Udara pegunungan yang menusuk tulang seharusnya bisa mendinginkan kepalaku, tetapi di dalam suite mewah ini, atmosfernya justru terasa mencekik dengan cara yang berbeda. Aku berdiri di dekat jendela kaca besar, menatap kegelapan hutan pinus yang diselimuti kabut tebal. Di pantulan kaca, aku bisa melihatnya. Anya Clarissa. Dia duduk di tepi ranjang king-size, gaun tidurnya yang berbahan sutra tipis jatuh di bahunya yang putih porselen, menantang gravitasi dan menantang kesabaranku.
"Kau terlalu tegang, Liam," suaranya mengalun, rendah dan penuh provokasi, memecah kesunyian yang hanya diisi oleh derak api di perapian. "Berhentilah bersikap seolah kau sedang menjaga gerbang neraka. Kita sendirian di sini."
Aku tidak berbalik. Aku mengepalkan tangan di samping tubuh, merasakan tekstur kasar sarung tangan taktis yang masih kukenakan. "Tugas saya adalah memastikan Anda aman, Nona. Resort ini terisolasi. Keamanan adalah prioritas utama."
Kebohongan itu meluncur begitu saja dari lidahku, lancar dan tanpa cela. Keamanan? Aku adalah ancaman terbesar yang ada di radius seratus kilometer dari sini. Aku adalah serigala yang disewa untuk menjaga domba, menunggu waktu yang tepat untuk menyeretnya ke dalam kegelapan.
Aku mendengar langkah kakinya yang ringan di atas karpet tebal. Wangi parfum vanila dan melati yang memabukkan mulai menyerang inderaku. Tiba-tiba, aku merasakan jemarinya yang hangat menyentuh punggungku, merayap naik ke bahuku yang kaku. Tubuhku bereaksi seketika; otot-ototku menegang, bukan karena waspada terhadap serangan, melainkan karena hasrat yang selama berminggu-minggu ini kutekan dalam-dalam.
"Lihat aku, Liam," bisiknya tepat di telingaku. Nafasnya hangat, kontras dengan udara dingin yang merembes dari jendela.
Aku berbalik perlahan, dan itu adalah kesalahan terbesar. Matanya yang besar dan jernih menatapku dengan binar yang haus akan perhatian—sebuah kekosongan emosional yang selama ini ia coba tutupi dengan sikap manjanya. Saat itu, aku tidak melihat seorang ahli waris kaya raya yang menyebalkan. Aku melihat seorang wanita yang kesepian, yang mencari perlindungan pada orang yang salah.
"Kau bukan sekadar robot yang dibayar ayahku, kan?" Anya meraih kerah kemeja hitamku, menarikku sedikit lebih dekat. "Aku melihat caramu menatapku saat kau pikir aku tidak memperhatikan. Ada api di sana, Liam. Kenapa kau begitu takut untuk membiarkannya menyala?"
"Anda tidak tahu apa yang Anda minta, Anya," suaraku serak, lebih dalam dari biasanya. Jarak di antara kami menghilang. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepat di balik tipisnya kain sutra itu.
"Maka tunjukkan padaku," tantangnya, bibirnya hanya beberapa inci dari bibirku.
Pertahananku yang selama bertahun-tahun kutempa di medan perang dan operasi hitam, runtuh dalam sekejap. Aku merenggut pinggangnya, menariknya dengan kasar ke dalam dekapanku. Aku tidak lagi peduli dengan protokol, tidak peduli dengan identitas palsuku, dan untuk sejenak—yang sangat berbahaya—aku melupakan misi utamaku.
Ciuman kami terasa seperti ledakan. Kasar, penuh tuntutan, dan sarat dengan rasa lapar yang tertahan. Anya mengerang pelan, tangannya menjalar ke rambutku, menarikku lebih dalam ke dalam pusaran gairah yang ia ciptakan. Aku mengangkat tubuhnya yang ringan, membawanya ke ranjang tanpa memutuskan kontak bibir kami.
Malam itu, di bawah temaram cahaya api perapian, segalanya terasa nyata. Setiap sentuhan, setiap desahan yang meluncur dari bibirnya, dan cara dia membisikkan namaku seolah-olah aku adalah penyelamatnya, menghujam langsung ke bagian hatiku yang kukira sudah mati. Aku menjelajahi setiap jengkal kulitnya dengan rasa lapar yang tidak ma**k akal, seolah-olah aku ingin menandainya sebagai milikku, bukan sebagai tawanan, melainkan sebagai sesuatu yang lebih dalam.
Namun, di tengah hiruk-pikuk gairah itu, sebuah suara di belakang kepalaku terus berteriak. *Dia adalah targetmu, Liam. Dia adalah tiketmu menuju bayaran miliaran rupiah. Dia hanyalah angka dalam kontrakmu.*
Saat napas kami memburu dan keringat membasahi tubuh kami yang bertautan, aku menatap matanya. Anya tampak begitu rapuh dan pasrah di bawahku. Ada kepercayaan yang tulus di sana—kepercayaan yang baru saja kukhianati dengan cara yang paling intim.
"Liam..." bisiknya lirih, jarinya mengusap rahangku sebelum ia perlahan memejamkan mata, jatuh ke dalam tidur yang lelap karena kelelahan emosional dan fisik.
Aku tetap terjaga, berbaring di sampingnya sambil menatap langit-langit kamar yang gelap. Kehangatan tubuhnya yang menempel padaku terasa seperti bara panas yang membakar nuraniku. Aku telah melakukan kesalahan fatal. Aku membiarkan diriku merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ada. Gairah ini bukan lagi bagian dari sandiwara untuk memikatnya; ini adalah jebakan yang kubuat untuk diriku sendiri.
Aku bangkit perlahan, berusaha tidak membangunkannya. Aku berjalan menuju meja kecil di sudut ruangan dan mengambil ponsel satelit yang tersembunyi di balik tumpukan buku. Layarnya menyala, menampilkan pesan singkat dari atasanku.
*“Target sudah dalam posisi terisolasi. Penjemputan dilakukan fajar nanti. Pastikan semua jejak bersih.”*
Aku menoleh ke arah tempat tidur, melihat siluet Anya yang tampak begitu tenang dalam tidurnya. Beberapa jam lagi, aku harus mengikat tangan yang baru saja memelukku ini. Aku harus menutup mata yang baru saja menatapku dengan cinta itu. Aku adalah agen ganda, seorang tentara bayaran yang tidak boleh memiliki hati.
Namun, saat aku menggenggam ponsel itu, tanganku gemetar. Sebuah kesadaran pahit menghantamku: aku tidak hanya akan menculiknya. Aku akan menghancurkan satu-satunya hal yang ia miliki—kepercayaannya yang terakhir pada manusia. Dan yang lebih menakutkan adalah, aku tidak tahu apakah aku sanggup melihat cahaya di matanya padam saat ia menyadari bahwa pria yang baru saja menyentuh jiwanya adalah monster yang dikirim untuk menghancurkan hidupnya.
Fajar akan tiba dalam tiga jam, dan saat itulah, aku harus memilih antara kesetiaan pada misi atau perasaan yang akan membuatku kehilangan segalanya.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!