Aroma belerang dan besi beradu di udara yang pengap, menciptakan simfoni penciuman yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang sudah berkali-kali menatap maut di dasar dungeon. Di hadapanku, di atas meja batu yang kasar, tergeletak jantung Naga Merah yang masih berdenyut pelan. Warnanya merah menyala, hampir transparan di beberapa bagian, memperlihatkan aliran energi mana yang berpendar seperti lava cair di dalam pembuluh venanya.
Tanganku gemetar, bukan karena takut, melainkan karena rasa lapar yang sudah mencapai titik didih. Perutku melilit, seolah-olah ada lubang hitam yang menghisap seluruh energi dari otot-ototku.
"Sedikit lagi," bisikku pada diri sendiri. Suaraku parau, pecah oleh debu dan kelelahan.
Aku mengayunkan ulekan batu hitam yang terbuat dari obsidian. Di dalam cobek besar itu, tumpukan cabai neraka, bawang putih yang telah dikaramelisasi dengan lemak manticore, dan terasi udang purba sudah lumat menjadi pasta merah yang kental. Uap yang keluar dari bumbu itu begitu tajam hingga air mataku meleleh, namun aku tak berhenti. Inilah rahasianya: Sambal Jantung Naga.
*DHUARR!*
Dinding gua di belakangku bergetar hebat. Debu-debu berjatuhan dari langit-langit, mengotori celemek kulitku yang sudah bersimbah darah monster.
"Juna! Menyerahlah!" Sebuah suara berat menggelegar dari balik lorong ma**k yang telah kututup dengan sihir jebakan. "Kau tidak punya tempat lari lagi! Jantung itu milik Serikat Menara Tinggi. Serahkan sekarang, atau kami akan mengambilnya dari bangkaimu!"
Aku mendengus pelan, mengabaikan teriakan kapten tentara bayaran itu. Mereka tidak mengerti. Bagi mereka, jantung ini hanyalah material *crafting* kelas SSS untuk pedang legendaris atau ramuan keabadian. Bagiku? Ini adalah makan malam.
Aku mengambil pisau dapurku, *The Gluttonβs Edge*. Dengan presisi seorang ahli bedah, aku mengiris katup aorta jantung sang naga. Cairan merah keemasan mengucur keluar, jatuh tepat di atas tumisan sambal yang sedang mendidih di atas api biru. Suara desisan yang dihasilkan begitu merdu di telingaku, disusul oleh ledakan aroma yang nyaris membuatku kehilangan kesadaran karena kenikmatan aromatiknya.
*Ting!*
**[Pemberitahuan Sistem: Proses Memasak 'Sambal Jantung Naga' mencapai 90%]**
**[Peringatan: Energi Mana yang tidak stabil terdeteksi. Risiko kegagalan: Tinggi.]**
"Diamlah," gumamku pada jendela status yang melayang di pinggiran visiku. Aku tidak butuh statistik untuk tahu kapan sambal ini matang. Aku hanya butuh insting.
Di luar, suara dentuman senjata berat semakin intens. Aku bisa mendengar suara retakan batu. Mereka menggunakan *Battering Ram* sihir. Sebentar lagi, gerbang batu itu akan runtuh.
"Juna, kau g***!" Itu suara Elara, wakil ketua guild yang dulu pernah membuangku karena dianggap beban. "Memakan jantung itu mentah-mentah atau mengolahnya tanpa pemurnian akan membakar organ dalammu! Kau akan berubah menjadi monster tanpa akal!"
Aku tersenyum tipis, memperlihatkan deretan gigi yang entah sejak kapan terasa lebih tajam dari biasanya. "Itu kalau aku tidak tahu cara menyeimbangkan rasa pedasnya, Elara," gumamku pelan.
Aku mema**kkan sejumput garam laut yang telah kucampur dengan serbuk taring Hydra. Garam itu berfungsi sebagai katalisator untuk menetralkan racun panas naga tanpa menghilangkan esensi kekuatannya. Aku mengaduknya dengan gerakan melingkar yang konstan. Sambal itu mulai berubah warna, dari merah darah menjadi merah kehitaman yang berkilau seperti permata rubi cair.
*B**KK!*
Pintu ma**k gua hancur berkeping-keping. Sinar obor dan pendar sihir dari puluhan prajurit elit merangsek ma**k, menerangi ruang remang-remang tempatku memasak. Di depan mereka berdiri seorang pria berbaju zirah emas, Marcus, sang *Grand Knight*. Wajahnya memerah karena amarah saat melihatku masih sant** memegang sudit kayu.
"Berhenti!" teriak Marcus, pedang besarnya terhunus ke arah leherku. "Letakkan piring itu, Juna. Kau hanyalah koki rendahan. Kau tidak pantas menyentuh sisa-sisa Naga Legendaris itu."
Aku tidak menoleh. Mataku terpaku pada kuali kecil di depanku. Sambal itu sekarang mengeluarkan suara letupan-letupan kecil, melepaskan aura naga yang begitu kuat hingga para prajurit di belakang Marcus mundur selangkah karena tekanan mental.
"Kalian terlambat," kataku tenang.
Aku mengambil sesendok penuh Sambal Jantung Naga yang masih mengepul panas. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, aku menyuapkannya ke dalam mulutku.
"TIDAK! HENTIKAN DIA!" Marcus menerjang maju, pedangnya membelah udara dengan kecepatan suara.
Rasa itu meledak di lidahku.
Pertama, rasa pedas yang menusuk, seolah-olah ribuan jarum api sedang menari di saraf perasaku. Kemudian, rasa gurih yang mendalam, kaya, dan primitif menyapu seluruh rongga mulut. Di balik itu semua, ada ledakan energi murni yang terasa seperti aliran lava yang mengalir ke kerongkonganku, merambat ke jantungku sendiri, dan menyatu dengan aliran darahku.
Pedang Marcus terhenti hanya beberapa milimeter dari kulit leherku. Bukan karena dia sengaja berhenti, tapi karena sebuah tekanan gravitasi yang luar biasa tiba-tiba memancar dari tubuhku, menekannya hingga lututnya menghantam lant** batu dengan bunyi *krak* yang keras.
**[Pemberitahuan Sistem: Hidangan 'Sambal Jantung Naga' (Rank: Mitologi) telah dikonsumsi.]**
**[Evolusi Ras dimulai...]**
**[Persentase Kemanusiaan: 45%... 40%... 30%...]**
Aku bisa merasakan tulang-tulangku berderak, memanjang dan mengeras. Penglihatanku yang tadinya terbatas dalam kegelapan kini menjadi tajam, mampu melihat aliran mana yang mengalir di tubuh setiap prajurit di depanku. Rasa lapar yang tadinya menyiksa kini berubah menjadi sesuatu yang lebih gelapβsebuah haus akan dominasi.
Aku menatap Marcus yang terengah-engah di bawah kakiku. Keringat dingin mengucur dari dahi sang ksatria legendaris itu. Dia menatap mataku, dan aku tahu apa yang dia lihat di sana. Dia tidak lagi melihat Juna, sang koki lemah yang mereka remehkan.
Dia melihat seekor predator yang sedang mencerna mangsanya.
"Rasanya..." aku menjilat sisa sambal di sudut bibirku dengan lidah yang kini terasa lebih panjang dan kasar. "...sedikit kurang garam."
Seluruh ruangan mendadak menjadi sangat dingin, meski aura merah membara menyelimuti tubuhku. Sisik-sisik halus mulai muncul di sepanjang lenganku, berkilau di bawah cahaya sihir yang redup.
"Sekarang," kataku, suaraku kini memiliki gema ganda yang menggetarkan jiwa mereka semua. "Siapa di antara kalian yang ingin menjadi bahan utama untuk hidangan pendampingku?"
Marcus mencoba mengangkat pedangnya, tapi tangannya gemetar hebat. Di belakangnya, para prajurit elit itu mulai mundur dengan wajah pucat pasi. Mereka menyadari satu hal yang sudah terlambat untuk diubah: mereka tidak sedang mengepung seorang manusia. Mereka sedang terjebak di dalam dapur bersama monster yang baru saja lahir.
Dan monster ini masih merasa sangat, sangat lapar.
Lanjutkan Membaca Bab 19 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!