Rasa amis yang pekat masih menempel di langit-langit mulutku, meninggalkan jejak besi yang membuat perutku bergejolak antara mual dan kepuasan yang aneh. Aku menyeka sisa darah hijau gelap di sudut bibir dengan punggung tangan yang gemetar. Di depanku, bangkai Goblin itu kini tampak lebih mirip tumpukan sampah organik daripada ancaman maut yang hampir merenggut nyawaku beberapa menit lalu.
Duniaku masih berputar. Keringat dingin mengucur dari pelipis, membasahi luka sayatan di bahuku yang mulai berdenyut perih. Namun, tepat saat aku hendak memuntahkan isi perutku, sebuah suara denting yang jernih—seperti benturan kristal—bergema langsung di dalam tengkorakku.
[Pencernaan Selesai.]
[Intisari Kehidupan: 'Goblin Scout' telah diserap.]
[Skill 'Survival Cook' (Rank F) bereaksi terhadap material unik.]
Mataku melebar. Cahaya biru pucat dari layar hologram muncul di udara yang lembap dan pengap, membiaskan bayangan aneh di dinding gua. Aku mengerjapkan mata berkali-kali, berharap ini hanyalah halusinasi akibat kehilangan terlalu banyak darah. Namun, baris teks berikutnya membuat napas di paru-paruku seolah membeku.
[Statistik Permanen Meningkat:]
[Strength +0.8]
[Agility +1.2]
[Daya tahan tubuh meningkat secara marginal.]
"Tunggu... apa?" suaraku serak, nyaris tenggelam oleh suara tetesan air dari langit-langit gua.
Aku mencoba berdiri, mengandalkan dinding batu yang kasar sebagai tumpuan. Otakku, yang selama bertahun-tahun dijejali dengan teori-teori dasar di Akademi Hunter, mulai bekerja secara otomatis. Di dunia ini, sistem adalah hukum mutlak. Kau naik level, kau mendapatkan poin statistik. Kau mengonsumsi *Elixir* yang harganya bisa membeli satu komplek perumahan, kau mendapatkan peningkatan permanen.
Tetapi makan? Monster?
"Itu tidak mungkin," gumamku, jemariku gemetar saat aku menyentuh layar hologram yang tidak nyata itu. "Teori Biologi Dungeon Bab Empat, Ayat Dua: 'Daging monster mengandung residu mana yang tidak stabil dan beracun bagi metabolisme manusia jika dikonsumsi secara langsung tanpa pemurnian tingkat tinggi'."
Jika aku mengikuti buku teks, seharusnya sekarang aku sedang mengalami kejang-kejang atau setidaknya diare akut yang mematikan. Namun, yang kurasakan justru sebaliknya. Panas yang menjalar dari perutku kini menyebar ke ujung-ujung saraf di lenganku. Rasa nyeri di bahuku tidak hilang sepenuhnya, tapi denyutannya melambat, seolah-olah serat ototku sedang menjahit dirinya sendiri dengan benang-benang energi yang baru saja kuma**kkan ke dalam tubuh.
Aku mengepalkan tangan kananku. Biasanya, lenganku terasa berat dan kikuk, sisa dari masa kecilku yang kurang gizi. Sekarang, ada sensasi ringan yang asing. Aku mencoba melompat kecil, dan tubuhku terasa lebih responsif, seolah-olah beban beberapa kilogram baru saja diangkat dari pundakku.
"Statistik permanen..." Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa kering. "Hanya dengan memakan jantungnya?"
Aku memanggil jendela status pribadiku.
***
Nama: Juna
Pekerjaan: Survival Cook (Rank F)
Level: 2
Strength: 10.8 (↑ 0.8)
Agility: 12.2 (↑ 1.2)
Vitality: 11.0
Mana: 5.0
Skill: [Survival Cook Lv.1], [Basic Butchery Lv.2]
***
Angka di belakang koma itu—desimal si**** itu—adalah bukti nyata bahwa aku baru saja mendob**k hukum dunia ini. Para Hunter kelas atas biasanya mendapatkan +5 Strength saat mereka naik level, tetapi angka itu tetap. Tidak ada yang pernah mendengar peningkatan desimal di luar kenaikan level, kecuali melalui artefak legendaris.
"Sistem, berikan penjelasan lebih det**l tentang 'Intisari Kehidupan'," perintahku, mencoba menenangkan debaran jantungku yang liar.
Hening. Layar biru itu tidak menjawab. Ia tetap dingin dan kaku, hanya menampilkan angka-angka yang menantang logikaku.
Kebingungan mulai berubah menjadi rasa takut yang dingin. Selama ini, mereka yang mencoba mencari kekuatan dengan cara-cara tidak wajar—seperti menyuntikkan darah monster ke pembuluh darah—berakhir menjadi 'Dreg', makhluk c**** yang kehilangan akal budi dan akhirnya diburu oleh Hunter lainnya. Apakah ini yang sedang terjadi padaku? Apakah nafsu makanku yang aneh tadi adalah tanda pertama bahwa kemanusiaanku mulai memudar?
Aku menatap tanganku sendiri di bawah cahaya redup gua. Masih kulit manusia. Masih ada garis-garis halus dan luka goresan. Tidak ada sisik. Tidak ada bulu hijau seperti Goblin.
"Juna, tenang. Analisis," aku berbisik pada diriku sendiri, mencoba memanggil kembali ketenangan yang biasanya kumiliki saat memotong bahan makanan. "Jika 'Survival Cook' adalah skill sampah, kenapa sistem memberikan notifikasi ini? Kenapa deskripsinya berubah?"
Aku memusatkan fokus pada skill [Survival Cook]. Di akademi, skill ini hanya dianggap berguna untuk membuat daging monster yang alot menjadi sedikit lebih empuk agar Hunter tidak mati kelaparan saat tersesat. Namun sekarang, ada keterangan tambahan yang samar, seolah-olah tinta gaib baru saja muncul di atas kertas lama.
[Survival Cook (Evolving): Kemampuan untuk mengekstrak nutrisi dan memurnikan esensi dari materi organik berbahaya. "Bagi sang pemangsa, dunia adalah meja makan."]
Lidahku mendadak terasa pahit. "Evolving?"
Belum sempat aku mencerna informasi itu, sebuah rasa lapar yang amat sangat tiba-tiba menghantam ulu hatiku. Bukan rasa lapar biasa karena melewatkan s****an, melainkan rasa lapar yang ganas, seolah-olah ada lubang hitam yang baru saja terbuka di dalam perutku. Ini adalah rasa lapar yang menuntut, yang membuat pandanganku mendadak menjadi sangat tajam.
Aku menoleh ke arah bangkai Goblin itu lagi. Tadi, aku memakannya karena terpaksa, karena insting bertahan hidup yang primitif. Sekarang? Sekarang aku melihat paha Goblin itu dan otakku secara otomatis memetakan letak pembuluh darah, jaringan lemak, dan titik di mana dagingnya paling kaya akan mana.
Aku melangkah mundur, kakiku tersandung batu. "Tidak. Ini salah."
Aku harus keluar dari gua ini. Aku harus melaporkan ini... Tidak, aku tidak bisa melaporkannya. Jika Asosiasi Hunter tahu bahwa ada seorang Hunter Rank F yang bisa meningkatkan statistik hanya dengan makan, aku tidak akan berakhir di rumah sakit. Aku akan berakhir di meja bedah sebagai kelinci percobaan.
Telingaku tiba-tiba menangkap suara dari kegelapan lorong gua di depan. Suara seretan kaki yang berat dan geraman rendah yang bergema. Bukan hanya satu, tapi dua—mungkin tiga.
Bau busuk khas Goblin yang tidak mandi selama berbulan-bulan menyeruak, jauh lebih kuat dari sebelumnya. Tampaknya darah dari Goblin yang kubunuh tadi telah mengundang kawan-kawannya.
Normalnya, aku akan lari atau gemetar ketakutan. Tapi saat ini, sambil memegang pisau dapurku yang sudah retak, aku menyadari sesuatu yang mengerikan. Aku tidak merasa takut. Tanganku tidak lagi gemetar.
Sebaliknya, mulutku memproduksi air liur yang berlebihan. Mataku terpaku pada bayangan-bayangan hijau yang muncul dari kegelapan, dan pikiranku tidak lagi berteriak 'Lari!'. Pikiranku justru berbisik dengan suara yang dingin dan penuh nafsu:
*Bahan makanan baru telah tiba.*
"Apa yang terjadi denganku?" bisikku, bahkan saat aku mulai menurunkan posisi tubuhku, bersiap untuk menerjang.
Perutku berbunyi nyaring, sebuah tuntutan yang tak bisa diabaikan. Rasa lapar ini mulai mengaburkan garis antara siapa pemburu dan siapa mangsanya. Dan di saat cahaya obor terakhirku mulai meredup, aku menyadari satu hal: jika aku ingin tetap menjadi manusia, aku harus memakan mereka sebelum mereka memakanku.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!