Hutan Hujan Kelabu ini terasa seperti paru-paru raksasa yang sedang sekarat; lembap, pengap, dan dipenuhi aroma buah busuk yang bercampur dengan bau apak bulu hewan. Aku menyeka keringat yang nyaris ma**k ke mata, sementara jemariku semakin erat menggenggam gagang kayu sepasang pisau tulang yang baru saja kuasah tadi malam. Di depanku, sosok setinggi tiga meter dengan bulu hitam legam dan otot-otot yang menonjol seperti akar pohon tua sedang menggeram.
Raja Kera Berlengan Empat. Inilah target kami.
"Ingat, Juna. Aku akan menarik perhatiannya dari jarak jauh. Kau hanya punya satu kesempatan untuk memotong tendon di kaki belakangnya," bisik Elara. Gadis itu sudah menyiapkan busur panjangnya, anak panah perak bertengger manis di tali busur yang meregang kencang.
Aku menelan ludah, merasakan tenggorokanku kering. "Pastikan dia tidak menoleh saat aku bergerak. Aku tidak punya perisai, Elara. Hanya dua bilah besi pemotong daging ini."
Elara melirik pisau dapurku dengan tatapan sangsi yang tidak disembunyikan. "Masih sulit dipercaya ada orang yang mau melawan Boss Dungeon dengan alat masak. Jangan mati, Koki."
Tanpa menunggu balasan, Elara melompat ke dahan pohon yang lebih tinggi. *Wush!* Anak panah pertamanya melesat, membelah udara dengan suara siulan tajam dan menancap tepat di bahu kanan atas sang Raja Kera.
Monster itu meraung dahsyat, getarannya membuat dedaunan berguguran. Empat lengannya memukul dada dengan dentuman yang menyerupai genderang perang. Saat perhatiannya teralih sepenuhnya pada Elara yang terus menghujaninya dengan panah, aku merendahkan tubuh, bergerak menyelinap di antara semak berduri.
Dalam pandanganku, sistem 'Survival Cook' mulai bekerja. Garis-garis tipis berwarna merah muncul di tubuh raksasa itu—titik-titik anatomi paling krusial. Sistem ini tidak memberiku kekuatan fisik yang luar biasa, tapi ia memberiku peta jalan tentang bagaimana cara merobek makhluk hidup menjadi potongan-potongan daging siap masak.
*Tendon Achilles. Arteri femoralis. Pangkal tulang ekor.*
Aku berlari. Sepatu botku menginjak lumut licin, tapi instingku menyeimbangkan tubuh dengan sempurna. Saat aku berada di jangkauan serang, Raja Kera itu menyadari keberadaanku. Salah satu lengan bawahnya yang sebesar batang pohon kelapa mengayun horizontal, berniat meremukkan tulang rusukku.
Aku berguling di bawah ayunan itu, merasakan hembusan angin yang begitu kuat hingga membuat rambutku berantakan. Begitu aku bangkit, aku tidak membuang waktu. Dengan satu lonjakan, aku menerjang kaki kirinya.
*Sret!*
Pisau dapurku yang terbuat dari baja hitam—yang sudah diperkuat dengan ekstraksi esensi tulang Goblin—terbenam dalam ke daging kenyal sang Raja Kera. Aku tidak sekadar menusuk; aku melakukan gerakan memotong yang presisi, seperti saat aku memisahkan daging sapi dari tulangnya di dapur restoran dulu.
Raungan kesakitan monster itu m****akkan telinga. Ia limbung. Darah panas berwarna merah pekat menyembur, membasahi wajah dan jaketku. Bau amisnya memicu sesuatu yang gelap di dalam perutku. Rasa lapar itu kembali. Rasa lapar yang tidak normal.
"Juna, menjauh!" teriak Elara.
Raja Kera itu mengamuk memb*** buta. Tiga lengannya yang lain mencoba menangkapku, sementara satu lengannya menekan luka di kakinya. Aku melompat mundur, melakukan salto ke belakang yang hampir tidak ma**k akal bagi seseorang dengan level rendah sepertiku. Ini pasti efek dari 'Jantung Goblin' yang kumakan kemarin—staminaku meningkat drastis.
"Dia sudah goyah!" teriakku sambil mengatur napas yang memburu. "Serang matanya!"
Elara tidak menyia-nyiakan peluang. Dua anak panah melesat sekaligus, diperkuat dengan aura biru muda. *Jlep! Jlep!* Raja Kera itu buta seketika. Ia terhuyung-huyung, meronta dalam kegelapan, menghancurkan pohon-pohon kecil di sekitarnya.
Inilah saatnya. Aku tidak butuh pedang besar atau sihir penghancur. Aku hanya butuh pisau ini untuk mencapai bagian terbaik dari tubuhnya.
Aku berlari menyongsong monster yang sedang sekarat itu. Menggunakan lengannya yang terkulai sebagai pijakan, aku memanjat ke punggungnya yang lebar. Targetku adalah tengkuk, tempat di mana sumsum tulang belakang bertemu dengan otak—bagian paling empuk yang menyimpan seluruh nutrisi 'Evolusi'.
Raja Kera itu mencoba menggapai punggungnya, tapi aku lebih cepat. Aku menancapkan satu pisau ke bahunya untuk pegangan, dan dengan tangan satunya, aku menghunjamkan pisau dapur utamaku tepat ke titik lunak di bawah tengkoraknya.
Aku bisa merasakan ujung pisauku menembus lapisan pelindung dan ma**k ke jaringan saraf. Monster itu kejang hebat, lalu perlahan, tubuh raksasanya ambruk ke tanah, menimbulkan dentuman yang menggetarkan bumi.
Hening sejenak. Hanya suara napas kami yang terdengar.
Elara turun dari pohon, wajahnya pucat tapi tampak lega. "Kau g***. Benar-benar g***. Kau memanjatnya seolah-olah dia itu hanya tumpukan bahan makanan."
Aku tidak menjawab. Pandanganku terpaku pada tubuh monster itu. Di mataku, sistem memberikan notifikasi yang berpendar terang.
**[Target Terbunuh: Raja Kera Berlengan Empat (Level 15 - Boss)]**
**[Bahan Utama Ditemukan: Daging Punggung Marmer & Jantung Primal]**
**[Kualitas: Grade A]**
Aku mendekati bagian dada monster itu, mengeluarkan pisau cadangan yang lebih kecil dan tajam. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena adrenalin dan rasa lapar yang mulai tak tertahankan, aku mulai membedah kulit tebalnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Elara, mendekat dengan raut wajah bingung.
"Mengambil bagian terbaiknya sebelum kesegarannya hilang," jawabku datar. Aku merogoh ke dalam rongga dada yang masih hangat dan mengeluarkan sebuah organ besar yang masih berdenyut pelan. Jantung Raja Kera. Warnanya merah keunguan dengan aroma seperti kayu manis dan darah.
Perutku bergejolak. Liurku menetes. Rasa lapar ini terasa seperti pisau yang mengiris lambungku dari dalam.
"Juna? Kau terlihat aneh," suara Elara terdengar cemas. Ia melangkah mundur satu tindak saat melihat mataku yang mungkin sekarang sudah berubah warna.
Aku menatap jantung di tanganku. Aku tahu, jika aku memakannya mentah-mentah, aku akan mendapatkan lonjakan kekuatan instan, tapi risikonya adalah kehilangan akal budi. Namun, jika aku mengolahnya sekarang...
Tiba-tiba, semak-semak di belakang kami berdesir hebat. Bukan hanya satu, tapi belasan pasang mata merah menyala muncul dari kegelapan hutan. Bau darah Raja Kera telah mengundang kawanan pemakan bangkai yang jauh lebih berbahaya.
Aku mencengkeram jantung itu erat-erat. "Elara, bersiaplah. Kita punya tamu, dan aku butuh waktu lima menit untuk mulai 'memasak' ini, atau kita berdua tidak akan pernah keluar dari hutan ini hidup-hidup."
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!