Angin dari arah kawah Abyss berhembus membawa aroma belerang dan besi yang berkarat, menyapu rambutku yang kini terasa lebih kasar dari biasanya. Di depanku, Elara berdiri mematung. Matanya yang sembab menatapku seolah-olah aku adalah hantu yang sudah lama mati, padahal jantungku masih berdegup kencang—terlalu kencang untuk ukuran manusia normal.
Aku merogoh saku jaket koki yang sudah koyak di bagian bahu, mengeluarkan selembar perkamen kusam yang sudutnya hangus terbakar. Dengan tangan yang sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan karena menahan lapar yang menggerogoti sumsum tulang, aku menyodorkannya pada Elara.
"Ambil ini," suaraku terdengar parau, seperti gesekan batu di dasar gua. "Ini resep terakhir yang bisa kuberikan padamu. 'Tumis Jantung Basilisk dengan Perasan Limau Langit'. Jika kau mengolahnya dengan benar, regenerasi mana timmu akan meningkat tiga kali lipat. Itu c**up untuk membuat kalian bertahan di lant** menengah tanpa aku."
Elara tidak segera mengambilnya. Tangannya yang mungil gemetar saat menyentuh ujung perkamen itu. "Kenapa, Juna? Kita bisa kembali ke kota. Ada penyembuh tingkat tinggi, ada pendeta... mereka bisa memurnikan kutukan ini."
Aku tertawa kecil, suara yang terdengar asing di telingaku sendiri. "Ini bukan kutukan, Elara. Ini evolusi. Dan tidak ada pendeta di dunia ini yang bisa menyembuhkan rasa lapar yang sasarannya adalah dewa."
Aku melirik tanganku sendiri. Di balik kuku-kukuku, ada gurat hitam keunguan yang mulai menjalar seperti akar pohon tua. Setiap kali aku menutup mata, aku tidak lagi melihat resep masakan rumahan ibuku. Aku melihat peta anatomi monster, titik-titik lemah di mana dagingnya paling manis, dan bagaimana sari pati kekuatan mereka bisa menyatu dengan aliran darahku.
"Kau berubah," bisik Elara, setetes air mata jatuh ke pipinya. "Matamu... sesekali warnanya berubah jadi kuning reptil. Kau bukan Juna yang kukenal di akademi kuliner dulu."
"Juna yang itu sudah mati saat dia mengunyah jantung Goblin pertama di dungeon pemula," balasku dingin. Aku memaksakan diri untuk mundur selangkah, menjauh dari kehangatan tubuh manusia di depanku. Aroma darah Elara—yang murni dan penuh kehidupan—mulai tercium sangat menggoda. Itu adalah peringatan terakhir. Jika aku tinggal lebih lama lagi, aku tidak menjamin akal budiku bisa menang melawan insting predator ini.
Aku membalikkan badan, menghadap ke arah jurang tak berdasar yang disebut manusia sebagai 'Abyss'. Kegelapan di bawah sana seolah bernapas, memanggilku pulang. Di sana, bahan-bahan legendaris yang tidak pernah tercatat dalam buku sejarah menunggu untuk dipanen. Di sana, aku tidak perlu berpura-pura menjadi manusia yang lemah.
"Jangan ikuti aku," kataku tanpa menoleh. "Dunia di atas sana terlalu sempit untuk nafsu makanku. Aku akan turun ke bawah, memburu apa pun yang dianggap mustahil oleh sistem, dan memasaknya sampai aku mencapai puncak rant** makanan."
"Juna! Jika kau melompat ke sana, kau tidak akan pernah bisa kembali! Kau akan benar-benar menjadi monster!" teriak Elara, suaranya pecah oleh angin badai yang mulai mengamuk di bibir jurang.
Langkahku terhenti sejenak di tepi tebing yang rapuh. Aku bisa merasakan sistem di dalam kepalaku berdenyut, memberikan notifikasi yang terus-menerus muncul dengan warna merah darah.
*[Peringatan: Kemanusiaan tersisa 4%. Ambang batas predator puncak segera tercapai.]*
*[Misi Baru: Konsumsi Esensi Keabadian di Dasar Abyss.]*
Aku menarik napas dalam-dalam, menghirup udara busuk dari kedalaman yang bagi orang lain adalah maut, tapi bagiku adalah aroma dapur yang paling mewah. Ketakutan yang selama ini menghantuiku—ketakutan akan kehilangan diri sendiri—tiba-tiba menguap, digantikan oleh rasa haus akan kekuatan yang mutlak. Menjadi monster bukanlah akhir. Menjadi monster yang lapar adalah awal dari tatanan dunia yang baru.
"Monster?" aku bergumam pelan, hampir tidak terdengar oleh siapa pun kecuali kegelapan di depanku. "Biarlah. Aku lebih baik menjadi monster yang kenyang daripada manusia yang mati kelaparan dalam sistem yang tidak adil ini."
Tanpa memberikan kesempatan bagi Elara untuk membalas, aku menjatuhkan diriku ke dalam kegelapan. Angin dingin menghantam wajahku, dan gravitasi menarikku dengan kecepatan yang memabukkan. Saat tubuhku tertelan oleh kabut hitam yang pekat, rasa sakit yang membakar mulai merobek punggungku, seolah-olah ada sesuatu yang ingin tumbuh keluar dari balik kulitku.
Suara notifikasi sistem bergema di dalam tengkorakku, lebih keras dan lebih jernih dari sebelumnya.
*[Evolusi Tahap Akhir Dimulai...]*
*[Menghapus Protokol Pembatas Manusia...]*
*[Selamat Datang di Habitat Aslimu, Sang Koki Monster.]*
Mataku terbuka di tengah kegelapan total, dan untuk pertama kalinya, aku bisa melihat segalanya dengan jelas. Bukan dengan cahaya, melainkan dengan aura energi yang memancar dari makhluk-makhluk mengerikan yang bersembunyi di bawah sana. Aku menjilat bibirku yang pecah-pecah, merasakan antisipasi yang luar biasa.
Di bawah sana, ada sesuatu yang sangat besar, sangat kuno, dan aromanya... aromanya seperti bahan utama yang selama ini kucari untuk menyempurnakan Sambal Jantung Naga.
Kaki aku menyentuh tanah yang lunak dan berdenyut di dasar Abyss. Di hadapanku, sepasang mata raksasa berwarna merah menyala terbuka, menatap penyusup kecil yang berani menginjak wilayahnya. Geraman yang menggetarkan bumi terdengar, namun aku hanya tersenyum sambil mencabut pisau koki hitamku yang terbuat dari taring Hydra.
"Kau terlihat sangat lezat," bisikku pada kegelapan, saat rasa lapar itu akhirnya mengambil alih seluruh kesadaranku.
Tepat saat itu, tanah di bawah kakiku terbelah, dan sesuatu yang jauh lebih besar dari monster di depanku mulai merayap keluar, merespons aroma darahku yang kini telah bermutasi menjadi sesuatu yang belum pernah ada dalam sejarah dunia.
Lanjutkan Membaca Bab 20 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!