Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai beludru yang tidak tertutup rapat, melukis garis-garis emas di atas sprei satin yang tampak kacau. Aku mengerang pelan, bukan karena terganggu, melainkan karena rasa nyaman yang teramat sangat. Tubuhku terasa berat, namun ringan di saat yang samaβsebuah paradoks yang hanya bisa diciptakan oleh malam yang baru saja kulewati.
Aku meraba sisi tempat tidur di sampingku, mengharapkan kehangatan kulit pria itu, namun yang kutemukan hanyalah bantal yang sudah dingin. Aku membuka mata perlahan, mengerjap melawan silau. Aroma kayu cendana dan keringat maskulin masih tertinggal kuat di udara, memicu kilas balik memori tentang bagaimana dinding pertahanan Liam yang kokoh itu akhirnya runtuh di bawah jemariku.
Aku tersenyum kecil, memeluk guling dengan perasaan kemenangan yang meluap-luap. Liam Alister, sang robot bernyawa yang selalu kaku, akhirnya bertekuk lutut. Aku berhasil membuatnya melepaskan topeng profesionalitasnya. Sentuhannya yang kasar namun mendamba, napasnya yang memburu di ceruk leherkuβsemua itu terasa sangat nyata. Untuk pertama kalinya dalam hidupku yang penuh dengan kepalsuan di lingkaran sosial kelas atas, aku merasa benar-benar diinginkan. Bukan karena nama belakang Clarissa yang kusandang, melainkan karena aku adalah Anya.
Aku beranjak duduk, membiarkan selimut merosot dan menampakkan jejak kemerahan di bahuku. Aku meraih kemeja putih Liam yang tergeletak di lant**, mengenakannya, dan menghirup aroma tubuhnya yang tertinggal di kain itu. Aku merasa seperti pemenang.
Namun, keheningan resort di puncak gunung ini tiba-tiba terasa janggal. Suara gemericik air dari kamar mandi tidak terdengar. Aku melangkah keluar dari kamar tidur menuju ruang tengah paviliun mewah kami, berniat mengejutkannya dengan pelukan dari belakang. Langkahku terhenti di ambang pintu geser menuju balkon yang sedikit terbuka.
Angin pegunungan yang dingin menusuk pori-poriku, tapi bukan itu yang membuat bulu kudukku berdiri.
Liam berdiri di sana, membelakangiku. Punggungnya yang lebar tampak tegang, jauh dari relaksasi yang seharusnya dirasakan seseorang setelah malam yang panjang. Ia sedang menempelkan ponsel di telinganya.
"Semua berjalan sesuai rencana," suara Liam terdengar. Dingin. Datar. Tidak ada sisa-sisa kelembutan atau gairah yang ia tunjukkan beberapa jam yang lalu. "Target sudah sepenuhnya berada dalam kendali. Dia tidak menaruh curiga sedikit pun."
Jantungku seolah berhenti berdetak selama satu detik yang menyakitkan. *Target?*
"Ya," lanjut Liam, suaranya kini merendah, hampir berupa bisikan yang tajam. "Resort ini terisolasi sempurna. Tidak ada sinyal publik, hanya jalur pribadi yang aku gunakan. Segera siapkan tim penjemputan di koordinat biasa. Pastikan negoisasi tebusan dengan ayahnya dimulai setelah aku memberi kode. Aku ingin angka miliaran itu sudah siap sebelum fajar besok."
Duniaku serasa berputar. Pegangan tanganku pada kusen pintu mengerat hingga buku-bukuku memutih. Rasa mual mulai naik ke kerongkonganku. *Target... Tebusan... Ayah...* Kata-kata itu berputar-putar di kepalaku seperti kepingan puzzle yang mengerikan.
Aku mundur selangkah, berusaha tidak menimbulkan suara. Otakku yang biasanya cerdas dalam memanipulasi situasi kini berteriak panik. Ini tidak mungkin. Liam adalah pengawal yang disewa ayahku dengan pemeriksaan latar belakang yang ketat. Dia melindungiku dari kejaran paparazzi, dia menjagaku dari pria-pria hidung belang di klub malam.
Tapi, benarkah begitu? Ataukah semua itu hanya bagian dari pertunjukannya?
Aku kembali ma**k ke dalam kamar dengan langkah gemetar. Pandanganku tertuju pada tas kerja hitam milik Liam yang diletakkan di atas meja riasβtempat yang biasanya tidak boleh kusentuh. Dengan tangan yang gemetar hebat, aku membukanya. Di dalamnya tidak ada jadwal harian atau laporan keamanan yang biasa kulihat.
Aku menemukan sebuah map kulit gelap. Di dalamnya terdapat lembaran-lembaran kertas yang membuat napas di dadaku terasa tercekik. Foto-fotoku. Foto saat aku berbelanja, saat aku sendirian di galeri seni, bahkan foto saat aku sedang tidur di kursi belakang mobil. Ada catatan det**l mengenai saldo rekening pribadiku, aset milik keluarga Clarissa, dan daftar titik buta di rumah utama kami.
Lalu, mataku tertuju pada sebuah paspor di kantong tersembunyi tas itu. Aku membukanya. Foto di sana memang foto Liam, namun nama yang tertera sama sekali bukan Liam Alister.
*Elias Thorne.*
Di bawah paspor itu, terdapat sebuah alat komunikasi militer dan sepuc** pistol jenis Glock yang dilengkapi peredam suara. Ini bukan perlengkapan seorang bodyguard. Ini adalah perlengkapan seorang profesional yang sedang menjalankan misi penangkapan.
Rasa bahagia yang tadi meluap kini menguap tanpa sisa, digantikan oleh teror murni yang membekukan darah. Pria yang baru saja menyentuh setiap jengkal tubuhku, pria yang kepadanya aku menyerahkan kerentananku, adalah orang yang paling berbahaya dalam hidupku saat ini. Setiap desahan, setiap tatapan intens yang kukira adalah gairah, ternyata hanyalah taktik untuk membuatku lengah.
Aku hanyalah sebuah paket. Sebuah komoditas berharga yang sedang ia kemas untuk dijual.
Suara langkah kaki yang berat mendekat ke arah kamar. Aku tersentak, berusaha menutup tas itu kembali dengan terburu-buru, namun tanganku terlalu gemetar hingga sebuah pulpen taktis terjatuh ke lant** kayu dengan suara denting yang nyaring.
Langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu.
"Anya?" suara Liam memanggil. Tidak ada lagi nada dingin seperti di telepon tadi. Suaranya kembali menjadi Liam yang kukenalβtenang dan penuh perhatian palsu. "Kau sudah bangun, Sayang?"
Aku mematung di sisi meja rias, menatap pintu yang perlahan terbuka. Aku menyadari satu hal dengan kepastian yang menyakitkan: aku tidak lagi berada di sebuah resort mewah untuk berlibur. Aku berada di dalam sangkar, dan pria yang memegang kuncinya baru saja ma**k ke dalam ruangan.
Pintu terbuka sepenuhnya. Liam berdiri di sana, mengenakan kaos hitam yang membungkus otot-ototnya dengan sempurna. Matanya menatapku, lalu perlahan turun ke arah tas kerjanya yang sedikit terbuka di depanku.
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Ekspresi hangat di wajah Liam memudar perlahan, digantikan oleh tatapan tajam dan datar yang belum pernah kulihat sebelumnya. Sudut bibirnya terangkat sedikit, namun tidak ada keramahan di sana.
"Seharusnya kau tetap tidur sedikit lebih lama, Anya," ucapnya dengan nada yang sangat tenang, namun mengandung ancaman yang nyata. "Ada beberapa hal yang lebih baik tidak kau ketahui secepat ini."
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!