Aroma kunyit liar dan darah yang mulai mengental menguar di udara gua yang lembap. Aku berjongkok di depan sebuah lumping batu darurat yang kupahat sendiri dari bongkahan granit. Di tanganku, sebuah alu kayu ulin menghantam dasar lumping dengan irama yang konstan. *Tuk. Tuk. Tuk.*
Butiran kristal dari kelenjar keringat *Frost Salamander* hancur menjadi bubuk halus kebiruan. Aku mencampurkannya dengan tumbukan biji cabai *Hellfire* yang masih menyengat mata. Reaksinya instan; asap tipis berwarna ungu naik ke udara, membawa aroma pedas yang menyayat paru-paru sekaligus sensasi dingin yang membekukan bulu kuduk.
Ini bukan sekadar bumbu. Ini adalah amunisi.
Aku berhenti sejenak, mengusap peluh yang menetes di dahi dengan punggung tangan. Saat itulah aku melihatnya di pantulan permukaan pisau tulangku yang meng***p. Mataku. Ada sesuatu yang berbeda di sana. Pupil mataku tidak lagi sepenuhnya bulat; mereka sedikit memanjang, vertikal, mirip dengan reptil yang kusembelih tiga jam lalu.
Aku menyentuh rahangku yang terasa kaku. Rasa lapar itu kembali lagi. Bukan lapar yang biasa diredam dengan sepiring nasi hangat, melainkan rasa lapar yang menuntut daging segarβyang menuntut esensi kehidupan dari makhluk lain.
"Masih manusia, Juna. Kau masih manusia," bisikku pada diri sendiri. Suaraku terdengar parau, lebih mirip geraman rendah daripada ucapan manusia.
Aku mengambil botol kecil berisi minyak dari lemak *Shadow Stalker*. Minyak itu hitam pekat, seolah-olah menyerap cahaya di sekitarnya. Dengan hati-hati, aku meneteskan tiga tetes ke dalam campuran bumbu pedas-dingin tadi. Campuran itu mulai berdesis, bergejolak seperti sesuatu yang hidup.
[Sistem Mendeteksi: Eksperimen Kuliner Baru sedang Berlangsung...]
[Analisis Bahan: Bubuk Kristal Es (Tier 3), Biji Hellfire (Tier 3), Esensi Bayangan (Tier 4)]
[Persentase Keberhasilan: 62%]
Aku mengabaikan notifikasi transparan yang melayang di hadapanku. Konsentrasiku terpusat pada keseimbangan aroma. Lidahku secara otomatis mengecap udara, menganalisis partikel bumbu yang beterbangan. Panca inderaku telah melampaui batas normal sejak aku memakan jantung *Evolutive Goblin* itu. Aku bisa merasakan detak jantung tikus gua di balik dinding batu sejauh sepuluh meter. Aku bisa mendengar aliran darah di nadiku sendiri yang berdenyut kencang.
Tanganku sedikit gemetar saat aku menuangkan ramuan bumbu itu ke dalam wadah bambu. Ini adalah "Sambal Bayangan Beku"βracikan yang kubuat khusus untuk melumuri belatiku sebelum menghadapi sang Penjaga Gerbang di lant** bawah. Namun, sebagian dari dirikuβbagian yang lebih gelap dan lebih laparβberbisik agar aku menjilat sisa bumbu itu dari lumping batu.
*Jilat saja. Rasakan kekuatannya langsung di lidahmu. Kenapa harus menunggu pertarungan?*
Aku mencengkeram pinggiran lumping batu itu hingga buku-buku jariku memutih. "Tidak. Aku koki. Aku yang mengendalikan bahan, bukan bahan yang mengendalikan aku."
Tapi, apakah seorang koki masih bisa disebut koki jika dia mulai melihat musuhnya bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai komposisi protein dan kalori? Tadi siang, saat aku membedah dada *Chimera* yang sekarat, aku tidak merasakan belas kasihan. Aku hanya merasa kecewa karena hatinya terlalu banyak mengandung empedu, yang akan merusak rasa saus yang ingin kubuat.
Aku berdiri, kakiku terasa ringan, hampir tidak menapak di lant** gua yang kasar. Di sudut gua, tumpukan tulang belulang monster yang kupanen selama tiga hari terakhir berserakan. Aku telah memakan mereka semua. Aku telah mencuri kekuatan mereka, menyerap kecepatan mereka, dan mengasimilasi ketahanan kulit mereka.
Aku berjalan menuju genangan air jernih di sudut gua untuk memba**h wajah. Saat aku membungkuk, bayangan di permukaan air itu tidak lagi menunjukkan pemuda berusia 21 tahun yang lugu. Wajahku lebih tirus, kulitku memiliki semburat pucat yang tidak sehat, dan ada aura predator yang memancar dari setiap gerak-gerikku.
Aku mencelupkan tangan ke air, mencoba memba**h noda merah di kuku, tapi noda itu seolah meresap ke dalam pori-pori.
"Juna?" suara langkah kaki mendekat. Itu suara kapten tim ekspedisi yang menyewaku, atau lebih tepatnya, yang 'membuangku' ke dapur belakang ini. "Bumbunya sudah siap? Kita berangkat lima menit lagi."
Aku berbalik. Pria itu, seorang *Paladin* tingkat tinggi dengan baju zirah emas, mendadak berhenti. Matanya menyipit, tangannya secara refleks turun ke hulu pedangnya. Dia menatapku seolah-olah dia tidak sedang melihat seorang koki, melainkan seekor monster yang memakai kulit manusia.
"Sudah siap, Kapten," jawabku tenang. Aku menyerahkan wadah bambu itu padanya, tapi dia mengambilnya dengan gerakan yang sangat hati-hati, menjaga jarak seolah aku bisa menerkamnya kapan saja.
"Kau... kau baik-baik saja?" tanyanya, suaranya mengandung nada curiga.
Aku tersenyum, dan aku tahu senyum itu tidak mencapai mataku. Aku bisa mencium bau ketakutan yang keluar dari pori-porinya. Aroma ketakutan itu... manis. Seperti buah persik yang terlalu matang. Dan entah mengapa, itu membuat perutku keroncongan hebat.
"Aku hanya lapar," kataku pelan. "Sangat lapar."
Kapten itu menelan ludah, lalu berbalik tanpa berkata apa-apa lagi, setengah berlari menuju barisan depan.
Aku mengambil ranselku, memastikan pisau dapur dan peralatan memasakku berada di tempatnya. Di dalam saku terdalam, aku menyentuh botol kecil berisi ekstrak empedu Naga yang kudapatkan dari pasar gelap. Bahan terakhir untuk *Sambal Jantung Naga*.
Saat aku melangkah keluar dari gua menuju area boss, tanah di bawah kakiku mulai bergetar. Raungan raksasa mengguncang dinding-dinding dungeon, membuat para prajurit di depan gemetar ketakutan.
Tapi bagiku, suara itu terdengar seperti bel makan siang.
Aku tidak tahu apakah aku masih Juna sang koki, atau Juna sang monster. Namun satu hal yang pasti: apa pun yang ada di balik pintu besar itu, ia tidak akan menjadi lawan bagiku. Ia akan menjadi hidangan utamaku.
Aku menjilat bibirku yang pecah-pecah, merasakan sisa bubuk pedas yang membakar. *Mari kita mulai memasak.*
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!