Langit di atas Puncak Awan Berdarah tidak lagi berwarna biru. Warnanya telah berubah menjadi abu-abu pekat yang berputar-putar, seolah-olah atmosfer itu sendiri sedang diperas oleh tangan raksasa. Di tengah pusaran badai itu, sang penguasa bersemayam. Naga Langit, sebuah entitas yang lebih menyerupai manifestasi badai daripada makhluk hidup, melayang dengan keanggunan yang mematikan. Sisiknya yang berwarna perak kebiruan berkilat setiap kali kilat menyambar di balik awan.
Aku menyeka keringat yang bercampur dengan debu di keningku. Napasku terasa berat, oksigen di ketinggian ini sangat tipis, ditambah lagi dengan tekanan aura (mana) yang dipancarkan makhluk di depan sana. Di sampingku, peralatan masak darurat yang telah menemaniku melewati belasan dungeon sudah tertata rapi. Sebuah kuali besi berat yang ditempa dari baja hitam, pisau-pisau filat yang kukikir hingga setajam silet, dan botol-botol bumbu yang berisi ekstrak tumbuhan langka.
"Kau terlihat lapar, kawan," bisikku pada diriku sendiri, mencoba menenangkan debar jantung yang mengg***. "Dan aku butuh jantungmu untuk sambal itu."
Naga Langit itu mengeluarkan raungan yang bukan sekadar suara, melainkan gelombang kejut. Tanah di bawah kakiku bergetar hebat. Matanya yang berwarna emas vertikal menatapku dengan penghinaan murni. Bagi makhluk legendaris itu, aku hanyalah seekor semut yang mencoba menantang matahari.
Tanpa peringatan, sang naga melipat sayapnya dan menukik. Kecepatannya melampaui apa yang bisa ditangkap mata manusiaku. Aku hanya sempat melihat kilatan cahaya perak sebelum insting 'Survival Cook'-mu berteriak. Aku berguling ke samping, merasakan panas yang menyengat saat tubuh naga itu menyapu tempatku berdiri sedetik yang lalu.
*BOOM!*
Hantaman itu menciptakan kawah kecil. Namun, bukan nyawaku yang menjadi korban utama. Mataku membelalak saat melihat ke arah area persiapanku.
"Tidak..." desisku.
Ekor Naga Langit yang dilapisi duri-duri tajam telah menyapu bersih segalanya. Kuali besi hitamku—alat yang kugunakan untuk mengolah daging Hydra bulan lalu—kini terbelah dua seperti kertas perak. Botol-botol bumbu kacaku hancur berkeping-keping, isinya tumpah ke tanah dan menguap seketika terkena hawa panas sang naga. Pisau-pisauku terbang entah ke mana, tertimbun reruntuhan batu.
Hatiku mencelos. Bagi seorang koki, peralatan adalah separuh jiwanya. Melihat mereka hancur berkeping-keping memicu kemarahan yang lebih besar daripada rasa takut akan kematian.
"Kau..." Aku berdiri perlahan, mengepalkan tangan hingga buku-buku jariku memutih. "Kau tahu berapa lama aku mengumpulkan Garam Kristal dari dasar laut itu? Kau tahu betapa sulitnya menjaga kestabilan suhu kuali itu?"
Naga Langit itu mendarat, cakarnya mencengkeram tebing dengan kuat. Ia membuka mulutnya, dan cahaya biru elektrik mulai terkumpul di tenggorokannya. Ia bersiap untuk tembakan *Breath* yang akan meratakan puncak gunung ini.
Aku melihat ke sekeliling dengan kalap. Tidak ada kuali. Tidak ada pisau. Tidak ada kompor. Hanya ada aku, sebuah belati cadangan di pinggang yang biasanya hanya kugunakan untuk mengupas bawang, dan rasa lapar yang mulai membakar perutku. Tekanan di perutku ini bukan sekadar lapar biasa; ini adalah *The Devourer’s Hunger*, efek samping dari skill evolusiku yang menuntut nutrisi tingkat tinggi.
"Kau pikir tanpa alat aku tidak bisa memasakmu?" suaraku meninggi, serak oleh debu dan amarah.
Naga itu melepaskan tembakan energinya. Sinar biru raksasa melesat lurus ke arahku. Aku tidak lari. Aku justru berlari *menuju* serangan itu. Dengan perhitungan anatomi yang tajam—salah satu kelebihanku sebagai koki monster—aku tahu bahwa di bawah setiap serangan sihir besar, selalu ada celah tekanan udara yang bisa dilewati.
Aku merunduk, membiarkan panas laser itu membakar rambut di punggungku, dan meluncur di antara celah bebatuan. Aku muncul tepat di bawah leher naga itu, area yang sisiknya paling tipis.
"Jika aku tidak punya kuali, maka perutmu adalah wadahnya," teriakku sambil menghujamkan belati kecilku ke celah sisik di lehernya.
Naga itu meronta, mengeluarkan jeritan yang m****akkan telinga. Darahnya yang berwarna biru cerah dan panas seperti lava memuncrat ke wajahku. Baunya amis, namun ada aroma ozon dan manis yang sangat kuat. Aroma yang hanya dimiliki oleh bahan makanan tingkat SSS.
Aku menjilat darah yang menetes ke bibirku. [Sistem: Darah Naga Langit Terdeteksi. Analisis: Kaya akan elemen petir dan energi murni. Peringatan: Toksisitas tinggi bagi manusia normal.]
"Aku bukan manusia normal," gumamku dengan mata yang mulai bersinar kemerahan.
Naga itu mengepakkan sayapnya, membawaku terbang tinggi ke angkasa. Aku berpegangan erat pada sisiknya yang tajam, sementara angin kencang mencoba mencabutku dari punggungnya. Di ketinggian ribuan kaki, di tengah badai yang diciptakannya sendiri, aku menyadari satu hal.
Aku kehilangan peralatanku, tapi naga ini... seluruh tubuhnya adalah dapur yang luar biasa. Panas tubuhnya adalah api, darahnya adalah kaldu, dan jantungnya... jantungnya adalah bahan utama yang akan membuatku melampaui batas kemanusiaan ini.
Namun, sang naga tidak tinggal diam. Ia mulai berputar di udara, melakukan manuver *death roll* untuk melepaskanku. Di saat yang sama, awan di sekitar kami mulai berdenyut dengan kilat yang siap menyambar apa pun yang menempel di tubuh penguasanya.
Aku harus mencapai jantungnya sebelum petir itu memanggangku hidup-hidup. Tapi tanpa pisau jagal yang memadai, bagaimana cara menembus tulang dadanya yang sekeras intan?
Satu-satunya cara adalah menggunakan apa yang tersisa dari 'Survival Cook' milikku. Aku memejamkan mata, memfokuskan seluruh mana ke ujung jariku, mencoba mengubah energi lapar itu menjadi pisau pemotong yang tak terlihat.
"Mari kita lihat," bisikku di tengah deru angin, "siapa yang akan memakan siapa hari ini."
Tepat saat itu, seberkas petir raksasa menyambar langsung ke arah punggung naga, tepat di mana aku berada. Di saat yang genting itu, sebuah notifikasi sistem berkedip merah di sudut penglihatanku, memberitahukan sesuatu yang tidak pernah kuduga sebelumnya tentang skill kulinarku.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!