Dinding kayu kabin yang lembap seolah-olah merapat, menelan oksigen di sekitarku hingga napas terasa sesak. Pergelangan tanganku perih, memerah karena gesekan tali nilon yang kasar setiap kali aku mencoba bergerak. Namun, rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan lubang menganga di dadaku—bekas luka dari pengkhianatan Liam yang masih terasa panas, seperti besi yang baru dicabut dari perapian.
Semalam, dia adalah pelindungku. Semalam, tangannya yang besar dan hangat menelusuri lekuk tubuhku dengan pemujaan yang terasa begitu nyata. Sekarang, aku tahu bahwa setiap desah napasnya adalah kebohongan, dan setiap sentuhannya adalah cara untuk memastikan mangsanya tidak melarikan diri sebelum fajar menyingsing.
Langkah kaki berat terdengar dari balik pintu kayu yang lapuk. Itu bukan langkah Liam. Langkah Liam selalu tenang, berirama, dan penuh perhitungan. Ini lebih serampangan, disert** suara dengusan napas yang kasar.
Pintu terbuka dengan derit memilukan. Seorang pria berambut cepak dengan bekas luka melintang di dagunya ma**k membawa nampan plastik berisi roti keras dan air mineral. Raka—begitu aku mendengar Liam memanggilnya tadi pagi. Dia adalah salah satu dari "rekan" Liam, atau mungkin lebih tepatnya, sesama predator.
Aku mengatur napas, memaksa air mata menggenang di sudut mataku. Aku harus menggunakan satu-satunya senjata yang kupunya: kerentananku.
"Raka..." suaraku serak, bergetar dengan nada yang c**up untuk memicu naluri pelindung pria mana pun, atau setidaknya ego mereka.
Pria itu berhenti, menatapku dengan mata kecil yang penuh curiga. "Makan. Jangan banyak bicara kalau mau selamat."
Aku tidak menyentuh makanan itu. Alih-alih, aku sengaja membiarkan bahuku merosot, membiarkan tali gaun sutraku yang sudah kusut meluncur turun sedikit, memperlihatkan kulit bahuku yang pucat dan gemetar. Aku menatapnya dengan pandangan hancur, seolah-olah dia adalah satu-satunya harapan yang tersisa di dunia ini.
"Liam... dia akan membunuhku, kan?" bisikku. Aku membiarkan satu tetes air mata jatuh perlahan melewati pipiku. "Dia memberitahuku apa yang akan terjadi setelah tebusan itu dibayar. Aku tahu aku tidak akan pernah pulang."
Raka mendengus, tapi langkahnya tidak segera beranjak. Matanya mulai menyapu tubuhku, dari ujung kaki hingga berhenti lama di leherku yang berkeringat. "Bukan urusanku. Aku cuma menjalankan perintah."
"Kau tahu dia tidak akan membagi uang itu secara adil, kan?" Aku menyuntikkan racun keraguan ke dalam suaraku. Aku harus bermain cantik. "Liam itu egois. Dia sudah merencanakan ini sejak lama. Dia tidak butuh saksi, terma**k teman-temannya sendiri."
Raka mengerutkan kening, tangannya yang memegang pinggiran meja kayu tampak mengencang. "Jangan coba-coba mengha**tku, Nona Manja."
"Aku tidak mengha**t," aku bergerak sedikit lebih dekat, mengabaikan rasa perih di pergelangan tanganku saat tali itu menyentak kulitku. "Ayahku punya akun rahasia di Swiss. Hanya aku yang tahu kodenya. Liam tidak tahu tentang itu. Jika kau membantuku keluar dari sini, aku bisa memberimu sepuluh kali lipat dari apa yang Liam janjikan padamu. Kau bisa pergi ke mana saja. Kau tidak perlu menjadi bawahan Liam selamanya."
Aku bisa melihat kilatan keserakahan di matanya. Sifat dasar manusia selalu bisa diprediksi: uang dan nafsu. Raka berjalan mendekat, kini jarak kami hanya selangkah. Bau rokok murah dan keringat yang menyengat menyerang indra penciumanku, membuatku ingin muntah, tapi aku tetap memasang wajah memelas yang menggoda.
"Sepuluh kali lipat?" suaranya merendah, parau.
"Lebih," bisikku, mencondongkan tubuh ke depan. "Buka tali ini, Raka. Biarkan aku menunjukkan padamu bahwa aku jauh lebih berharga daripada sekadar sandera."
Dia ragu sejenak, lalu tangannya yang kasar meraih daguku, memaksaku mendongak. Jempolnya yang kapalan mengusap bibir bawahku dengan kasar. Rasa jijik merayap di tulang belakangku seperti kecoa, tapi aku memaksakan sebuah senyum tipis yang provokatif.
Raka merogoh saku belakangnya, mengeluarkan sebilah pisau lipat. Jantungku berdegup kencang, menghantam rusukku. *Berhasil. Aku akan keluar dari sini.*
Dia mulai memotong tali di tanganku. Begitu serat nilon terakhir terputus, aku merasakan aliran darah kembali ke jemariku. Aku bersiap untuk menyerangnya dengan nampan plastik atau apa pun yang bisa kujangkau begitu dia lengah.
Namun, saat tali itu terlepas, Raka tidak mundur. Sebaliknya, dia tiba-tiba mencengkeram rahangku dengan kekuatan yang mengejutkan, hingga aku m****ik kesakitan.
"Kau pikir aku bodoh, Anya?" suaranya tiba-tiba berubah dingin, penuh kebencian yang tidak terduga. "Liam sudah memperingatkanku tentang lidahmu yang berbisa. Kau pikir kau bisa membeli kesetiaanku dengan janji-janji kosong?"
"Raka, aku... aku serius—"
*PLAK!*
Tamparan keras mendarat di pipiku, membuat kepalaku terhentak ke samping. Rasa panas menjalar seketika, dan rasa asin darah mulai memenuhi mulutku. Pandanganku berkunang-kunang.
"Kau hanyalah barang dagangan," bentak Raka. Dia merenggut kerah gaunku, menarikku hingga berdiri tegak dengan kasar. "Dan barang dagangan yang terlalu banyak bicara perlu diberi pelajaran agar tahu tempatnya."
Dia mendorongku kembali ke lant** dengan kekuatan penuh. Kepalaku menghantam kaki tempat tidur yang keras. Sebelum aku sempat memulihkan kesadaran, dia sudah berada di atasku, menekan lututnya ke perutku hingga aku kesulitan bernapas. Tangannya yang besar menjambak rambutku, memaksaku menatap wajahnya yang kini penuh dengan seringai jahat yang mengerikan.
"Karena kau sudah mencoba menyuapku, mungkin aku harus mengambil 'bayaran di muka' sebelum Liam kembali," bisiknya di telingaku, sementara tangannya yang bebas mulai merobek paksa bagian atas gaunku.
Aku meronta, memukul dadanya dengan tanganku yang baru saja bebas, tapi dia terlalu kuat. Di tengah keputusasaan itu, aku berteriak sekuat tenaga, berharap seseorang—bahkan jika itu adalah Liam sang pengkhianat—akan muncul. Namun, yang kudengar hanyalah suara tawa kasar Raka dan deru angin pegunungan yang seolah menertawakan kebodohanku.
Tepat saat tangan Raka mencekik leherku untuk membungkam teriakanku, pintu kabin terbanting terbuka dengan dentuman yang menggetarkan seluruh ruangan. Sesosok bayangan berdiri di sana, gelap dan mengancam di bawah cahaya rembulan yang ma**k.
"Raka," suara dingin yang sangat kukenal itu memecah kesunyian, lebih tajam dari pisau mana pun. "Lepaskan tanganmu darinya, atau kau tidak akan pernah bisa menggunakan tangan itu lagi."
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!