Aroma lemak yang terpanggang dan rempah hutan yang tajam menusuk udara lembap di lorong gua yang remang itu. Juna baru saja menyelesaikan hidangan sederhana namun krusial bagi kelangsungan hidupnya: *Tumis Paru-Paru Serigala Bayang dengan Irisan Jamur Fosfor*. Di atas wajan datar kecil yang ia bawa dari permukaan, potongan daging yang biasanya berbau amis dan keras itu kini berkilau kecokelatan, mengeluarkan uap yang membawa aroma gurih, pedas, dan sedikit aroma *citrus* dari tanaman liar yang ia temukan.
[Sistem: Resep Terdeteksi – Tumis Paru Bayang. Kualitas: Menengah. Efek: Pemulihan Stamina +15%, Regenerasi Mana +5 per menit selama 10 menit.]
Juna mendengus kecil, mengabaikan notifikasi transparan di sudut matanya. Ia baru saja hendak menyuapkan potongan pertama saat sebuah bunyi seretan kain di atas batu basah menghentikan gerakannya. Juna seketika menggenggam gagang pisau dapurnya yang lebih mirip belati tempur. Matanya yang tajam karena adaptasi kegelapan menyapu sudut-sudut gua yang tertutup bayangan.
"Siapa di sana?" suara Juna rendah, hampir seperti geraman.
Dari balik pilar batu yang terkikis air, seorang perempuan muncul dengan langkah gont**. Jubah birunya robek di bagian bahu, memperlihatkan luka cakar yang membiru—tanda keracunan energi monster. Di tangan kanannya, ia memegang tongkat kayu pendek yang ujung kristalnya meredup, sisa-sisa energi *Mage* yang hampir habis.
"Jangan... mendekat," rintih perempuan itu. Wajahnya pucat pasi, peluh dingin membasahi dahinya. Ia adalah Elara, seorang Mage yang—jika dilihat dari lencananya—seharusnya memiliki level yang jauh di atas Juna. Namun, di dungeon ini, level hanyalah angka jika kau kehabisan Mana dan darah.
Juna menurunkan pisaunya sedikit, namun matanya tetap waspada. "Kau terluka parah. Keracunan Serigala Bayang tidak bisa disembuhkan hanya dengan istirahat."
Elara mencoba menyandarkan tubuhnya ke dinding gua, namun matanya tiba-tiba terbelalak saat hidungnya menangkap gelombang aroma dari arah api kecil Juna. Alih-alih merasa lega, ekspresinya justru berubah menjadi kengerian yang murni. Ia menatap wajan Juna seolah-olah benda itu berisi potongan tubuh manusia.
"Bau apa ini?" suara Elara gemetar, penuh kecurigaan. "Itu... itu bukan bau ransum. Bau ini terlalu kuat. Sangat... liar." Ia menutup hidungnya dengan punggung tangan yang gemetar. "Kau sedang memasak bagian tubuh monster, bukan? Kau g***? Itu racun! Inti monster akan menghancurkan organ dalammu!"
Juna hanya menatapnya datar, lalu dengan tenang menusuk sepotong daging dengan garpu kayu. "Bagi sistem, ini sampah. Bagi koki yang tahu cara mengolahnya, ini adalah penawar."
Ia berjalan perlahan mendekat. Elara mencoba mengangkat tongkatnya, namun tangannya terkulai lemas. Juna berhenti pada jarak yang aman, lalu mengangsurkan piring kayu kecil berisi beberapa potong daging yang masih mengepul.
"Makanlah. Atau kau akan mati menjadi mayat cantik yang membeku di gua ini sebelum fajar," ujar Juna dingin.
Elara menatap hidangan itu dengan jijik. "Aku lebih baik mati daripada memakan kotoran monster. Hanya orang-orang gagal yang mencoba 'Survival Cook' seperti itu. Aku tahu siapa kau... kau si 'Koki Sampah' yang dibicarakan di guild, kan?"
Juna tidak membantah. Ia justru mengambil potongan daging dari piring itu dan memakannya sendiri di depan Elara. Bunyi kunyahan yang kenyal dan ekspresi puas yang tidak bisa disembunyikan Juna membuat perut Elara berbunyi nyaring, sebuah pengkhianatan dari tubuhnya sendiri yang sedang sekarat karena kelaparan energi.
"Aroma ini... kenapa begitu memabukkan?" gumam Elara tanpa sadar. Hidungnya kembali menghirup uap yang keluar dari daging itu. Ada aroma lada hutan yang hangat, berpadu dengan kegetiran jamur fosfor yang justru terasa menyegarkan saraf-sarafnya yang mati rasa.
Rasa sakit di bahunya berdenyut hebat, menyebarkan warna hitam yang semakin pekat di pembuluh darahnya. Putus asa mengalahkan logika. Dengan tangan gemetar, Elara meraih piring itu. Ia menatap Juna sekali lagi, mencari tanda-tanda pengkhianatan, namun ia hanya menemukan sepasang mata yang analitis dan tenang.
Elara mema**kkan sepotong kecil ke mulutnya.
Seketika, matanya melebar. Ia tidak merasakan rasa amis atau tekstur seperti karet yang biasanya ada pada daging monster mentah. Daging itu lumer di lidahnya, melepaskan ledakan rasa hangat yang menjalar dari tenggorokan hingga ke ujung jari-jarinya. Rasa hangat itu bukan sekadar suhu, melainkan aliran Mana yang murni.
"Ini... tidak mungkin," Elara berbisik, suaranya mulai kembali bertenaga. Ia mulai memakan potongan-potongan berikutnya dengan rakus, melupakan martabatnya sebagai seorang Mage terpelajar. "Energi monster itu... kau menjinakkannya? Bagaimana mungkin seorang dengan skill kelas bawah bisa memurnikan esensi monster lewat... memasak?"
Juna memperhatikan dengan saksama saat garis-garis hitam di bahu Elara mulai menyusut, digantikan oleh warna kulit yang sehat. "Bukan dimurnikan," koreksi Juna sambil membersihkan wajannya. "Tapi disinergikan. Monster memakan satu sama lain untuk berevolusi. Kenapa manusia harus berbeda?"
Elara hendak menjawab, namun tiba-tiba ia tersedak. Matanya menatap ke arah bayangan di belakang Juna. Wajahnya yang tadi mulai memerah kini kembali memucat, lebih hebat dari sebelumnya.
"Juna... di belakangmu..."
Juna merasakan bulu kuduknya berdiri. Tanah di bawah kakinya bergetar pelan. Bau anyir yang jauh lebih busuk dan lebih pekat daripada Serigala Bayang tiba-tiba menelan aroma masakannya. Juna perlahan menoleh dan melihat sepasang mata merah raksasa yang menyala di kegelapan terdalam gua.
Itu bukan lagi monster biasa. Itu adalah sesuatu yang tertarik oleh aroma masakan Juna—sesuatu yang seharusnya tidak ada di lant** ini.
"Sepertinya," gumam Juna, tangannya meraba gagang pisaunya kembali, "masakanku mengundang tamu yang tidak diundang."
Geraman berat bergema di dinding gua, membuat kristal-kristal di langit-langit berjatuhan. Elara mencoba berdiri, namun kakinya masih terlalu lemah. Juna berdiri di depannya, menghalangi pandangan makhluk itu dari mangsa yang lebih lemah.
"Jangan pingsan sekarang, Mage," bisik Juna dengan seringai tipis yang terlihat berbahaya. "Karena sepertinya, kita baru saja menemukan bahan utama untuk makan malam yang sebenarnya."
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!