Udara pagi di pegunungan seharusnya terasa menyegarkan, namun bagiku, oksigen yang ma**k ke paru-paru terasa seberat timah. Aku melangkah melewati koridor resort yang sunyi, telingaku menangkap suara gesekan halus yang tidak seharusnya ada di sana. Itu bukan suara angin yang memukul jendela kayu, melainkan suara gesekan kain dan logam yang berasal dari dalam kamar.
Aku berhenti tepat di depan pintu yang sedikit terbuka. Melalui celah sempit itu, aku melihatnya.
Anya Clarissa. Gadis yang semalam mendesah di bawah kukungan tubuhku, kini tengah berlutut di lant** dengan rambut berantakan. Dia tidak lagi tampak seperti putri manja yang haus perhatian. Wajahnya pucat pasi, matanya yang besar dan tajam terpaku pada isi tas taktis yang kusembunyikan di balik lemari pakaian. Tangannya yang mungil gemetar saat ia memegang *burner phone* dan selembar paspor palsu atas nama yang bukan milikku.
Dadaku berdenyut, sebuah sensasi asing yang kucoba tekan kuat-kuat. *Profesionalisme, Liam. Ingat misinya.*
Aku mendorong pintu hingga terbuka lebar. Bunyi engsel yang berderit memecah kesunyian seperti dentuman meriam. Anya tersentak, menjatuhkan ponsel itu ke lant** kayu dengan bunyi *klak* yang keras. Ia mendongak, matanya bertemu dengan mataku. Ada ketakutan di sana, tapi juga ada kilatan kemarahan yang membara.
"Siapa kau sebenarnya?" suaranya bergetar, nyaris berupa bisikan. Ia mencoba berdiri, namun kakinya seolah kehilangan kekuatan. "Ini bukan namamu. Dan foto-foto ini... denah rumah ayahku... apa ini, Liam?"
Aku tidak menjawab. Aku menutup pintu di belakangku dan menguncinya dengan gerakan tenang yang sengaja dibuat untuk mengintimidasi. Setiap langkah yang kuambil ke arahnya terasa seperti pengkhianatan terhadap kehangatan yang kami bagi beberapa jam yang lalu.
"Taruh kembali barang-barang itu, Anya," kataku datar. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiriβdingin, kering, dan tak berperasaan.
"Jawab aku!" teriaknya, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya yang indah. "Semalam... semua itu... apakah itu hanya sandiwara agar kau bisa ma**k ke hidupku? Agar kau bisa mendapatkan akses ke keluarga Clarissa?"
Aku berdiri tepat di depannya, menjulang tinggi hingga bayanganku menelan tubuhnya yang rapuh. "Kau terlalu banyak bertanya untuk seseorang yang baru saja menyadari bahwa dunianya hanyalah gelembung sabun yang siap pecah."
Anya mencoba menerjangku, tangannya terkepal hendak memukul dadaku. Itu adalah gerakan yang ceroboh dan emosional. Dengan refleks yang sudah terlatih selama bertahun-tahun di medan tempur, aku menangkap kedua pergelangan tangannya hanya dengan satu tangan. Aku memuntir tubuhnya dengan halus namun tegas, menekannya ke dinding kayu yang dingin hingga ia membelakangiku.
"Lepaskan aku! Kau ba******, Liam! Aku akan memastikan ayahku menghancurkanmu!" Ia meronta, tubuhnya menggeliat liar di bawah tekanan lenganku.
"Ayahmu adalah alasan kau berada di sini, Anya," bisikku tepat di telinganya. Aroma sampo melatinya masih tertinggal, kontras dengan bau mesiu dan keringat dingin yang mulai muncul dari tubuhku. "Dia berutang pada orang-orang yang salah, dan kau adalah aset paling berharga yang ia miliki."
"Kau menculikku?" tanyanya dengan suara yang pecah. Kesadaran itu menghantamnya lebih keras daripada fisikku. "Semua godaan itu... kau membiarkanku melakukannya agar aku lengah?"
"Aku melakukan tugasku," dustaku. Hatiku memberontak, mengingatkanku pada cara ia mencengkeram punggungku semalam, seolah aku adalah satu-satunya pelindungnya di dunia ini. Tapi emosi adalah penyakit dalam pekerjaan ini, dan aku butuh kesembuhan instan.
Aku melepaskan satu tanganku untuk mengambil gulungan kabel *zip-tie* dari saku celanaku. Anya merasakannya. Ia mencoba menyikut ulu hatiku, namun aku lebih cepat. Aku menjatuhkannya ke tempat tidur, menekan punggungnya dengan lututkuβtidak c**up berat untuk mematahkan tulangnya, tapi c**up untuk menghentikan gerakannya.
"Liam, tolong... jangan lakukan ini," rintihnya. Isakannya mulai terdengar, memenuhi ruangan yang semalam penuh dengan gairah. "Aku mencint**mu... aku pikir kau berbeda."
Kata-kata itu seperti pisau yang mengiris dinding pertahananku. *Jangan dengarkan. Dia hanya memanipulasimu.* Aku menyentakkan kedua tangannya ke belakang punggungnya dan menarik *zip-tie* itu hingga mengunci rapat. Bunyi *krek* plastik yang mengencang menandai berakhirnya kebebasan Anya Clarissa.
"Jangan gunakan kata itu," kataku, suaraku sedikit lebih serak dari sebelumnya. "Kau tidak mengenalku. Pria yang kau cint** semalam tidak pernah ada."
Aku membalikkan tubuhnya agar menghadapku. Wajahnya yang cantik kini sembap, matanya merah karena tangis dan kemarahan. Aku mengambil sepotong kain dari laci dan melilitkannya di mulutnya untuk meredam suaranya. Saat aku mengikat simpul di belakang kepalanya, jariku tanpa sengaja menyentuh kulit lehernya yang halus. Aku tersentak kecil, seolah terkena aliran listrik.
Anya hanya menatapku dengan tatapan kosong, jenis tatapan yang kau berikan pada monster yang baru saja keluar dari kegelapan. Tidak ada lagi godaan, tidak ada lagi keceriaan. Hanya ada lubang hitam pengkhianatan.
Aku berdiri, menjauh dari tempat tidur, dan mengambil radio panggil di pinggangku. Aku menekan tombol *talk* sambil menatap pemandangan pegunungan di luar jendela yang mulai tertutup kabut tebal.
"Viper di sini," kataku ke arah radio. "Target sudah diamankan. Lokasi bersih. Berapa lama lagi kalian sampai?"
Suara statis terdengar sejenak sebelum sebuah suara berat menyahut, *"Lima menit, Viper. Siapkan dia. Helikopter akan mendarat di titik koordinat B."*
Aku mematikan radio. Ruangan itu kembali sunyi, kecuali suara napas Anya yang tersengal di balik sumbat mulutnya. Aku tahu, setelah tim penculik tiba, aku tidak akan bisa lagi melindunginya dengan cara apa pun. Permainan godaan ini telah berakhir, dan sekarang, perburuan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Namun, saat aku melihat satu tetes air mata jatuh dari sudut mata Anya, aku menyadari satu hal yang mengerikan. Aku telah mengikatnya agar ia tidak lari, tapi aku tidak tahu bagaimana cara melepaskan diriku sendiri dari jerat yang ia buat di hatiku.
Di kejauhan, suara baling-baling helikopter mulai membelah kesunyian pagi, seperti detak jantung yang menghitung mundur kehancuran kami berdua.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!