Uap panas masih mengepul dari mangkuk kayu yang dipegang Elara, membawa aroma gurih yang tajam, perpaduan antara kaldu daging yang kental dengan semburat wangi rempah hutan yang aku temukan di sela-sela akar pohon tua. Elara tidak bicara. Ia hanya menatap dasar mangkuk yang sudah kosong dengan mata terbelalak, seolah baru saja melihat hantu di dalam makanannya.
Aku mengelap pisau berburuku dengan kain dekil, memperhatikannya dari sudut mata. "Kenapa? Terlalu pedas?"
Elara tidak langsung menjawab. Ia meletakkan mangkuk itu dengan tangan yang gemetar. "Juna... ini tidak ma**k akal."
Ia membuka telapak tangannya. Cahaya biru tipis, jauh lebih terang dan lebih padat dari biasanya, berpendar di antara jemarinya. Aku bisa merasakan tekanan udara di sekitar Elara sedikit berubah. Ada densitas energi yang tidak ada di sana sepuluh menit yang lalu.
"Mana-ku," bisiknya, suaranya parau karena terkejut. "Kapasitas totalnya meningkat sepuluh poin. Secara permanen."
Aku berhenti mengasah pisau. Sepuluh poin? Itu setara dengan naik dua atau tiga level untuk seorang penyihir pemula seperti dia. Padahal, sup yang kubuat tadi hanyalah campuran dari jantung Goblin yang sudah dibersihkan, sedikit lumut kristal, dan bumbu dasar dari tas ranselku.
"Bukankah itu bagus?" tanyaku datar, mencoba menyembunyikan keterkejutan di dalam hatiku sendiri. "Setidaknya kau tidak akan pingsan lagi setelah mengeluarkan dua bola api."
Elara berdiri dengan mendadak, membuat kerikil di bawah sepatunya berderit. "Kau tidak mengerti, Juna! Di dunia ini, mana adalah anugerah yang tetap. Kau meningkatkannya dengan berlatih bertahun-tahun atau meminum ramuan legendaris yang harganya bisa membeli satu desa. Kau... kau baru saja memberiku sup yang rasanya lebih enak dari masakan koki bintang lima, dan itu memberiku kekuatan permanen?"
Ia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikanβantara rasa syukur dan ketakutan yang mendalam. "Siapa sebenarnya kau? Skill 'Survival Cook' tidak seharusnya bisa melakukan ini."
Aku hanya mengangkat bahu, mengabaikan pertanyaannya. Aku bisa merasakan perutku sendiri bergejolak. Rasa lapar yang aneh itu kembali, mendesakku untuk mencari bahan yang lebih kuat, lebih langka, dan lebih berbahaya. "Sistem memberiku cara untuk bertahan hidup. Mungkin cara sistem memandang makanan berbeda dengan caramu."
Namun, percakapan kami terputus oleh sesuatu yang jauh lebih mendesak.
Keheningan hutan tiba-tiba terasa mencekam. Suara serangga malam yang biasanya riuh mendadak lenyap, seolah-olah alam semesta sedang menahan napas. Angin yang semula bertiup lembut kini membawa bau amis yang pekatβbau daging busuk yang bercampur dengan aroma belerang.
Lalu, sebuah geraman rendah menggetarkan tanah di bawah kaki kami. Itu bukan suara binatang biasa. Itu adalah suara yang datang dari tenggorokan sesuatu yang sangat besar, sesuatu yang memiliki otoritas di wilayah ini.
"Juna," Elara berbisik, wajahnya kini pucat pasi. Ia segera menggenggam tongkat sihirnya. "Aroma masakanmu... sepertinya kita mengundang tamu yang salah."
Aku berdiri perlahan, mema**kkan pisau ke dalam sarungnya dan meraih kapak pendek yang bersandar di batang pohon. Mataku menyipit, memindai kegelapan di balik semak-semak lebat. Di sana, di antara bayangan pohon-pohon raksasa, dua pasang mata berwarna merah darah menyala seperti bara api.
Sosok itu muncul perlahan. Seekor *Shadow Claw Ursus*βberuang raksasa setinggi tiga meter dengan bulu hitam legam yang tampak seperti asap cair. Di keningnya, ada sebuah kristal merah yang berdenyut, tanda bahwa ini adalah Boss Wilayah, monster yang telah memakan ribuan inti mana hingga bermutasi.
Air liur monster itu menetes ke tanah, mengeluarkan asap kecil saat bersentuhan dengan rumput. Ia tidak menatap kami sebagai ancaman, melainkan sebagai hidangan penutup setelah mencium aroma sisa sup di mangkuk Elara.
"Levelnya... Juna, levelnya tidak terbaca!" Elara mundur selangkah, tangannya mulai merapal mantra pelindung dengan tergesa-gesa. "Kita harus lari. Sekarang!"
Aku menarik napas panjang. Alih-alih rasa takut, sesuatu yang gelap dan haus justru menggeliat di dalam dadaku. Melihat otot-otot besar beruang itu dan kristal di keningnya, kepalaku secara otomatis memetakan anatominya. Aku tidak melihat monster yang akan membunuh kami.
Aku melihat daging paha yang kenyal, lemak yang kaya akan energi, dan inti mana yang jika diolah dengan benar, mungkin bisa memberiku evolusi yang selama ini kucari.
"Jangan lari, Elara," kataku, suaranya terdengar asing bahkan di telingaku sendiri. Lebih dingin, lebih lapar. "Gunakan mana baru yang kuberikan tadi. Ikat kakinya selama tiga detik."
"Apa kau g***? Kita akan mati!" teriaknya.
Beruang itu meraung, sebuah gelombang suara yang c**up kuat untuk merontokkan daun-daun dari pohonnya. Ia menerjang maju dengan kecepatan yang tidak ma**k akal untuk ukurannya, menghancurkan segala sesuatu di jalurnya.
Aku menggenggam kapakku erat-erat, mataku terkunci pada leher monster itu. "Tiga detik, Elara. Aku butuh bahan utama untuk makan malam berikutnya."
Saat makhluk itu melompat ke arah kami, aku tidak bergerak mundur. Aku justru berlari menyongsong maut, merasakan setiap sel di tubuhku berteriak menuntut nutrisi dari mangsa yang ada di depanku. Pertarungan hidup dan mati ini baru saja dimulai, dan di mataku, beruang itu hanyalah potongan daging besar yang menunggu untuk dimasak.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!