Udara di ketinggian enam ribu meter ini terasa seperti serpihan kaca yang menyayat paru-paruku setiap kali aku menarik napas. Dinginnya luar biasa, jenis dingin yang tidak hanya membekukan kulit, tetapi juga mencoba memadamkan api kehidupan di dalam sumsum tulang. Aku merapatkan jubah kulit *Chimera* yang mulai robek di beberapa bagian, mencoba meredam gemeretak gigiku yang tak kunjung berhenti.
Di depanku, jalan setapak batu yang melayang di antara gumpalan awan kumulonimbus membentang menuju satu titik: Gerbang Sarang Naga Langit. Gerbang itu tidak terbuat dari kayu atau besi, melainkan dari susunan tulang rusuk raksasa yang melengkung megah, disatukan oleh sihir kuno yang memancarkan pendar kebiruan yang redup.
Namun, bukan gerbang itu yang membuat langkahku tertahan.
"Berhenti di sana, Manusia Pemakan Bangkai."
Suara itu berat, bergetar seperti gesekan dua lempeng tektonik. Dua sosok berdiri tegak di depan gerbang. Mereka bukan naga dalam bentuk binatang, melainkan *Draconian*—setengah manusia, setengah naga—yang mengenakan baju zirah dari sisik naga perak yang dipoles meng***p. Tinggi mereka hampir tiga meter, memegang tombak panjang yang ujungnya terus-menerus memercikkan kilat.
Mataku menyipit. Panel sistem muncul secara otomatis di sudut penglihatanku.
[**Analisis Bahan:** *Sentinel Draconian Tinggi (Level 75)*]
[**Bagian Terbaik:** *Otot Pangkal Ekor (Tekstur kenyal, kaya akan elemen petir)*]
[**Status:** *Waspada dan Merendahkan*]
"Aku tidak datang untuk bangkai," gumamku, suaraku parau karena dehidrasi. Aku menjilat bibirku yang pecah-pecah, merasakan sisa rasa amis dari jantung *Wyvern* yang kumakan dua jam lalu. "Aku datang untuk bahan utama."
Salah satu penjaga, yang memiliki bekas luka melintang di moncongnya, tertawa. Tawa itu lebih mirip geraman rendah. "Bahan utama? Kau dengar itu, Kaelas? Makhluk kecil ini mengira dia sedang berada di pasar bahan makanan, bukan di ambang kematiannya."
"Dia berbau seperti darah kaum kita," sahut penjaga yang satu lagi, Kaelas, sambil mengarahkan ujung tombaknya tepat ke tenggorokanku. Kilat dari tombak itu membuat bulu kudukku berdiri. "Baunya busuk. Bau pencernaan manusia yang mencoba mencuri kekuatan yang bukan haknya."
Aku melangkah maju satu tindak, mengabaikan ancaman tombak itu. Rasa lapar yang membakar di perutku—kutukan sekaligus anugerah dari skill *Survival Cook*—mulai bergejolak kembali. Rasanya seperti ada tangan raksasa yang meremas lambungku, menuntut untuk diisi dengan sesuatu yang lebih kuat, lebih murni.
"Kalian tahu," kataku sambil membuka tas pinggangku, mengeluarkan pisau dapur berwarna hitam legam yang kutempa dari taring *Abyssal King*. "Daging Draconian punya satu masalah besar. Jika tidak dibersihkan dari kelenjar petirnya dalam waktu sepuluh detik setelah kematian, dagingnya akan menjadi pahit dan meledak di lidah."
Kedua penjaga itu tertegun sejenak. Mereka tidak mengharapkan respon seperti itu. Di dunia yang dikendalikan oleh sistem, di mana orang biasanya memohon ampun atau meneriakkan nama jurus mereka, bicaraku tentang teknik memotong adalah sebuah penghinaan yang tak ma**k akal.
"Kau berani mengancam akan memasak kami?" Sentinel yang bermoncong luka itu menggeram, matanya menyala dengan aura emas yang menakutkan. "Kami adalah pelindung garis darah Naga Langit! Kami memiliki kecerdasan dan kehormatan, tidak seperti binatang rendah yang kau lahap di kaki gunung!"
"Justru karena kalian punya kecerdasan, rasa daging kalian akan lebih kompleks," balasku dingin. Aku bisa merasakan adrenalin mulai memompa, mempercepat regenerasi staminaku yang tipis. "Emosi memberikan rasa 'pedas' alami pada serat otot. Dan saat ini... kalian terlihat sangat marah."
"C**up!" Kaelas menerjang.
Gerakannya bukan sekadar terjangan binatang buas. Itu adalah serangan yang terukur, penuh teknik bela diri tingkat tinggi. Tombaknya membelah udara, melepaskan gelombang kejut listrik yang menghancurkan ubin batu di bawah kakiku.
Aku berguling ke samping, merasakan panas kilat itu menyambar ujung jubahku. Aku tidak membalas dengan kekuatan kasar. Aku tidak punya c**up *Mana* untuk itu. Alih-alih, aku mengamati sendi-sendi di baju zirah mereka. Sebagai seorang koki, aku tidak melihat musuh sebagai p***ang; aku melihat mereka sebagai anatomi yang harus dipisahkan.
"Satu di kiri, satu di kanan," gumamku pada diri sendiri.
Sentinel kedua melompat ke udara, sayap kulitnya yang lebar membentang, menciptakan tekanan udara yang membuatku sulit berdiri. Dia menukik dengan kecepatan suara, cakarnya siap merobek kepalaku.
Aku memejamkan mata sekejap, mengaktifkan skill pasif: *Chef’s Vision*.
Dunia berubah menjadi monokrom, kecuali titik-titik vital di tubuh kedua Draconian itu yang bersinar merah terang. Titik-titik di mana sendi bertemu, di mana aliran sihir paling lemah, dan di mana daging paling empuk berada.
Aku menghindar tipis dari cakar sang penjaga, merasakan angin serangannya menggores pipiku hingga berdarah. Saat dia mendarat, aku tidak menjauh. Aku justru merapat ke arah ketiaknya, area yang tidak terlindungi oleh sisik tebal.
*Sret!*
Pisau hitamku ma**k dengan mulus. Bukan serangan mematikan, melainkan sebuah sayatan presisi pada tendon utamanya.
"Argh!" Draconian itu meraung, bukan karena rasa sakit biasa, tapi karena dia merasakan kekuatan di lengannya tiba-tiba lenyap.
"Kau..." Sentinel satunya lagi terpana melihat rekannya jatuh sebelah lutut hanya dalam satu gerakan. "Apa yang kau lakukan?"
"Hanya memotong urat pengikat," kataku datar sambil memutar pisau di tanganku. Mataku menatap lurus ke arah gerbang tulang di belakang mereka, yang mulai bergetar hebat. "Kalian menghalangi jalan. Dan perutku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi."
Namun, kemenanganku terinterupsi. Sebuah tekanan yang jauh lebih besar dari sekadar Draconian tiba-tiba turun dari langit-langit sarang. Tekanan itu begitu berat hingga aku terpaksa bertumpu pada satu tangan agar tidak tersungkur ke tanah.
Suara tawa yang halus, namun mengandung gema yang mengerikan, terdengar dari balik gerbang tulang.
"Biarkan dia ma**k," suara itu memerintah, terdengar begitu berwibawa sekaligus lapar. "Sudah lama sekali tidak ada 'makanan' yang berani mencoba memasak penjagaku. Aku ingin melihat, apakah pisaunya setajam lidahnya."
Gerbang tulang raksasa itu mulai bergeser, mengeluarkan suara gemeretak yang m****akkan telinga. Di baliknya, kegelapan pekat menyambutku, dengan dua bola mata raksasa berwarna biru safir yang mengawasi dari kegelapan.
Lapar. Tiba-tiba saja, rasa laparku berlipat ganda hingga membuat pandanganku memerah. Naga itu tidak melihatku sebagai ancaman. Dia melihatku sebagai camilan.
Tapi dia tidak tahu, aku sudah menyiapkan bumbu untuknya.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!