaksanya melepaskan gigitan.
Ia terengah-engah, bersandar pada sebatang pohon pinus yang sudah membeku. Serigala-serigala yang tersisa kini tidak lagi menyerang secara memb*** buta. Mereka mulai melolong, sebuah pangg***n panjang yang menyayat badai.
Bukan lolongan kemenangan, tapi lolongan pemangg***n.
Tanah di bawah kaki Juna mulai bergetar. Getarannya terlalu besar untuk sekadar langkah kaki serigala. Dari kegelapan badai di atas bukit, muncul sebuah bayangan raksasa yang membuat Frost Wolf lainnya menyingkir dengan patuh.
Ukurannya tiga kali lipat dari serigala biasa, dengan tanduk es yang tumbuh dari dahinya seperti mahkota yang retak. Napasnya mengeluarkan kabut biru yang langsung membekukan apa pun yang dilewatinya.
*Frost Wolf Alpha.*
Juna menatap monster itu, lalu menatap telapak tangannya sendiri yang kini semakin membiru. Rasa lapar di perutnya kini bukan lagi sekadar gangguan; itu adalah raungan yang menuntut pemuasan. Jika ia tidak memakan jantung Alpha ini sekarang, maka badai atau racun api di tubuhnya yang akan menghabisinya terlebih dahulu.
"Jadi, kamu hidangan utamanya?" Juna mengangkat belatunya, sementara tangan kirinya merogoh kantong kecil berisi garam kasar yang selalu ia bawa.
Di tengah badai yang mampu membekukan darah manusia biasa, Sang Koki Monster justru merasakan air liurnya menetes. Ia tidak lagi melihat seekor predator puncak yang menakutkan. Di matanya, yang berdiri di sana adalah bahan legendaris yang akan menentukan apakah ia akan tetap menjadi manusia, atau berevolusi menjadi sesuatu yang jauh lebih lapar.
Alpha itu menggeram, salju di sekitarnya terangkat oleh tekanan auranya. Saat makhluk itu melompat, Juna menyadari satu hal: ini bukan lagi perburuan. Ini adalah ritual dapur yang paling mematikan.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!