Dingin adalah hal pertama yang menyapa indra perasaku. Bukan dingin yang menyegarkan dari udara pegunungan yang kuhirup kemarin sore, melainkan dingin yang menggigit, merayap dari lant** semen yang lembap dan meresap ke dalam tulang-tulangku. Aku mencoba mengerang, tetapi tenggorokanku terasa seperti baru saja menelan segenggam pasir. Kering dan perih.
Saat aku mencoba menggerakkan tangan untuk menghalau pening yang berdenyut di pelipisku, sebuah sentakan kasar menghentikanku. Pergelangan tanganku tidak bisa bergerak. Aku mencoba lagi, kali ini dengan paksa, namun rasa panas yang tajam segera menjalar di kulitku.
Aku membuka mata perlahan, mengerjap melawan cahaya redup dari sebuah lampu bohlam tunggal yang berayun pelan di langit-langit. Pikiranku masih berkabut, sisa-sisa kehangatan dari malam tadi masih membekas di kulitku. Aku ingat sentuhan itu. Aku ingat napasnya yang memburu di ceruk leherku, bisikan-bisikan rendah yang membuat pertahananku runtuh, dan bagaimana aku merasa, untuk pertama kalinya dalam hidupku, seseorang benar-benar *melihatku*. Bukan sebagai ahli waris Clarissa, melainkan sebagai Anya.
"Liam?" suaraku keluar sebagai bisikan serak yang nyaris tak terdengar.
Mataku mulai terbiasa dengan kegelapan. Aku tidak lagi berada di ranjang empuk resort dengan sprei sutra. Aku terduduk di sebuah kursi kayu tua di tengah ruangan yang berbau apak dan mesiu. Tanganku terikat ke belakang sandaran kursi dengan tali nilon yang kasar, menggigit kulit pergelanganku setiap kali aku bergerak.
"Liam, ini tidak lucu," kataku sedikit lebih keras, mencoba memanggil keberanian yang biasanya meluap-luap dalam diriku. "Kalau ini bagian dari permainanmu, aku mengaku kalah. Sekarang lepaskan aku."
Langkah kaki yang berat dan teratur menggema di lant** beton. Dari balik bayang-bayang di sudut ruangan, sosok itu muncul. Itu dia. Liam Alister.
Namun, pria yang berdiri di depanku sekarang bukan lagi pengawal yang kaku namun penuh perhatian yang kukenal selama sebulan terakhir. Ia mengenakan pakaian taktis hitam, lengkap dengan sabuk perlengkapan dan ekspresi yang begitu kosong hingga membuat bulu kudukku berdiri. Matanya yang biasanya menatapku dengan intensitas yang kusebut sebagai gairah, kini sedingin es di kutub utara.
"Permainan sudah selesai, Anya," suaranya datar, tanpa emosi sedikit pun.
Aku tertawa kecil, suara yang terdengar sumbang di ruangan sunyi itu. "Apa ini? Kamu ingin uang tambahan? Katakan saja berapa. Papa akan memberikan apa pun jika aku memintanya. Tapi tolong, lepaskan tali ini, kulitku lecet."
Liam melangkah mendekat, berhenti tepat di depanku. Ia berlutut, menyamakan tingginya dengan posisiku yang terikat. Untuk sesaat, aku berharap ia akan mengulurkan tangan untuk mengusap pipiku seperti yang ia lakukan beberapa jam lalu. Namun, tangannya justru meraih daguku dengan cengkeraman yang kuat dan tak kenal kompromi.
"Papamu akan memberikan miliaran rupiah, itu benar," katanya pelan, suaranya seperti desisan belati yang diasah. "Tapi bukan karena kamu memintanya. Dia akan membayarnya karena dia tidak punya pilihan lain jika ingin putrinya pulang dalam keadaan utuh."
Jantungku seolah berhenti berdetak. Seluruh kehangatan yang tersisa dari malam tadi menguap, digantikan oleh rasa mual yang hebat. "Apa maksudmu?"
"Tugas saya bukan untuk melindungimu, Anya. Tugas saya adalah membawamu ke tempat yang tidak bisa ditemukan oleh siapa pun sampai tebusannya cair," Liam melepaskan daguku dengan sentakan kecil, seolah-olah menyentuhku adalah hal yang menjijikkan baginya. "Kamu adalah target yang terlalu mudah. Haus perhatian, manja, dan bodohnya lagi... kamu pikir kamu yang sedang memegang kendali."
Setiap katanya terasa seperti tamparan fisik. Aku menatapnya, mencari setitik saja keraguan atau rasa bersalah di matanya yang gelap, namun aku tidak menemukan apa pun. Kosong. Semua godaan yang kulakukan, semua rayuan yang kukira telah meruntuhkan dinding pertahanannya, ternyata hanyalah bagian dari skenarionya untuk membuatku lengah.
"Jadi... malam tadi?" suaraku bergetar, mengkhianati harga diriku yang hancur. "Semua itu... hanya bagian dari tugasmu?"
Liam berdiri, membersihkan debu imajiner di celana taktisnya. Ia bahkan tidak melihatku saat menjawab. "Kamu menginginkan validasi, dan saya memberikannya. Itu adalah cara tercepat untuk membuatmu berhenti bertanya-tanya dan mulai mengikuti setiap langkah saya menuju tempat ini. Seks adalah alat manipulasi yang paling efektif, bukan begitu? Kamu sendiri yang mengajarkannya kepadaku dengan cara kamu berpakaian dan bicaramu setiap hari."
Air mata panas mulai menggenang di mataku, namun aku menolak untuk membiarkannya jatuh. Rasa sakit karena dikhianati jauh lebih tajam daripada rasa perih di pergelangan tanganku. Aku merasa seperti barang rongsokan yang baru saja selesai digunakan dan dibuang ke gudang gelap ini.
"Aku membencimu," desisku dengan seluruh kebencian yang bisa kukumpulkan.
Liam berhenti di ambang pintu besi yang berat. Ia menoleh sedikit, memberikan profil wajahnya yang tajam di bawah cahaya lampu yang temaram. "Bagus. Kebencian akan membuatmu tetap hidup lebih lama daripada rasa cinta yang naif itu."
"Liam!" teriakku saat dia mulai melangkah keluar. "Kamu tidak akan bisa lari dari ini! Papa akan menghancurkanmu!"
Ia tidak membalas. Dentang pintu besi yang tertutup dan suara kunci yang diputar bergema di seluruh ruangan, mengunci suaraku di dalam kesunyian yang mencekam.
Aku ditinggalkan sendirian di kegelapan, terikat pada kursi yang menjadi saksi bisu betapa bodohnya aku. Aku pikir aku adalah predator yang sedang bermain dengan mangsanya, namun ternyata aku hanyalah seekor burung dalam sangkar emas yang dengan sukarela terbang ma**k ke dalam mulut serigala.
Gairah yang membakar semalam kini menjadi abu yang menyesakkan dadaku. Saat air mata pertama akhirnya jatuh membasahi pipiku, aku menyadari satu hal yang lebih mengerikan daripada penculikan ini: meskipun dia telah mengkhianatiku sedalam ini, aroma parfumnya masih tertinggal di bajuku, mengingatkanku pada setiap sentuhan palsu yang sempat membuatku merasa dicint**.
Aku memejamkan mata, mencoba menahan isak tangis yang mulai mengguncang bahuku. Di tengah isolasi ini, aku bersumpah pada diriku sendiri. Jika aku berhasil keluar dari sini hidup-hidup, aku akan memastikan Liam Alister merasakan kehancuran yang jauh lebih hebat daripada yang ia berikan kepadaku saat ini.
Namun, saat aku mendengar langkah kaki lain yang lebih ringan mendekati pintuβlangkah yang bukan milik Liamβaku menyadari bahwa permainannya mungkin jauh lebih besar dan lebih berbahaya daripada sekadar permintaan tebusan. Pintu itu terbuka kembali dengan decitan pelan, dan sebuah bayangan baru ma**k ke dalam ruangan.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!