Bau belerang yang mencekik memenuhi rongga paruku setiap kali aku mencoba menarik napas. Di depanku, Wyvern Api—yang seharusnya kusebut sebagai prototipe naga sejati—berdiri dengan keangkuhan yang mematikan. Sisik merah kusamnya berkilat tertimpa cahaya lava yang mengalir di sisi gua, dan setiap embusan napasnya meninggalkan jelaga di udara.
Aku terlempar ke dinding batu. Rasa sakit yang tajam menusuk tulang rusukku; setidaknya dua di antaranya patah. Darah hangat mulai merembes dari sudut bibirku. Di tangan kananku, pisau dapur berbahan *Obsidian Steel* yang biasa kugunakan untuk memotong daging goblin kini tampak seperti tusuk gigi di hadapan raksasa ini.
"Hanya... sedikit lagi," bisikku, mengabaikan peringatan sistem yang berkedip merah di sudut mataku.
**[Peringatan: HP di bawah 10%. Organ dalam mengalami trauma berat.]**
Naga itu menggeram, suara yang menggetarkan isi perutku. Ia tidak melihatku sebagai lawan, melainkan sebagai serangga yang mengganggu waktu tidurnya. Saat ia mengangkat cakar raksasanya untuk memberikan hantaman terakhir, aku melihat celah itu. Sebuah luka menganga di dadanya, sisa dari ledakan jebakan kimia yang kupasang sebelumnya. Di balik lapisan otot yang terkoyak, sesuatu yang bersinar keemasan berdenyut dengan ritme yang purba.
Jantung naga. Bahan tertinggi.
"Jika aku harus mati di sini," aku memaksakan diri berdiri, kaki kiriku gemetar hebat, "aku akan mati dengan perut kenyang."
Naga itu menerjang. Alih-alih menghindar, aku justru melompat ke depan, merunduk di bawah ayunan cakarnya yang membelah udara dengan suara menderu. Bau amis darah naga yang panas menyengat hidungku saat aku merangkak ma**k ke bawah perutnya yang terlindungi sisik keras. Dengan sisa tenaga, aku membenamkan pisau *Obsidian*-ku ke dalam luka di dadanya, memperlebar robekan itu hingga darah mendidih menyiram seluruh tubuhku.
Kulitku melepuh. Rasa sakitnya tak terbayangkan, seolah-olah aku sedang mandi minyak panas. Namun, rasa lapar yang terkutuk ini—lapar yang menjadi kutukan sekaligus kekuatanku—menenggelamkan rasa sakit itu. Aku merogoh ke dalam rongga dadanya, tanganku menyentuh gumpalan otot yang luar biasa panas.
Jantung itu sebesar kepala manusia, berdenyut kencang seolah mencoba melepaskan diri dari cengkeramanku. Aku menariknya keluar dengan raungan frustrasi, dan saat naga itu melolong kesakitan, aku melakukan hal yang paling g*** dalam hidupku.
Aku menggigitnya. Mentah-mentah.
Darah naga yang kental dan panas menyembur ke dalam mulutku. Rasanya tidak seperti daging apa pun yang pernah kucicipi. Rasanya seperti menelan besi cair yang dicampur dengan madu hutan yang paling tajam. Pedas, panas, dan mengandung daya ledak yang luar biasa.
**[Peringatan! Anda mengonsumsi 'Organ Vital Naga Api (Grade S)' dalam kondisi mentah!]**
**[Skill 'Survival Cook' Aktif: Mengekstraksi esensi tanpa proses memasak...]**
**[Peringatan Gagal! Energi terlalu besar untuk wadah manusia!]**
Dunia seakan meledak di depan mataku. Saat naga itu tumbang ke tanah, kehilangan sumber kehidupannya, aku merasakan sesuatu yang jauh lebih mengerikan terjadi di dalam tubuhku.
Setiap sel di tubuhku seolah dipaksa untuk mengembang melampaui batasnya. Aku bisa mendengar suara tulang-tulangku retak, bukan karena benturan, tapi karena mereka dipaksa memanjang dan mengeras. Otot-ototku berkedut liar, robek dan menyambung kembali dalam hitungan detik.
"Argh! Hentikan...!" aku berteriak, tapi yang keluar dari tenggorokanku bukan lagi suara manusia, melainkan geraman rendah yang parau.
Pembuluh darah di lenganku menonjol keluar, berubah warna menjadi hitam pekat sebelum akhirnya memancarkan cahaya jingga redup. Suhu tubuhku melonjak hingga titik di mana keringatku langsung menguap sebelum sempat membasahi kulit. Aku bisa merasakan struktur wajahku bergeser. Rahangku terasa kaku dan mengeras, gigiku terasa gatal, seolah-olah ada taring baru yang memaksa keluar dari gusi.
Ini bukan sekadar naik level. Ini adalah penghancuran total atas jati diriku sebagai manusia.
**[Proses Evolusi Paksa Dimulai...]**
**[Integrasi DNA Naga: 12%... 25%...]**
**[Peringatan: Kesadaran subjek dalam kondisi kritis. Risiko 'Monsterisasi' permanen meningkat!]**
Aku mencengkeram kepalaku yang terasa seperti akan pecah. Visi visualku berubah; aku tidak lagi melihat gua ini dengan mata manusia. Aku melihat aliran energi, panas yang memancar dari dinding batu, dan detak jantung makhluk-makhluk kecil di kejauhan. Rasa lapar itu kembali, tapi kali ini bukan lapar akan makanan. Itu adalah lapar akan dominasi.
Aku melihat tanganku. Kuku-kukuku telah memanjang, meruncing menjadi cakar hitam yang tajam. Kulit di punggung tanganku mulai ditumbuhi lapisan tipis sisik transparan yang sekeras baja.
"Aku... aku Juna..." bisikku, mencoba mempertahankan sisa-sisa kesadaranku.
Namun, suara di dalam kepalaku mulai tenggelam oleh raungan purba yang menuntut dilepaskan. Kekuatan ini terlalu besar. Jantung naga itu masih terus memompa energi panas ke dalam sistem sarafku, membakar habis kemanusiaanku inci demi inci. Aku merasa seolah jiwaku sedang direbus hidup-hidup dalam kuali raksasa.
Saat aku mencoba bangkit, aku menyadari satu hal yang mengerikan. Aku tidak lagi merasa kedinginan di dalam dungeon yang beku ini. Aku justru merasa seolah tempat ini adalah rumahku. Dan naga yang tewas di depanku bukan lagi monster yang menakutkan, melainkan sekadar tumpukan daging yang menunggu untuk dikonsumsi lebih jauh.
Aku kehilangan kendali atas tanganku sendiri saat cakar baruku merobek sisa daging naga itu dengan rakus. Pikiranku mulai mengabur, tenggelam dalam kabut merah nafsu makan yang liar.
*Jangan... jangan sekarang...*
Tepat saat kesadaranku hampir hilang sepenuhnya, sebuah notifikasi sistem yang berbeda muncul, berwarna emas pucat, kontras dengan warna merah peringatan sebelumnya.
**[Kondisi Tersembunyi Terpenuhi: 'The Hunger of the Apex Predator'.]**
**[Memulai Penyesuaian Bentuk Baru...]**
Rasa sakit itu memuncak menjadi satu dentuman keras di jantungku, dan tiba-tiba, segalanya menjadi gelap. Hal terakhir yang kurasakan adalah sensasi dingin dari lant** batu gua, dan perasaan asing bahwa aku bukan lagi makhluk yang sama yang mema**ki dungeon ini beberapa jam yang lalu.
Aku terbangun beberapa saat kemudian—atau mungkin beberapa jam, aku tidak tahu. Keheningan di dalam gua itu terasa m****akkan telinga. Aku mencoba menggerakkan jemariku, tapi yang kurasakan adalah gesekan logam pada batu.
Aku menunduk melihat bayanganku di genangan darah naga yang mulai mendingin. Di sana, bukan wajah pemuda 21 tahun yang kulihat, melainkan sesuatu yang membuat jantungku yang baru berdegup kencang karena ngeri.
Aku belum menjadi monster sepenuhnya, tapi aku jelas bukan lagi manusia. Dan yang paling menakutkan... rasa lapar itu masih ada. Bahkan jauh lebih kuat dari sebelumnya.
"Apa yang telah kulakukan?" suaraku bergema, berat dan memiliki getaran ultrasonik yang aneh.
Di ujung gua, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru. Tim penyelamat, atau mungkin pemburu lain yang tertarik oleh keributan tadi. Aku harus memutuskan sekarang: bersembunyi sebagai monster, atau menunjukkan diriku sebagai sesuatu yang mereka anggap sebagai ancaman baru.
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!