Bau anyir darah dan aroma ozon yang terbakar masih menggantung di udara gua yang lembap itu. Di hadapanku, bangkai seekor *Shadow Stalker*βmonster serupa macan tutul dengan kulit bersisik hitam legamβtergeletak tak bernyawa. Jika ini adalah Juna sebulan yang lalu, ia mungkin akan muntah melihat isi perut yang terburai atau gemetar karena hampir kehilangan nyawa. Namun, Juna yang sekarang hanya merasakan satu hal: kekosongan yang menuntut untuk diisi.
Aku menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan yang kotor. Tanganku bergerak lincah, hampir otomatis. Belati kecilku menyayat selaput tipis yang menyatukan otot paha monster itu dengan sendinya. Aku tidak lagi melihat makhluk ini sebagai predator yang mengerikan; di mataku, dia hanyalah tumpukan protein, lemak, dan energi yang menunggu untuk diproses.
"Irisan tipis di bagian lateral, hindari kelenjar empedu yang pahit," gumamku pelan. Suaraku terdengar serak, asing di telingaku sendiri.
Aku menyalakan api kecil menggunakan beberapa ranting kering yang kutemukan di lorong sebelumnya. Tanpa bumbu mewah, tanpa perlengkapan dapur yang memadai, aku hanya mengandalkan skill 'Survival Cook' milikku. Aku menusukkan potongan daging paha itu ke ranting, lalu memanggangnya di atas api. Lemak hitam monster itu mulai meleleh, menetes ke bara api dan menimbulkan bunyi *desis* yang memuaskan.
Aromanya mulai tercium. Biasanya, daging monster memiliki bau busuk yang menyengat, tetapi di bawah pengaruh kemampuanku, aroma itu berubah menjadi sesuatu yang manis, gurih, dan menggoda secara primitif. Air liurku menetes. Rasa lapar ini bukan lagi sekadar keinginan untuk makan; itu adalah rasa sakit yang mencakar dinding perutku.
Begitu daging itu berubah warna menjadi kecokelatan, aku tidak menunggu lama. Aku merobek daging panas itu dengan gigiku. Rasanya meledak di lidahβpedas, seperti ada aliran listrik kecil yang merambat ke saraf-sarafku.
[Notifikasi Sistem: Anda telah mengonsumsi Daging Shadow Stalker (Grade C). Efek: Peningkatan Agility +2 sementara. Evolusi sel predator dimulai...]
Aku terhenti sejenak. "Evolusi sel predator?"
Aku menelan sisa daging itu dengan rakus, tidak peduli pada lemak yang mengotori daguku. Namun, saat aku hendak mengambil potongan kedua, aku berhenti. Pandanganku tertuju pada genangan air jernih yang terkumpul di ceruk batu di dekat kakiku. Permukaan air itu tenang, memantulkan cahaya redup dari api unggun kecilku.
Aku mendekatkan wajahku ke air. Awalnya, aku hanya melihat wajahku yang kusam, dipenuhi debu dan bekas darah kering. Tapi kemudian, saat aku berkedip, sesuatu yang lain muncul.
Di balik pupil hitamku yang biasa, ada kilatan cahaya. Bukan pantulan api, melainkan sesuatu yang berasal dari dalam. Sebuah cincin warna kuning keemasan yang tajam mulai melingkari iris mataku. Saat aku memicingkan mata, pupilku tidak mengecil seperti manusia normal; ia memanjang, membentuk celah vertikal yang tipis seperti mata reptil atau kucing pemangsa.
Aku tersentak mundur, jantungku berdegup kencang. Tanganku menyentuh kelopak mataku, mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya halusinasi akibat kelelahan.
"Apa ini..." bisikku. Aku melihat kembali ke cermin air. Mata itu masih di sana. Kuning, tajam, dan dingin.
Aku teringat pada *Shadow Stalker* yang baru saja kupotong-potong. Mata monster itu memiliki warna yang sama persis. Ketakutan yang selama ini kupendam mulai merayap naik. Apakah aku sedang berubah? Apakah setiap suap daging monster yang kutelan perlahan-lahan menghapus kemanusiaanku dan menggantinya dengan kode genetik mereka?
Aku menatap tanganku. Darah monster yang mengering di bawah kuku-kukuku tidak lagi terasa menjijikkan. Justru, aku merasa... nyaman dengannya.
Lalu, sebuah pikiran melintas, lebih tajam dan lebih dingin dari belatiku. Aku teringat saat aku menghabisi monster tadi. Biasanya, ada rasa kasihan, atau setidaknya rasa hormat terhadap nyawa yang hilang. Tapi kali ini, tidak ada apa-apa. Aku hanya merasa kesal karena monster itu terlalu banyak bergerak, membuat bagian daging punggungnya sedikit memar dan sulit dipotong.
Aku telah kehilangan empati itu. Bagiku, makhluk hidup di depanku bukan lagi individu, melainkan daftar bahan makanan. Jika aku bisa melihat monster sebagai sekadar komoditas dapur, lantas bagaimana aku akan melihat manusia lain nantinya? Apakah mereka juga akan terlihat seperti potongan daging di mataku jika rasa lapar ini menjadi tak tertahankan?
"Juna, sadarlah," aku menampar pipiku sendiri dengan keras. Rasa perih itu sedikit mengembalikanku ke realitas. "Kau makan untuk bertahan hidup, untuk menjadi kuat. Bukan untuk menjadi salah satu dari mereka."
Namun, saat aku mengatakan itu, mataku kembali melirik ke arah sisa daging *Shadow Stalker* yang belum dimasak. Bagian jantungnya menyembul dari balik tulang rusuk yang patah. Jantung itu masih menyisakan sedikit kehangatan.
Rasa lapar itu kembali. Lebih kuat. Lebih menuntut. Perutku melilit, dan untuk sesaat, aku merasa seolah-olah ada suara ribuan monster yang berbisik di dalam kepalaku, memintaku untuk berhenti berpura-pura menjadi manusia yang beradab.
Aku mengambil jantung itu dengan tangan kosong. Teksturnya kenyal dan licin. Tanpa sadar, aku menjilat bibirku. Kilatan kuning di mataku semakin terang, menerangi kegelapan gua seolah-olah aku memiliki *night vision* alami.
Aku tidak lagi butuh api untuk melihat di kegelapan ini. Aku bisa melihat setiap serat otot, setiap aliran energi dalam daging di tanganku. Aku merasa kuat. Aku merasa... lapar.
Tiba-tiba, telingaku yang sekarang menjadi jauh lebih sensitif menangkap suara gesekan halus dari lorong gua yang gelap di depanku. Suara langkah kaki yang tertahan, berat, dan tidak beraturan. Itu bukan suara monster. Itu adalah langkah kaki manusia.
"Siapa di sana?" teriakku.
Bukannya merasa lega karena ada manusia lain di dungeon ini, sebuah insting purba di dalam diriku justru bangkit. Aku tidak merasa ingin menyapa atau mencari perlindungan. Otot-ototku menegang, dan tanganku secara refleks menggenggam belati dengan posisi siap menyerang.
Di dalam kepalaku, sebuah pertanyaan muncul secara otomatis, dingin dan tanpa perasaan: *Apakah mereka pengganggu... atau mereka adalah bahan yang lebih berkualitas?*
Aku tertegun dengan pikiranku sendiri, namun mataku yang kuning tetap terpaku pada kegelapan, menunggu sosok itu muncul ke dalam cahaya apiku.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!