Seductive Deception: Antara Gairah dan Khianat

Bab 1: Bab 1 - Memperkenalkan kehidupan Anya yang membosankan ...

Pengaturan Membaca

Gelas kristal di tanganku terasa sedingin es, namun cairan amber di dalamnya sama sekali tidak membantu mendinginkan gejolak bosan yang membakar dadaku. Aku menatap pantulan diriku di cermin besar berlapis emas yang mendominasi dinding kamar tidurku. Gaun tidur sutra berwarna merah marun meluncur di kulitku, tipis dan nyaris transparan, memperlihatkan lekuk tubuh yang biasanya menjadi pemujaan para pria di klub-klub eksklusif Jakarta. Namun di sini, di dalam sangkar emas seluas dua hektar ini, kecantikanku terasa seperti pajangan museum yang berdebu.

Aku menghela napas, membiarkan jemariku menelusuri garis leher gaun itu. Hidup sebagai pewaris tunggal Clarissa Group ternyata tidak semegah yang dibayangkan orang-orang di luar sana. Bagiku, ini adalah pengulangan tanpa akhir dari keheningan yang mencekik. Ayahku, pria yang lebih mencint** angka di laporan keuangan daripada putrinya sendiri, selalu punya cara untuk memastikan aku tetap "aman"β€”yang sebenarnya berarti "terisolasi".

Ketukan di pintu memecah lamunanku. Itu bukan ketukan lembut kepala pelayan, melainkan tiga ketukan pendek, tegas, dan penuh otoritas.

"Ma**k," sahutku sambil sengaja tidak berbalik, tetap membelakangi pintu untuk memamerkan punggungku yang terbuka.

Pintu terbuka dengan suara klik yang minimalis. Dari pantulan cermin, aku melihat sesosok pria melangkah ma**k. Dia tidak mengenakan seragam safari cokelat seperti penjaga-penjagaku sebelumnya. Pria ini mengenakan setelan jas hitam yang terpotong sempurna, membungkus bahu lebar dan tubuh atletis yang tampak seperti pahatan marmer.

"Nona Clarissa," suaranya rendah, bariton yang dalam dan tanpa emosi. "Saya Liam Alister. Mulai malam ini, saya yang bertanggung jawab atas keamanan pribadi Anda."

Aku memutar tubuhku perlahan, memasang senyum paling memikat yang kusimpan untuk momen-momen khusus. Aku ingin melihat kilatan di matanyaβ€”keterkejutan, gairah, atau setidaknya sedikit kegugupan saat melihatku dalam keadaan seperti ini. Namun, saat mataku bertemu dengan matanya, aku tidak menemukan apa pun.

Mata Liam Alister berwarna gelap, sedalam palung laut, dan sama dinginnya. Dia berdiri tegak dengan tangan tertaut di depan tubuhnya, ekspresinya sedatar dinding beton. Tidak ada lirikan ke arah dadaku, tidak ada keraguan pada tatapannya. Dia menatapku seolah-olah aku hanyalah satu lagi objek dalam protokol keamanannya.

"Liam," aku mengecap namanya di lidahku, sengaja membuatnya terdengar seperti desahan. Aku melangkah mendekat, membiarkan aroma parfum vanila dan melatiku memenuhi ruang di antara kami. "Ayahku tidak bilang dia mengirim seorang model untuk menjagaku."

"Saya bukan model, Nona. Saya mantan personel pa**kan khusus," jawabnya lugas. Dia bahkan tidak berkedip saat aku berhenti tepat di depannya, hanya menyisakan jarak beberapa inci.

Aku mendongak, mencoba mencari celah di balik topeng profesionalitasnya. Aku bisa merasakan panas yang memancar dari tubuhnya, kontras dengan sikapnya yang dingin. "Pa**kan khusus? Kedengarannya sangat... berbahaya. Apa kau akan melindungiku dari monster di bawah tempat tidurku juga?"

Aku mengulurkan tangan, ujung jari telunjukku mendarat di kerah kemeja putihnya yang kaku. Aku menggerakkannya perlahan, menelusuri garis rahangnya yang tajam dan terc**ur bersih. Kulitnya terasa hangat, dan untuk sesaat, aku berharap bisa merasakan denyut nadinya berpacu.

Namun, sebelum jariku mencapai dagunya, Liam menangkap pergelangan tanganku. Gerakannya sangat cepat hingga aku tidak sempat bereaksi. Genggamannya kuat, tidak menyakitkan, tapi mutlak.

"Tugas saya adalah mencegah ancaman fisik, Nona. Bukan untuk menjadi bagian dari permainan Anda," ucapnya dingin. Dia melepaskan tanganku seolah-olah tanganku adalah sesuatu yang kotor.

Rasa panas menjalar di pipiku. Bukan karena malu, melainkan karena terhina. Selama ini, pria-pria akan berlutut hanya untuk mendapatkan satu kerlingan dariku. Mereka akan tergagap-gagap dan melakukan apa pun demi perhatianku. Tapi pria ini? Dia baru saja menolakku tanpa ragu.

"Kau c**up sombong untuk seorang karyawan, Liam," desisku, mencoba mengembalikan harga diriku yang terkoyak. "Kau tahu aku bisa membuatmu dipecat dalam satu jentikan jari?"

Liam mundur selangkah, kembali ke posisi istirahatnya yang sempurna. "Jika itu keinginan Anda, silakan bicara dengan Tuan Clarissa. Namun, selama saya masih menerima gaji dari ayah Anda, saya adalah bayang-bayang Anda. Ke mana pun Anda pergi, saya ada di sana. Apa pun yang Anda lakukan, saya akan mengawasi."

"Ke mana pun?" aku menantang, menyilangkan tangan di depan dada sehingga gaun tipisku semakin menonjolkan apa yang seharusnya ia lihat. "Terma**k saat aku mandi? Atau saat aku tidur?"

"Keamanan tidak mengenal privasi, Nona. Tapi saya pastikan Anda tidak akan menyadari kehadiran saya jika itu yang Anda khawatirkan."

Dia kemudian berbalik menuju pintu, seolah-olah percakapan ini sudah berakhir dan aku hanyalah gangguan kecil dalam jadwalnya. "Saya akan berjaga di depan pintu kamar Anda. Selamat malam, Nona Clarissa."

Pintu tertutup dengan suara debuman pelan, meninggalkanku dalam keheningan yang kini terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya. Aku menatap pintu yang tertutup itu dengan napas yang memburu. Tanganku masih terasa hangat di tempat dia memegangnya tadi.

Br******.

Aku berjalan kembali ke cermin, menatap wajahku yang tampak memerah karena amarah yang tertahan. Dia benar-benar mengabaikanku. Dia memperlakukanku seolah-olah aku hanyalah sebuah koper berharga yang harus dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Tidak ada gairah, tidak ada kekaguman. Hanya kekosongan yang menghina.

Aku meraih gelas kristalku dan meneguk sisa minuman di dalamnya hingga tandas. Rasa pahit alkohol membakar tenggorokanku, tapi itu tidak sebanding dengan rasa pahit di hatiku.

Liam Alister mungkin mengira dia adalah tembok yang tidak bisa ditembus. Dia pikir disiplin militernya bisa melindunginya dariku. Tapi dia belum mengenalku. Jika ada satu hal yang aku benci di dunia ini, itu adalah diabaikan. Dan jika ada satu hal yang paling aku kuasai, itu adalah mendapatkan apa yang aku inginkan.

Aku akan menghancurkan dinding itu, pikirku sambil menatap pegangan pintu. Aku akan membuatnya memohon, membuatnya kehilangan kendali, sampai dia lupa pada protokol dan tugasnya.

Permainan baru saja dimulai, Liam. Dan aku tidak pernah kalah.

Aku mematikan lampu kamar, membiarkan kegelapan menyelimutiku, sementara di luar sana, aku tahu pria dingin itu berdiri tegak, menjadi penjaga sekaligus tantangan terbesarku. Aku tersenyum dalam gelap. Kehidupan yang membosankan ini tiba-tiba saja menjadi jauh lebih menarik.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca