Resep Terlarang: Evolusi Sang Koki Monster

Bab 4: Bab 4 - Mulai berburu mandiri untuk mencari bahan masak...

Pengaturan Membaca

Perutku meronta, sebuah desakan kosong yang terasa seperti remasan tangan besi di dalam lambung. Rasa lapar ini bukan lagi sekadar sinyal butuh energi; ini adalah tuntutan predator yang mulai mengakar di dalam sumsum tulangku. Sejak jantung Goblin itu meluncur ke tenggorokanku kemarin, ada sesuatu yang berubah. Dunia tidak lagi terlihat seperti tempat tinggal, melainkan sebuah prasmanan raksasa yang penuh dengan bahan-bahan mentah yang menunggu untuk diolah.

Aku berdiri di pinggiran Hutan Kelabu, area perburuan Level 1-5 yang biasanya dipenuhi oleh para *Novice Warrior* yang sombong dengan pedang karatan mereka. Aku berbeda. Di pinggangku tidak ada pedang panjang, hanya sebuah pisau dapur baja karbon yang kukikir sendiri hingga setajam silet, serta sebuah wajan kecil yang terikat di ranselku.

"Survival Cook," gumamku sambil menatap telapak tanganku yang sedikit gemetar. "Mari kita lihat apakah sistem ini memang sampah, atau mereka saja yang terlalu bodoh untuk menggunakannya."

Aku melangkah ma**k ke dalam rimbunnya semak berduri. Udara di sini lembap, berbau tanah basah dan pembusukan. Mataku menyipit, memindai setiap pergerakan. Berbeda dengan para Hunter tipe petarung yang mengandalkan *insting tempur*, aku mengandalkan *insting anatomi*. Aku tidak melihat monster sebagai musuh; aku melihat mereka sebagai susunan otot, saraf, dan titik lemak yang bisa diekstraksi.

Tiba-tiba, telingaku menangkap suara gesekan di atas dahan pohon. Aku membeku.

Di atas sana, seekor *Shadow Squirrel*—tupai berukuran sebesar kucing dengan bulu hitam legam dan taring yang mencuat—sedang mengamatiku. Monster ini terkenal karena kecepatannya yang merepotkan dan kemampuannya meluncur dari ketinggian untuk merobek tenggorokan mangsanya.

*Status Check.*

**[Shadow Squirrel - Level 3]**

**[Deskripsi: Dagingnya kenyal namun kaya akan kelenjar adrenalin. Jika tidak diolah dengan benar, rasanya akan sangat pahit.]**

Aku menelan ludah. Level 3. Dua tingkat di atasku. Jika aku seorang Warrior, aku akan menggunakan 'Bash' atau 'Slash'. Tapi aku adalah Juna, seorang koki. Aku tidak punya skill serangan aktif.

Tupai itu melompat. Ia bergerak seperti bayangan yang terlepas dari cahaya, meluncur cepat ke arah leherku.

"Sial!" aku berguling ke samping. Cakar kecilnya sempat menyambar bahuku, merobek kain kemejaku dan meninggalkan tiga jalur kemerahan yang perih.

Aku meringis, merasakan darah mulai merembes. Namun, di tengah rasa sakit itu, lapar yang luar biasa kembali menyerang. Aroma dari tupai itu—aroma seperti kacang panggang dan musky—membuat kelenjar air liurku bekerja g***-g***an. Aku ingin menggigitnya. Aku ingin menguliti monster itu sekarang juga.

Tupai itu berputar di tanah, bersiap untuk serangan kedua. Ia sangat cepat. Jika aku hanya mengandalkan refleks manusia biasa, aku akan mati dalam hitungan detik.

"Pikir, Juna... pikir," bisikku pada diri sendiri.

Aku merogoh kantong kecil di ikat pinggangku. Bukan ramuan penyembuh, melainkan serbuk lada hitam kasar yang dicampur dengan bubuk cabai kering hasil sisa dapur asrama. Jika aku tidak punya skill sihir, aku akan menggunakan bumbu sebagai senjataku.

Saat tupai itu melesat kembali, aku tidak menghindar. Aku menunggu hingga jaraknya hanya satu meter, lalu melemparkan segenggam bubuk pedas itu tepat ke arah wajahnya.

*Crrrash!*

Monster itu mencicit kesakitan. Indra penciuman monster biasanya sepuluh kali lebih tajam dari manusia, dan serangan bumbu ini bagi mereka setara dengan gas air mata. Tupai itu mendarat dengan serampangan, menab**k batang pohon karena matanya yang berair dan hidungnya yang terasa terbakar.

Inilah kesempatanku.

Aku menerjang maju. Tanganku mencengkeram leher tupai itu, menahannya di tanah. Ia meronta, cakarnya mencabik-cabik lenganku, tapi aku tidak peduli. Rasa lapar ini memberikan semacam anestesi pada rasa sakitku.

"Maaf, kamu terlalu menggoda untuk dilewatkan," bisikku dingin.

Aku tidak menikamnya secara asal. Mataku secara otomatis melihat garis imajiner di lehernya—titik di mana sendi atlas bertemu dengan tengkorak. Itu adalah teknik jagal tingkat tinggi. Sekali tusuk. *Crak.*

Tupai itu mengejang sekali, lalu terkulai lemas.

**[Anda telah mengalahkan Shadow Squirrel (Lv. 3). Exp didapat.]**

**[Level Up! Anda sekarang Level 2.]**

Aku terengah-engah, duduk di atas tanah yang kotor dengan darah yang menetes dari lenganku. Tapi mataku tertuju pada bangkai tupai itu. Tanpa sadar, aku sudah mengeluarkan pisau dapurku. Tanganku bergerak dengan presisi yang menakutkan, menguliti kulit hitamnya, memisahkan kelenjar pahit di dekat pangkal ekornya, dan mengambil bongkahan daging paha yang kemerahan.

Aku segera mengumpulkan ranting kering dan menyalakan api kecil. Menggunakan wajan kecilku, aku mulai memanggang daging itu. Tanpa minyak, hanya lemak alami dari daging tupai yang mulai meleleh, mengeluarkan aroma gurih yang sangat kuat.

Saat daging itu mulai kecokelatan, sebuah notifikasi sistem muncul di depan mataku, berkilau keemasan.

**[Resep Terdeteksi: Paha Shadow Squirrel Panggang Sederhana.]**

**[Kualitas: Medium.]**

**[Efek Permanen: +1 Agility (Karena ini adalah konsumsi pertama dari spesies ini).]**

Jantungku berdegup kencang. *Permanen.* Tebakanku benar. Di dunia di mana orang-orang harus berlatih bertahun-tahun atau menggiling ribuan monster hanya untuk naik satu status point, aku bisa mendapatkannya hanya dengan makan.

Aku menyuapkan potongan daging panas itu ke mulutku. Teksturnya kenyal, meledak dengan rasa gurih yang liar dan sedikit sensasi pedas dari sisa bubuk cabai di tanganku. Saat daging itu melewati kerongkonganku, aku merasakan gelombang panas merambat ke seluruh tubuhku. Rasa sakit di bahu dan lenganku mereda, dan kakiku terasa sedikit lebih ringan.

Namun, di tengah kenikmatan itu, sebuah sensasi aneh muncul. Kepalaku terasa berdenyut. Di pinggiran penglihatanku, warna-warna dunia seolah berubah sedikit lebih tajam, lebih... merah.

Aku menatap tanganku yang masih berlumuran darah tupai. Alih-alih merasa jijik, aku justru merasa ingin menjilatnya.

"Satu lagi..." gumamku, suaraku terdengar sedikit berbeda, lebih berat dan parau. "Aku butuh bahan yang lebih kuat. Ini belum c**up."

Aku berdiri, memadamkan api dengan injakan kaki. Saat aku hendak melangkah lebih dalam ke hutan, semak-semak di depanku tersibak. Bukan seekor tupai atau goblin yang muncul, melainkan sesuatu yang jauh lebih besar.

Seekor serigala berbulu perak dengan tiga mata menatapku. Air liurnya menetes, membakar rumput di bawahnya. Itu adalah *Silverfang Wolf*, monster Area Tengah yang seharusnya tidak berada di pinggiran hutan ini.

Bukannya merasa takut, aku justru merasakan senyum miring mengembang di wajahku. Pisau dapur di tanganku bergetar, seolah merespons rasa lapar yang kembali membuncah.

"Daging perak," bisikku pada kegelapan. "Pasti rasanya sangat mewah."

Namun, saat aku bersiap menerjang, sebuah peringatan sistem berwarna merah darah berkedip-kedip dengan suara peringatan yang m****akkan telinga.

**[Peringatan: Ambang Batas Kemanusiaan menurun! Jika Anda mengonsumsi monster Level 10 ke atas tanpa bumbu penetralisir, proses 'Monsterifikasi' akan dimulai.]**

Aku tertegun sejenak. Tapi serigala itu sudah melompat ke arahku.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca