Darah merembes dari luka sayatan di bahuku, namun rasa sakit itu terasa jauh, seolah-olah terjadi pada tubuh orang lain. Di depanku, kawanan *Ironmane Wolves*—serigala dengan bulu setajam kawat baja—mulai mengepung. Air liur mereka menetes, berbau busuk seperti daging busuk yang tertinggal di bawah matahari.
"Juna! Mundur! Kita terlalu dalam ma**k ke sarang mereka!" Elara berteriak, suaranya gemetar saat ia menarik tali busur panahnya. Anak panah berpendar cahaya hijau melesat, menembus mata salah satu serigala, tapi tiga ekor lainnya langsung melompat maju untuk mengisi celah itu.
Aku tidak menjawab. Nafas mencekat di tenggorokanku. Perutku melilit, bukan karena luka, melainkan karena kekosongan yang membakar. Rasa lapar ini... ini berbeda. Ini bukan sekadar keinginan untuk makan. Ini adalah tuntutan dari sesuatu yang gelap di dalam sumsum tulangku. Sesuatu yang lapar akan esensi, akan nyawa.
*Peringatan: Tingkat kelaparan mencapai 95%. Mode 'Apex Predator' diaktifkan otomatis.*
Pandanganku tiba-tiba memerah. Suara teriakan Elara berubah menjadi dengungan samar yang menjauh. Dunia melambat, detak jantungku berdentum di telinga seperti palu godam yang menghantam landasan besi. *Dug-dug. Dug-dug.*
Lalu, kegelapan menyapu kesadaranku.
Rasanya seperti jatuh ke dalam sumur yang sangat dalam, tetapi alih-alih mendarat di air, aku mendarat di atas tumpukan daging hangat. Aku tidak lagi mengendalikan tanganku. Aku melihat, dari sudut pandang yang asing, bagaimana tubuhku melesat maju dengan kecepatan yang mustahil bagi seorang 'Survival Cook' level rendah.
Aku tidak menggunakan pisau dapurku. Jari-jariku mencengkeram rahang bawah seekor serigala yang tengah melompat. Dengan satu sentakan brutal, terdengar bunyi *krak* yang memuakkan—tulang rahang itu hancur, robek dari engselnya. Aku tidak berhenti di situ. Gigiku—mengapa gigiku terasa begitu tajam?—langsung membenamkan diri ke leher serigala itu saat ia masih meronta.
Rasa hangat dari darah segar yang memancar ke dalam mulutku adalah satu-satunya hal yang terasa nyata. Itu manis. Lebih manis dari madu manapun yang pernah kucicipi.
"Juna... berhenti..."
Suara itu sangat kecil. Aku melihat tubuhku berdiri di atas tumpukan bangkai serigala yang tercabik-cabik. Bulu-bulu baja yang seharusnya melukai kulitku justru patah, terg***s oleh kekuatan murni yang meledak dari dalam diriku. Aku tidak menusuk mereka; aku mengoyak mereka. Aku menggunakan kuku, gigi, dan kekuatan otot yang melampaui batas manusia.
Aku mencengkeram jantung serigala terakhir yang masih berdenyut lemah. Tanpa ragu, aku menggigitnya mentah-mentah, membiarkan cairan kental berwarna merah gelap membasahi dagu dan pakaianku. Setiap kunyahan memberikan sensasi panas yang menjalar ke seluruh sarafku.
*Statistik permanen meningkat: Kekuatan +2, Agilitas +3.*
*Skill diperoleh: Iron Skin (Passive).*
Kabut merah di mataku perlahan memudar. Kesadaranku kembali seperti air dingin yang menyiram kepala. Aku mengerjap, merasakan rasa anyir yang luar biasa kuat di mulutku. Aku menunduk dan jantungku seakan berhenti berdetak.
Tanganku terendam darah hingga siku. Di bawah kakiku, monster-monster itu tidak lagi berbentuk serigala; mereka hanya gundukan daging dan tulang yang hisap habis esensinya. Aku menoleh ke arah Elara.
Gadis itu terduduk di tanah, busurnya tergeletak tak berdaya di sampingnya. Wajahnya sepucat kertas. Matanya yang biasanya penuh keberanian kini melebar, dipenuhi oleh kengerian murni. Dia tidak melihat ke arah seorang rekan tim. Dia melihat ke arah sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada monster yang baru saja kami lawan.
"Elara..." suaraku parau, pecah oleh sisa-sisa geraman yang masih tertinggal di tenggorokanku.
Aku melangkah maju, ingin memastikan dia baik-baik saja. Namun, Elara secara refleks menyeret tubuhnya mundur, menjauh dariku. Tangannya gemetar hebat saat dia menunjuk ke arahku.
"Jangan... jangan mendekat," bisiknya. Suaranya pecah oleh isak tangis yang tertahan. "Kamu... kamu bukan Juna. Juna tidak akan... dia tidak akan memakan mereka hidup-hidup seperti itu."
Aku membeku. Aku menyeka mulutku dengan punggung tangan, hanya untuk menyadari bahwa tanganku juga penuh dengan sisa-sisa daging mentah. Aku melihat ke dalam genangan darah di lant** dungeon yang gelap. Bayanganku di sana tidak terlihat seperti diriku yang biasanya. Mataku masih menyisakan rona merah yang redup, dan ada sesuatu yang liar, sesuatu yang buas, yang tersenyum dari balik tatapanku sendiri.
"Aku melakukannya untuk menyelamatkan kita," kataku, namun kata-kata itu terdengar kosong bahkan di telingaku sendiri.
"Kamu tidak menyelamatkan kita, Juna," Elara berdiri dengan susah payah, kakinya masih lemas. Dia memandangku dengan tatapan asing, sebuah jarak yang tiba-tiba membentang ribuan mil di antara kami. "Kamu hanya... kamu terlihat seperti sedang menikmati setiap detiknya. Kamu terlihat seperti mereka."
Dia berbalik dan mulai berjalan cepat menuju pintu keluar dungeon, meninggalkanku sendirian di tengah bau amis kematian. Aku ingin mengejarnya, ingin menjelaskan bahwa sistem ini memaksaku, bahwa rasa lapar ini di luar kendaliku.
Namun, saat aku hendak melangkah, sebuah notifikasi sistem baru muncul di depan mataku, bersinar dengan warna hitam yang pekat.
*Evolusi Terdeteksi: Persentase kemanusiaan menurun menjadi 82%. Ambang batas 'Gourmet Demon' mendekat.*
Rasa lapar itu kembali berdenyut, kali ini lebih halus, lebih menggoda. Dan yang paling membuatku takut adalah satu hal: di lubuk hatiku yang paling dalam, Elara benar. Bagian dari diriku benar-benar menikmati rasa darah itu.
Apakah ini harga yang harus kubayar untuk kekuatan? Menjadi monster demi memburu monster?
Langkah kaki Elara menghilang di kegelapan lorong, meninggalkanku dalam kesunyian yang mencekam, ditemani oleh sisa-sisa mangsaku yang mulai dingin. Aku tahu, mulai saat ini, perjalananku tidak akan pernah sama lagi. Kesepian ini baru saja dimulai.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!