Resep Terlarang: Evolusi Sang Koki Monster

Bab 2: Bab 2 - Terjebak di dungeon Level E dan terpaksa memaka...

Pengaturan Membaca

Darah di perutku terasa seperti cairan timah panas yang mengalir keluar, merembes di sela-sela jemariku yang gemetar. Aku menyandarkan punggung pada dinding gua yang lembap dan kasar, membiarkan kegelapan Dungeon Level E ini menelan separuh tubuhku. Di depanku, tiga meter jauhnya, bangkai seekor Goblin terkapar dengan leher tergorok—hasil dari perjuangan hidup-mati yang lebih mirip dengan tarian orang c**** daripada sebuah pertarungan heroik.

"Sial..." Suaraku parau, pecah di udara yang berbau belerang dan lumut busuk.

Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri, lambat dan berat. Tim yang membawaku ke sini—kelompok 'pendekar' sombong yang hanya membutuhkanku untuk mengupas kentang dan menjaga logistik—sudah lari entah ke mana saat gerombolan Goblin menyergap. Mereka membiarkanku tertinggal sebagai umpan hidup.

Namun, rasa sakit dari luka sayatan di perutku tiba-tiba terasa sekunder. Ada sesuatu yang lebih menyiksa, sesuatu yang merobek isi perutku dari dalam: rasa lapar.

Itu bukan rasa lapar biasa. Itu adalah kekosongan yang ganas, seolah-olah lambungku telah berubah menjadi lubang hitam yang siap menelan organku sendiri demi energi. Penglihatan kuli mulai menguning di pinggirannya. Fokusku tertuju pada satu titik: mayat Goblin itu.

*Survival Cook.*

Skill yang dianggap sampah oleh dunia. Skill yang katanya hanya membuatku bisa mengenali tanaman beracun atau membuat api unggun lebih cepat. Namun saat ini, di bawah pengaruh kelaparan ekstrem, sistem di kepalaku berdenging pelan. Sebuah jendela transparan muncul, buram dan bergetar seiring dengan nyawaku yang meredup.

**[Status: Ambang Kematian – Kelaparan Level Malnutrisi Akut]**

**[Analisis Objek: Bangkai Goblin Hutan (Level 3)]**

**[Kualitas Bahan: Rendah/Toxis]**

**[Saran: Konsumsi untuk mempertahankan fungsi organ dasar.]**

"Makan... monster?" Bisikku, tenggorokanku terasa seperti terbakar.

Ide itu menjijikkan. Semua orang tahu daging monster adalah racun bagi manusia. Memakannya tanpa pembersihan mana yang intensif sama saja dengan bunuh diri perlahan atau berubah menjadi *ghoul* kehilangan akal. Tapi saat aku melihat kulit hijau keriput itu, otak kulinatorku justru bekerja di luar kendali. Aku mulai melihat lapisan lemak yang tersembunyi di bawah kulit kasarnya, melihat serat otot yang liat namun kaya akan zat besi.

Dengan sisa tenaga yang ada, aku menyeret tubuhku mendekati bangkai itu. Bau amis darah Goblin yang tajam menusuk hidungku, membuat perutku mual, namun liurku justru menetes deras. Aku mengeluarkan pisau dapur berkarat—satu-satunya senjata yang diberikan sistem padaku.

*Sret.*

Tanganku bergerak dengan presisi yang menakutkan, membedah rongga dada makhluk itu. Aku tahu persis di mana letak organ-organnya. Aku membuang kantung empedu yang pahit dan beracun, menyisihkan usus yang penuh kotoran, dan mengincar satu hal: jantungnya.

Jantung Goblin itu sebesar kepalan tangan balita, berwarna ungu gelap dan masih menyisakan sedikit kehangatan. Baunya seperti daging basi yang direndam c**a. Aku mengangkatnya dengan tangan gemetar.

"Aku akan mati jika memakannya, atau aku akan mati jika tidak memakannya," gumamku sambil tertawa getir. Darah menetes dari sudut bibirku.

Aku menggigitnya.

*Krak.*

Rasa pertama yang menyerang adalah rasa asam yang menyengat, diikuti oleh sensasi seperti tersengat listrik yang merambat ke lidahku. Teksturnya kenyal, seperti karet yang direndam dalam lumpur. Aku tersedak, hampir memuntahkannya kembali saat rasa mual menghantam dadaku seperti palu godam. Tubuhku menolak. Insting manusiaku berteriak bahwa ini adalah kotoran.

Namun, aku memaksa diriku mengunyah. Aku menutup mata rapat-rapat, membayangkan ini adalah sepotong hati sapi yang dimasak setengah matang. *Telan, Juna. Telan atau kau mati.*

Begitu daging itu melewati kerongkonganku, sebuah ledakan panas meletup di perutku. Itu bukan rasa sakit akibat racun, melainkan gelombang energi yang murni dan kasar. Luka di perutku berhenti berdenyut. Cairan panas itu menyebar ke pembuluh darahku, menghangatkan tubuhku yang tadinya sedingin es.

**[Peringatan: Zat Asing Terdeteksi!]**

**[Skill 'Survival Cook' Bereaksi...]**

**[Melakukan Proses Detoksifikasi Alami melalui Metabolisme...]**

**[Berhasil. Nutrisi terserap.]**

Mataku terbelalak. Rasa lapar yang tadinya menyiksa perlahan mereda, digantikan oleh sensasi aneh yang menenangkan namun adiktif. Dan di tengah kegelapan itu, sebuah pesan sistem baru muncul dengan warna emas yang belum pernah kulihat sebelumnya.

**[Anda telah mengonsumsi 'Jantung Goblin Hutan' tanpa pengolahan standar.]**

**[Efek Evolusi Terpicu: Penambahan Permanen +1 Kekuatan, +1 Vitalitas.]**

**[Skill Unik Terbuka: 'Monster Eater' (Level 1)]**

Aku terengah-engah, menatap tanganku sendiri. Darah hijau keunguan melumuri jemariku, tapi rasa mual itu hilang sepenuhnya. Yang tersisa hanyalah rasa ingin tahu yang mengerikan. Jika organ mentah yang busuk ini bisa memberiku kekuatan, apa yang akan terjadi jika aku memasaknya dengan benar? Apa yang akan terjadi jika aku mendapatkan bahan yang lebih baik?

Tiba-tiba, suara langkah kaki berat bergema dari lorong gelap di depan. Bukan satu, tapi lima... mungkin sepuluh. Bau busuk yang sama dengan Goblin di depanku tercium semakin kuat. Mereka mencium bau darah temannya. Atau mungkin, mereka mencium bauku.

Aku berdiri, perlahan namun pasti. Rasa sakit di perutku sudah menutup, menyisakan bekas luka kemerahan yang berdenyut. Aku menggenggam pisau dapurku lebih erat, tapi kali ini, aku tidak merasa ketakutan.

Aku melihat ke arah kegelapan, di mana mata-mata merah mulai bermunculan satu per satu. Di mataku, mereka bukan lagi monster yang mengancam nyawaku.

Mereka adalah bahan baku.

"Dapurku baru saja dibuka," bisikku, dan untuk pertama kalinya sejak ma**k ke dungeon ini, aku tersenyum. Senyum yang bahkan akan membuat i**** sekalipun merasa ngeri.

Aku melangkah maju, bukan untuk melarikan diri, tapi untuk berburu makan malam berikutnya. Namun, saat langkah pertamaku mendarat, sebuah getaran hebat mengguncang seluruh dungeon. Suara raungan yang jauh lebih besar dan lebih dalam dari sekadar Goblin menggema, membuat dinding-dinding batu retak.

Sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar hama hijau ini sedang terbangun, dan aromanya... aromanya tercium sangat lezat.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca